Terjebak Kawin Kontrak dengan Tuan Muda Arab

Terjebak Kawin Kontrak dengan Tuan Muda Arab
Nasehat kakak Ipar


__ADS_3

Maymunah masih mematung saat mertua dan iparnya sudah pergi.


Hatinya mencelos membayangkan Sultan akan menikah dengan Sumayya.


Setiap perempuan pastinya akan terluka dan tersiksa , ketika melihat suaminya bersanding dengan wanita lain.


Adalah bohong, jika ada seorang perempuan yang tidak merasa cemburu ketika suaminya bersanding dengan wanita lain.


Cemburu adalah hal yang lumrah dan qodrati dimiliki oleh setiap orang yang mencintai pasangannya.


Maymunah masih terus melamun, sampai-sampai ia tak sadar kalau Sultan sudah berada di dekatnya dan segera memeluknya dari belakang.


"Sayang, aku kangen," bisiknya di telinga Maymunah, membuat Maymunah terlonjak kaget.


"Astagfirullah, Sultan! kamu ngagetin orang aja!" teriaknya sambil memukuli Sultan hingga membuat Sultan terbahak.


"Haha, maaf sayang, habisnya aku lihat kamu melamun terus dari tadi. Padahal aku udah menyapamu dan mengucapkan salam."


"Yang benar saja, emang kamu tadi mengucapkan salam?"


Sultan mengangguk sambil tersenyum.


"Akhh, Ya Allah, berarti tadi aku melamunnya jauh banget, ya?"


"Emang lagi mikirin apa?" tanya Sultan.


Tiba-tiba wajah Maymunah berubah muram lagi.


"Tadi Ibu dan saudara kamu kesini," jawabnya lesu.


Sultan melihat kearah istrinya.


"Apa mereka bicara macam-macam?"


"Gak macam-macam sih, mereka cuma menginginkan satu macam, cuma pengen kita cerai dan kamu nikah dengan Sumayya."


Hati Sultan mencelos mendengar perkataan istrinya. Ia mendekat dan memeluk kembali Maymunah .


"Maafin mereka ya, sayang! Oh ya, nanti malam saudara laki-laki aku mau kesini, mau bicara pada kita."


"Kalau begitu kita siapin makanan dari sekarang, ya?"


"Gak usah, nanti aku beli dari luar aja. Sekarang aku pengen makan siang, ayo makan!"


*****


Malam telah tiba, setelah selesai salat Magrib, Maymunah menyiapkan makanan ringan dan Gahwah untuk menjamu Kakak iparnya.


Setelah selesai, dia bergegas kembali ke dalam kamar.


Setelah beberapa menit, Wasim, Muhammad dan Ahmad pun datang.


Sultan menyambut kedatangan mereka dengan gembira.


"Ahlen Ya Ahbabi, silahkan duduk!" sambut Sultan sambil bersalaman dan mempersilahkan mereka masuk.


"Mana istrimu?" tanya Ahmad, membuat Sultan menoleh dan melotot.


"Ada, emangnya kamu mau apa nanyain dia?" jawab Sultan sewot.


"Ckck, segitu saja cemburu, orang kami ke sini ingin berbicara padanya juga," jawab Ahmad meledek kakaknya.


"Benar Sultan, ajak saja dia kemari, kami juga akan berbicara dengannya," sahut Muhammad menengahi perdebatan antara Ahmad dan Sultan.


Ahmad dan Sultan memang seperti Tom and Jery, di manapun mereka bertemu, pasti selalu bertengkar. Tapi walaupun begitu, Ahmad sebenarnya sangat menghormati Sultan.

__ADS_1


"Baiklah, sekarang aku panggil dia."


Sultan segera bergegas ke kamar menemui istrinya.


"Sayang, mereka sudah datang. Mereka juga mau bicara denganmu. Kamu pake abaya sama niqob, ya!" seru Sultan setelah berada dalam kamar.


Maymunah menuruti Sultan, ia memakai abaya dan niqobnya.


"Assalamualaikum," sapanya setelah berada di depan ipar2nya.


"Wa alaikum salam warohmatulloh wabarokatuh," jawab mereka bertiga serempak.


Wasim dan Muhammad hanya menjawab salam, tapi Ahmad malah berdiri ingin mènyalami Kakak iparnya.


"Ahlen Ya Maymunah , kef halik?" Sapa Ahmad seraya mengulurkan tangannya, sementara Maymunah hanya mengangguk.


Sultan yang melihat tingkah adiknya itu segera mendekat dan menepuk tangan Ahmad


.


