Terjebak Kawin Kontrak dengan Tuan Muda Arab

Terjebak Kawin Kontrak dengan Tuan Muda Arab
Senja Di Gunung Pancar


__ADS_3

Di hari pertama aku bekerja ini, aku diminta memasak masakan has Indonesia. Kali ini aku memasak rendang sapi dan nasi putih.


"Ya Maymunah, kesini kamu!" Dari dalam ruang tamu, terdengar Sultan memanggilku, tentunya dengan bahasa arab Saudi.


Akupun segera bergegas menghampiri.


"Kamu sudah selesai masak, kan?. Kalau sudah, ayo cepat mandi. Nanti siapkan makanan dalam wadah, dan siapkan alat piknik juga, kita akan piknik ke kebun teh di kampung sebelah" Titahnya panjang kali lebar.


" Piknik, kita berdua? Tapi..." Aku bertanya dengan mengulang kalimat yang ia ucapkan.


"Jangan membantah, ayo cepat mandi!" Dia menitahku lagi.


Aku jadi kebingungan, tapi akhirnya aku menurut.


Aku bergegas mandi dan berganti pakaian.


Kali ini aku memakai gamis hitam mirip abaya, tapi ku padu dengan hijab warna krem.


Aku segera menyiapkan peralatan piknik di ruang tamu.


Setelah selesai, aku duduk menunggu Sultan keluar kamar.


"Maymunah, ha-ha-ha kamu kenapa pakai abaya segala, ini Indonesia, bukan Saudi, jadi kamu bebas mau pakai apa, gak harus pakai abaya kek gitu" Ucap Sultan sambil menertawakanku.



Dadaku bergemuruh mendengar ucapan orang ini.


"Dia ini kan muslim, tapi kenapa sama sekali tak faham bahwa menutup aurat bukan hanya kewajiban orang arab , tapi kewajiban muslimah di seluruh Dunia."Ucapku membatin.


"Maaf tuan Sultan, saya berpakaian begini bukan hari ini saja, tapi sudah sejak lama, sejak saya mengetahui bahwa menutup aurat itu wajib. Lagi pula, menutup aurat itu bukan kebiasaan suatu negara, tapi merupakan kewajiban bagi setiap wanita muslimah. "Sergahku membela diri.


"Hmm, ya udah, sekarang bawa barang-barang ini ke mobil," Titah laki-laki tegap itu padaku.


Akupun segera menuruti perintahnya.


" Lah, ini kan tenda buat kemah, emang dia mau kemana ya?" Tanyaku dalam hati.


"Kenapa bengong, ayo masukin tendanya ke Bagasi."


Aku menurutinya, setelah selesai, dia bergegas masuk ke mobil.


"Tuan, kenapa bawa tenda segala macem?" Tanyaku sambil memasukkan tenda dan alat lainnya ke bagasi.


" Ya buat piknik lah, aku rencananya mau berkemah di Gunung Pancar, kamu udah pernah ke sana belum?"


"Belum, apa kita akan berkemah berdua saja?" Tanyaku ingin memastikan.


Bukannya menjawab pertanyaanku, dia malah tersenyum dan menyuruhku masuk ke mobil.


"Naiklah, jangan banyak tanya" Titahnya padaku.

__ADS_1


Dia benar-benar membuatku kesal dan takut.


"Menyebalkan tuh orang. Gimana ini, apa aku harus ikut dia, atau aku kabur aja ya..? Tapi, kalau aku kabur, aku gak akan bisa pulang, aku kan gak punya uang buat ongkos. Akhhh gimana ini? " Aku terus menggerutu dalam hati.


Aku mengembuskan nafasku, kasar.


"Maymunah, kenapa belum naik?"


Sultan berteriak dari dalam mobil.


"Saya mau duduk di depan" Jawabku seraya membuka pintu mobil dan langsung duduk di samping pak supir.


Mobil melaju menembus jalanan kota Bogor. Setelah beberapa menit, kami pun sampai di gunung Pancar.


Pohon-pohon pinus yang menjulang tinggi mendominasi area wisata ini.


Sultan menyuruh supir membawa kami mencari tempat yang biasanya dijadikan tempat berkemah.


" Ayo turun !, turunkan juga barang barang ini" Titah Sultan padaku.


Aku mencebik kesal.


" Akhh menyebalkan ni orang. Dia itu cowok tapi gak peka, masa dia nyuruh aku menurunkan barang-barang ini sendirian" Omelku sambil menurunkan barang-barang Sultan.


