
Dengan cekatan, Maymunah berusaha untuk memasak makanan yang dipesan oleh mertuanya.
Meski ia hanya dianggap sebagai pembantu di situ, ia tetap mengerjakan pekerjaannya dengan penuh keikhlasan.
Sementara Sultan terlihat mondar-mandir di kamarnya, ia tidak tega melihat istrinya bekerja keras, memasak untuk orang banyak, tapi ia tak tau harus bagaimana.
"Ah itu Susi, aku ada ide" Sultan segera memanggil Susi yang baru keluar dari kamar mandi.
Sultan menyodorkan uang seratus riyal, hingga membuat Susi terlonjal kaget.
"Ini buat buat apa?" Tanya Susi.
"Aku mau kau melakukan sesuatu untukku. Bantu Maymunah memasak, dan tolong jangan banyak bicara. Kamu jangan bilang ke Maymunah kalau aku pernah ada hubungan dengan Lilis"
"Baiklah, aku akan bantu Maymunah masak, tapi soal Lilis aku gak jamin, karena kemungkinan Lilis sendiri akan cerita pada Maymunah. Ya udah, saya permisi " Susi segera undur diri, meninggalkan Sultan yang masih kebingungan di kamarnya.
Di dapur, Maymunah kini telah selesai membuat Fatair dan kue yang lain.
"Wah, Masya Allah, kamu sudah selesai membuat kue dan cemilan ini, gimana dengan nasinya?" Tanya Ummi Fathmah, Ia terkagum - kagum melihat hasil masakan Maymunah.
"Dagingnya sudah direbus, dan sekarang sedang dipanggang dalam oven, tinggal masak nasinya" Jawab Maymunah dengan senyum mengembang.
Ummi Fathmah manggut-manggut sambil tersenyum puas.
"Toyib, nanti kita lihat hasilnya." Setelah ia selesai memeriksa masakan Maymunah, Ummi Fathmah segera kembali ke kamarnya.
"Awal yang baik, semoga saja dia akan menerima masakanku" Gumam Maymunah sambil memandang kearah mertuanya yang berlalu meninggalkan dapur.
"Mae, kamu hebat sekali, biasanya Ummi Fathmah selalu cerewet dan ngomel melihat masakan pembantu, tapi dia kagum sama masakan kamu" Ujar Susi yang ada di samping Maymunah.
"Halah, jangan senang dulu, kali aja dia cuma lagi ngolo, namanya juga kamu baru" Sahut Lilis ketus membuat Susi mencebik, sementara Maymunah hanya tersenyum tak menjawab apapun.
"Assalamualaikum" Suara bariton itu mengagetkan semua yang ada di dapur.
Susi dan Lilis yang tau itu suara siapa segera menarik Maymunah agar keluar dapur.
"Mae, ayo pergi dari sini! ada Wasim" Ajak Susi sambil menarik tangan Maymunah. Maymunah yang masih keheranan hanya bisa menuruti mereka.
Wasim yang berdiri di pinggir pintu dapur bagian dalam segera masuk ke dapur.
Wasim memang tak pernah mau melihat wajah perempuan yang bukan mahramnya.
Alisnya mengernyit saat melihat dengan sekilas sosok wanita yang tadi ada di dapur.
"Maymunah, kenapa dia di sini?" Ia bergumam sendiri.
Setelah selesai minum, ia segera bergegas menemui adiknya.
__ADS_1
"Sultan, Sultan, Ta'al" (Sultan, kesini) panggulnya pada adiknya.
Ia menyeret tangan adiknya dan memasukkannya ke dalam kamarnya.
"Tadi aku mendengar di dapur ada Maymunah, apa itu Maymunah istrimu?" Tanya Wasim setelah berada di kamar.
Sultan hanya mampu menjawab dengan anggukannya.
"Sultan, kalau kamu belum mampu berterus terang pada mama, harusnya kamu gak membawa dia kesini sebagai pembantu. Kamu jangan jadi laki-laki dzolim, Sultan "Bentak Wasim.
"Dia yang nekat ke sini, dia bilang dia ingin berusaha menaklukkan hati mama"
Jawab Sultan.
"Ya sudah kalau begitu kamu jangan dekat-dekat dia selama di sini. Jangan sampai dia dikira sebagai wanita penggoda karena dekat denganmu"
Hari kini berganti malam, Maymunah yang sudah selesai masak, segera membereskan dapur dan setelahnya ia segera mandi dan berganti baju.
Tak berapa lama, tamu yang ditunggu pun telah tiba. Sultan dan keluarganya segera bergegas menyambut mereka.
Para tamu laki-laki dibawa ke ruang tamu khusus laki-laki, sedangkan para tamu perempuan dipersilahkan memasuki ruang keluarga.
"Apa kabar Sumayya? kamu terlihat sangat cantik sekali" Sapa Ummi Fathmah pada gadis cantik yang akan ia jodohkan dengan Sultan.
"Alhamdulillah baik, ya Ammah" Jawab Summayyah lembut.
"Ayo silahkan duduk dan dicicipi hidangannya" Seru Ibtisam mempersilahkan tamu mereka.