Plak


"Mau apa kamu? Yang sopan sedikit sama perempuan!" ujarnya setelah memukul tangan adiknya.


"Aih kapan aku tidak sopan, aku cuma ingin menyalami, itu kan hal lumrah, di Indonesia juga seperti itu, kan?" jawab Ahmad tak mau kalah.


"Ya, kamu benar. Sebagian orang memang menganggap salaman antar laki-laki dan perempuan itu adalah hal lumrah, entah apa alasan mereka.


Tapi, bukankah dalam ajaran islam itu adalah hal yang diharamkan? Karena Rosululloh sendiri mengatakan " Ana la usofihu nisa" ( saya tidak bersalaman dengan perempuan (bukan mahram)), Maka sebagai ummatnya saya hanya ingin meneladani. Itu saja," tutur Maymunah lembut.


Ahmad malah nyengir kuda, karena sesungguhnya dia hanya ingin mengerjai kakaknya Sultan dan membuatnya cemburu.


"Eh, diomongin malah nyengir, kamu. Ayo duduk!" Sultan mulai sewot lagi.


Wasim dan Muhammad hanya bisa menggelengkan kepala mereka melihat tingkah Ahmad dan Sultan.


"Ahmad, sudah cukup! Jangan bercanda begitu lagi. Bagaimana pun sekarang Maymunah adalah kakak iparmu, jadi kamu harus menghormati dia" Ujar Muhammad tegas.


Ahmad cuma mengangguk malas.


"Baiklah, karena kamu sudah hadir, kami akan langsung bicara lada intinya saja," ujar Muhammad pada Maymunah.


Maymunah pun mempersilahkan.


"Kami kesini hanya ingin memohon pada kalian agar tetap mau memenuhi permintaan ibu kami yaitu Sultan harus tetap menikah dengan Sumayya." Muhammad mulai bicara lagi.


Deg..


Jantung Maymunah terasa dipacu dengan cepat mendengar perkataan iparnya itu.


"Tapi Muhammad, aku ini kan, sudah menikah. Dan aku rasanya gak sanggup poligami," tegas Sultan.


"Lalu bagaimana dengan Ibu? Apa kamu tidak memikirkan Ibu kita Sultan? beliau sudah merancang semua untukmu. Aku tau beliau memang pemaksa, tapi kamu juga salah. Kenapa kamu tidak dari awal mengatakan pada kami kalau Maymunah istrimu?"


"Kalau kamu mengatakan dari awal, maka aku tidak akan mengikuti kemauan Ibu, aku pasti akan memohon pada Ibu agar merestui kalian dan mengurungkan niatnya menjodohkanmu dengan Sumayya."


"Tapi karena kepengecutanmu, kau mengorbankan perasaan tiga wanita sekaligus. Karena kepengecutanmu ini, kau akan melukai hati Ibu, hati istrimu ini dan hati Sumayya dan keluarga nya.


Apa kau tidak berfikir sejauh itu Sultan?"


Muhammad berbicara dengan berapi-api. Laki-laki yang biasa diam itu kini mengeluarkan semua unek-uneknya.


Sultan terhenyak seketika, bagai ada palu yang menghantam dadanya. Ucapan kakaknya itu sepenuhnya benar. Andai dia tidak pengecut, dia pasti sudah menjadikan Maymunah sebagai istri sahnya tanpa melukai ibunya.


Tapi kini semua sudah terlanjur parah. Kalau dia menolak, maka dia akan melukai ibunya dan Sumayya, dia juga akan mempermalukan dua keluarga besar yang sudah mempersiapkan pernikahannya sejak dua bulan lalu dan aqadnya pun akan dilangsungkan besok.

__ADS_1


Tapi, jika dia melanjutkan pernikahan, dia akan mengorbankan perasan Maymunah lagi.


Lagi dan lagi, Maymunah yang harus berkorban untuk menutupi kesalahannya.


Sultan melirik ke arah istrinya yang sejak tadi menunduk.


Remuk redam perasaanya melihat istrinya yang duduk tertunduk, dengan bahu berguncang. Meski tak bersuara, dia tau pasti bahwa istrinya itu kini sedang menangis.


"Sayang, maafkan aku! Apa kali ini aku juga harus mengorbankan perasaanmu? Ya Allah, betapa besarnya dosaku pada istriku ini.." gumamnya dalam hatinya. Airmatanya menetes begitu saja.


"Sultan kenapa kamu diam?" tanya Wasim.