" Kamu kenapa, gak suka ya, saya suruh menurunkan barang?" Dia bertanya lagi.


" Mmm, gak sih, cuma ..kan berat dan banyak barangnya, masa saya sendirian sih?"


Setelah selesai, Sultan mengajakku memasang kemah.


Aku membantu sebisaku. Dari sudut mataku, aku mencoba melirik ke wajahnya, mengamati setiap gerak geriknya.


Dalam keadaan seperti ini, aku jadi membayangkan, andai saja yang bersamaku sekarang ini adalah suamiku..


Setelah selesai membuat kemah, aku meninggalkan Sultan sendirian di kemah.


Aku berjalan menelusuri jalan setapak, dari kejauhan terdengar suara gemuruh air terjun.


Aku mempercepat langkahku menuju sumber suara itu.


Benar saja, di depanku kini terlihat air terjun yang sangat indah.


Cukup lama aku memandang air yang bergemuruh dan terjun bebas ke kolam jernih itu.



" Kamu suka dengan air terjun?" Suara bariton yang ku kenali itu membuyarkan lamunanku.


Aku melirik ke sampingku, ternyata memang benar, Sultanlah yang berdiri di sampingku.


Laki laki berjenggot tipis itu berdiri menghadapku, sekilas ku lihat ia tersenyum padaku, sontak membuatku tersipu dan langsung memalingkan mukaku.

__ADS_1


"Kau belum menjawab pertanyaanku, apa kau suka air terjun?" Sultan mengulang pertanyaannya.


" Iya, aku suka semua pemandangan alam," Jawabku seraya mengedarkan pandanganku ke arah air terjun.


" Bagus, aku juga suka. Sekarang kita kembali ke tenda dulu. Nanti kita akan menyalakan api unggun"


"Memangnya kita berdua akan menginap di sini?"


"Gak berdua, sebentar pagi teman-temanku datang, mereka juga mau berkemah di sini. Temanmu juga nanti datang"


Ujarnya sambil melangkah menuju tempat kami berkemah.


Hatiku benar benar lega, mendengar bahwa Afina juga akan datang kesini.


Itu artinya aku tak akan berdua saja dengan Sultan.


Hari mulai gelap, sang mentari mulai terlihat menguning, pancaran sinar keemasannya menembus di cela cela rimbunnya pohon pinus.


"Mana mereka, ini kemahnya udah pada terpasang, tapi gak ada orang?" Tanyaku ketika kami sampai di tempat kami berkemah.


Ternyata bukan cuma kemah sultan yang terpasang di sini, tapi juga ada 3 buah kemah lainnya.


"Mereka masih di jalan. Sambil menunggu mereka, kita ke sana yu..di sana matahari senja akan terlihat dengan jelas. Kamu suka pemandangan senja kan?" Ucapnya dengan senyum mengembang.


Aku melonjak kegirangan mendengar ajakannya.


"Benarkah? Kalau gitu, ayo kita kesana." Tanpa pikir panjang lagi, aku segera berjalan menuju tempat yang di maksud Sultan.


Benar saja, di tempat kami berdiri sekarang, terlihat dengan jelas mentari senja dengan sinar ke emasannya.


Entah kenapa,bulir bening tiba tiba menetes deras ke pipi, rasa haru yang membuncah membuat air bening itu keluar dengan sendirinya.


Menikmati senja di sebuah hutan adalah impianku dari kecil.


Kami berdua berdiri mematung memandangi mentari yang sedikit demi sedikit menghilang seperti di telan bumi.


"Mr. Sultan, Mae, kesini..kami udah nyampe" Teriak seorang wanita dari arah kemah.


Ternyata wanita itu adalah Afina.


Kami berduapun segera bergegas menghampiri.


Afina datang bersama tiga orang teman Sultan, dan dua orang teman wanita lainnya.


"Wow, jadi ini teman wanitamu, Sultan? Masih muda ďan sangat cantik " Ujar salah satu teman Sultan sambil memandang ke arahku dengan pandangan aneh.


"Ya dong, teman Afina, gitu loh..perlu kamu tau Sultan,teman saya yang satu ini masih tingting, iya kan May?"


Wajahku seketika menjadi panas, mendengar perkataan Afina itu.


Kalau andainya bukan malam, pasti terlihat jelas betapa merahnya wajahku.

__ADS_1


__ADS_2