"Fatairnya sangat enak, kalian beli di restaurant mana?"
" Oh, bukan..ini adalah masakan pembantu baru kami, nanti kami panggilkan" Ujar Syifa seraya bergegas pergi ke dapur untuk memanggil Maymunah.
"Maymunah, ayo sini! ada tamu yang ingin bicara denganmu" Seru Syifa saat berada di dapur.
Dengan senyum terpaksa, Maymunah mengikuti langkah Syifa menuju ruang keluarga.
"Iñi pembantu baru kami yang memasak semua ini" Ujar Ragad dan Syifa. Ia memperkenalkan Maymunah sebagai pembantu pada semua yang hadir.
Ada rasa perih yang luar biasa mendera qalbunya, saat ia sampai di hadapan mereka dan dikenalkan sebagai pembantu.
"Wah, kamu pandai sekali masak, selain itu kamu sangat cantik" Ujar Summayyah sambil tersenyum ramah.
"Maymunah, kenalkan! ini Summayyah calonnya Sultan, dan ini Gaida, calonnya Wasim" Sahut Ummu Fathmah memperkenalkan calon menantunya pada Maymunah.
Deg..
Dengan senyum miris, Maymunah menyalami Summayyah, yang disambut dengan senyum ramah oleh Summayyah. Beda dengan Gaida yang cuma melirik sekilas, memperlihatkan keangkuhannya.
"Masha Allah, calonnya Sultan sangat cantik, dia juga terlihat sangat ramah. Apa aku akan mampu bersaing dengannya?" Tanya Maymunah pada dirinya sendiri.
Setelah berkenalan, ia pun undur diri menuju dapur.
__ADS_1
Ia terduduk lemas di kursi dengan berurai airmata.
"Maymunah, kamu kenapa?" Tanya Lilis yang merasa heran dengan sikap Maymunah.
Maymunah segera mengusap air matanya.
"Gak apa apa, cuma inget keluarga di kampung" Jawab Maymunah sedikit berbohong.
"Eh Mae, tunangan Sultan cantik gak?"
Alis Maymunah mengernyit mendengar pertanyaan Lilis yang tiba-tiba bertanya tentang tunangan Sultan.
"Iya, dia sangat cantik, emangnya kenapa?"
"Gak apa apa, cuma heran aja dengan sikap Sultan, dia berubah setelah ia pulang dari Indonesia, biasanya Sultan kalau habis dari sana selalu cerita tentang perempuan di sana. Kata Sultan, cewek Indonesia itu enak dipakai" Cerocos Lilis .
"Dipakai? maksudnya gimana?"
" Akhh kamu ini, pura-pura lugu aja.
Kamu kesini sama Sultan, kan? aku yakin, dia juga ngerayu kamu, aku tau bagimana si Sultan itu. Dia itu selalu gelamitan kalau lihat cewek cantik. Jadi Mustahil dia gak rayu kamu" Lilis terus saja berbicara panjang lebar.
Ia sebenarnya ingin memancing Maymunah agar mengakui bahwa dia ada hubungan dengan Sultan.
"Maaf, aku gak faham maksud kamu" Jawab Maymunah berusaha menghindar.
"Halah, kamu jangan pura-pura, apa kamu pernah dibawa ke apartemennya? aku dulu pernah dibawa kesitu, saat pertama kami baru berhubungan " Ujar Lilis.
Deg..
Jantung Maymunah terasa ngilu mendengar perkataan Lilis, temannya itu.
"Apa kamu pernah tidur dengan Sultan?" Tanyanya lirih.
"Bukan hanya pernah, tapi sering. Kami sering berhubungan di apartemennya, tapi pernah kepergok Wasim, untung dia gak tau bahwa aku pembantu baba Muhammad. Setelah kejadian itu Wasim marah, dan dia memutuskan untuk tinggal di apartemen Sultan karena dia ingin mengawasi Sultan" Tutur Lilis sambìl memakan cemilannya.
Ia tak melihat kearah Maymunah yang kini terduduk lemas bagai seonggok daging tak bertulang.
Bulir bening itu akhirnya menetes lagi, ia sungguh tak menyangka bahwa suaminya separah itu.
"Ya Allah, bukankah engkau berkata dalam Alquran, bahwa seorang pezina akan dipasangkan dengan pezina, lalu kenapa hamba dipasangkan dengan Sultan? .
Rasanya, seumur hamba sampai hamba menikah dengannya, hamba tak pernah melakukan hal terkutuk itu ya Allah..lalu kenapa hamba dipasangkan dengannya Ya Robby?
Ya Allah, hamba tak bermaksud protes, tapi hamba hanya bingung dengan semua ini.
Haruskah hamba meneruskan pernikahan ini, apa itu tak akan berakibat buruk pada keturunan kami nantinya ya Allah?" Rintih Maymunah dalam hatinya.
Hatinya teramat sangat hancur ketika menyadari tentang siapa Sultan.
*****
__ADS_1
Hai Readers, mohon kritik dan sarannya ya😍😍