Sultan mendongak dengan wajah penuh air mata.


" Aku tidak bermaksud melukai Ibu, Kak,


tapi apa aku harus menyakiti istriku lagi?. Perlu kakak tau, sejak pertama kami bertemu, sampai detik ini aku hanya memberikan luka padanya," jawab Sultan lirih.


"Aku yang memaksa dia agar menikah denganku, aku memberinya pilihan antara masuk penjara atau menikah denganku, dan saat sudah menikah, aku tak mampu membawanya kerumah Ibu. Aku sempat menitipkan dia dirumah temanku dan hampir saja dia kehilangan kehormatannya karena aku.


Dan setelah aku membawanya kerumah Ibu, aku malah membawanya sebagai pembantu dan aku, aku sudah menyebabkan dia dihina dan diusir oleh Ibu. Aku juga belum mampu memberinya seratus resmi sebagai istri secara hukum.


Lalu, apa sekarang aku harus melukainya lagi, Kak?" tanya Sultan dengan berurai air mata.


"La haula wala quwwata illa billah " jawab ketiga saudara laki-lakinya itu serempak.


"Astagfirullah, kenapa kamu pengecut begitu, Sultan?" teriak Ahmad lantang.


"Maafkan Kakak juga Maymunah, karena kakak tak memberi tau ibu , padahal kakak tau hubungan kalian," ungkap Wasim sambil menunduk.


Maymunah yang sejak tadi diam saja, hanya air mata yang mengalir deras dari pipinya.


Setelah ia menguatkan hatinya, ia mendongak dan mulai bicara.


"Apa kalian bisa menjamin, saya akan diperlakukan dengan adil, jika saya menerima dipoligami?" tanyanya tiba -tiba, membuat semua yang ada di situ menoleh.


"Kalau soal materi, In sha Allah kami bisa menjamin, tapi kalau perasaan dan perlakuan itu tergantung Sultan," hawab Muhammad.


Sultan hanya menunduk.


"Apa pernikahan kami bisa diresmikan nantinya? Saya hanya butuh kepastian tentang setatus hukum anak saya nanti. Karena saya hanya ingin anak saya mendapat haknya baik itu secara hukum maupun secara materi. Selain itu dia juga butuh pengakuan dan kasih sayang kalian nantinya. Apa kalian sanggup memberi semua itu?" tanya Maymunah dengan suara lembut tapi terdengar tegas dan berwibawa.


Ia tak lagi memikirkan betapa hancurnya hatinya saat ini, ia hanya ingin anaknya mendapatkan haknya, ia juga tak mau ibu dan adik-adiknya menderita kalau sampai ia bercerai dan pulang, itu pasti akan melukai ibunya.


Ibunya pasti akan terluka melihat ia terpuruk.


Karena itu dia akan melakukan apapun agar anak dan juga ibunya bahagia.


"Itu sudah tentu, Maymunah. Kami pasti akan memperlakukan anak kalian seperti anak kami juga," jawab Muhammad lagi.


"Baiklah, aku akan mengizinkan Sultan menikah dengan Sumayya, karena aku tak mau dia durhaka pada ibunya. Tapi aku juga harus memastikan bahwa aku dan anakku akan mendapat hak yang sama seperti istri kalian juga.


Aku ingin pernihakanku diresmikan dan diketahui oleh kerabat kalian lainnya. Besok, perkenalkan aku sebagai istri pertama Sultan. Apa kalian bisa?" Maymunah bertanya lagi.


"In sha Allah , itu pasti bisa. Sultan, besok kamu bawa istrimu dan kenalkan pada semua kerabat kita!" titah Wasim.


"Baiklah, tapi apa kamu sudah benar-benar menerima ini, Maymunah? Aku tidak mau kamu terluka" Sultan bertanya lagi.


Maymunah menghela nafas dalam-dalam.


"Tidak ada satupun didunia ini seorang wanita yang rela di madu, tapi aku juga tak mau egois. Aku tidak mau suamiku menjadi anak durhaka, aku juga tak mau melihat seorang ibu hancur karena aku. Ya, karena jika pernikahan ini gagal maka hati ibumu dan ibu Sumayya pasti hancur, dan aku tidak mau itu terjadi. Jadi lebih baik aku yang mengalah," tandas Maymunah dengan menahan air matanya.


"Terimakasih, Maymunah. Aku doakan semoga kau akan bahagia dunia akhirat," pungkas Muhammad .


"Aamiin ya Robbal Alamin"

__ADS_1


__ADS_2