Terjebak Kawin Kontrak dengan Tuan Muda Arab

Terjebak Kawin Kontrak dengan Tuan Muda Arab
Diusir mertua.


__ADS_3

Ragad tertawa sinis mendengar pernyataan Maymunah.


"Hahaha kamu mimpi atau bagaimana sih, Maymunah? Kakakku tidak mungkin menikahi seorang pembantu sepertimu," ejeknya sinis.


"Sudahlah Maymunah, sebaiknya kau jangan berkhayal, Sultan tak mungkin menikahimu. Aku tahu Sultan, dia itu hanya iseng dan butuh perempuan," timpal Lilis pada Maymunah dengan bahasa Indonesia, sehingga yang lain tak memahami.


Maymunah menatap tajam pada Lilis dengan senyum mengejek.


"Maaf, Teh, jangan pernah menyamakan orang lain dengan diri Tetèh. Karena tidak semua orang mau menghinakan diri seperti Teteh," jawabnya tegas.


Kemudian dia menghadap ke arah mertuanya.


"Maaf Ummi, mau kalian percaya atau tidak, itu tidak merubah kenyataan bahwa anak yang ada di dalam kandunganku adalah darah daging kalian sendiri. Saya tegaskan sekali lagi, saya tidak berzina. Saya dan Sultan sudah menikah sebelum saya datang ke sini," terang Maymunah dengan berurai air mata.


"Maymunah, apa kamu punya bukti, bahwa kalian sudah menikah?" Kali ini Ibtisam bertanya dengan gaya lembutnya.


" Iya, Madam. Saya ada surat dari kelurahan saya, dan waktu itu kami juga mau mendaftarkan pernikahan kami, tapi ternyata nama Sultan sudah terdaftar dengan nama Sumayya."


Ibtisam manggut-manggut, kemudian dia menghadap ke arah ibunya yang kini mematung tak bergeming di depannya.


"Ummah, sebaiknya kita tunggu Sultan datang, kita konfirmasikan keterangan Maymunah ini padanya."


"Ibtisam, kenapa kamu termakan omong kosong pembantu ini!" sahut Ragad dengan nada kebencian.


"Iya, benar Ibtisam, kamu jangan percaya pada pembantu ini. Tidak mungkin Sultan berbuat begitu. Tidak mungkin dia menikahi seorang pembantu," timpal Syifa.


"Aku tidak percaya dia, tapi aku ingin Sultan yang menjelaskan," jawab Ibtisam.


"Sudah! sudah! Aku sudah memutuskan akan tetap memasukkan dia ke penjara atas tuduhan dia berzina dan menipu uang Sultan," ucap Ummi Fathmah menengahi.


Maymunah mendongak ke arah mertuanya dengan mata membulat dan


mulut sedikit terbuka karena tak menyangka mertuanya akan menuduhkan hal sekeji itu padanya.


"Ummah, apa Ummah bercanda? Aku mohon jangan bertindak gegabah!" Kali ini Muhammad yang sejak tadi hanya diam mulai angkat bicara.


"Itu sudah keputusanku. Aku tidak sudi mempunyai mantu seperti dia!" sinis Ummi Fathmah.


Maymunah mulai berdiri, dia mengehela nafas sebelum mulai bicara. Ia mencoba menahan air matanya, tapi tetap saja tak mampu ia tahan


Air mata itu tetap meluncur bebas melewati pipi mulusnya.


"Anda tidak bisa memenjarakan saya, Ummi. Jika Anda melakukan itu, maka ... maka Ummi bukan hanya akan menghancurkan saya, tapi Ummi juga akan menghancurkan keluarga Ummi, menghancurkan Sultan dan juga pernikahan yang telah kalian rencanakan," ujar Maymunah datar.


Meski ia mengucapkan dengan datar sambil berurai air mata, tapi ancamannya itu malah menusuk dalam jantung lawan bicaranya.


"Memangnya apa yang akan kau lakukan?" tanya Ummi Fathmah penasaran.


"Sudah saya bilang, anak ini anak Sultan. Ia mengaku atau tidak nantinya, itu tidak akan merubah kenyataan yang ada. Jadi, jika kalian bersikeras memenjarakanku dan menuduhku berzina, maka Sultan juga akan menjadi tertuduh. Karena ini memang anak Sultan. Dan jika Sultan menjadi tertuduh, silakan bayangkan apa yang terjadi?"


Perkataan yang mengandung ancaman itu benar-benar membuat Ummi Fathmah dan anaknya mati kutu.


"Ummah, yang dikatakan Maymunah itu benar, jangan memperkeruh suasana. Kita tunggu Sultan datang dulu dan kita konfirmasi ke dia, ok?" Muhammad berusaha membujuk Ibunya.

__ADS_1


Ibtisam juga ikut mendekat.


"Ummah, Ummah jangan mempersulit keadaan. Jika dia menyeret Sultan, maka Sultan akan dihukum, dan pernikahannya bisa gagal," bisik Ibtisam berusaha menenangkan ibunya.


"Baik, aku tak akan melaporkanmu, tapi aku mau kau pergi dari sini dan jangan hubungi Sultan lagi. Ini keputusan terakhirku jangan ada yang berani menggugat."


Akhirnya semua diam tak berani lagi membantah ibu mereka.


"Baiklah, saya akan pergi, tapi soal menghubungi Sultan, Ummi tidak bisa memaksa saya, karena anak ini adalah anaknya, dan dia berhak mengakui." ujar Maimunah.


Setelah ia selesai bicara, ia melangkah menuju kamarnya, disusul oleh Susi dan Aminah.


"Mae, apa benar kamu sudah menikah dengan Sultan?" tanya Susi setelah berada di dalam kamar mereka.


"Iya Teh. Itu benar. Oh ya, saya pamit ya, terimakasih karena sudah mau menjadi teman baikku. " jawab Maymunah karena tidak ingin terlalu banyak pertanyaan lagi.


"Lalu kamu mau kemana? Apa kamu ada saudara yang bisa dihubungi?" Aminah menimpali.


"Entahlah, Saya akan menghubungi Sultan, hp saya mana, ya?"


Maymunah mencari ponselnya, namun tak ditemukan.


"Di dapur juga gak ada Hp mu, jangan-jangan Lilis yang ngambil, tadikan dia berani geladahi tas kamu dan ngambil amplop berisi uang milikmu" bisik Susi namun masih terdengar yang lain sehingga Lilis mendengar nya.


Oleh


"Jangan sembarangan kamu, aku ini bukan seperti teman sedaerah mu itu yang munafik"


"Halah, bukannya kamu tadi geledah tas Maemunah dan ngambil amplopnya" Jawab Susi tak kalah keras dengan Lilis.


"Sudah, Teh, biarin aja! Mungkin bukan rezky saya. Saya akan siap-siap pergi sekarang. Saya akan ke KJRI Jeddah."


Maymunah menengahi.


Susi dan Aminah terlihat mengambil sesuatu dari lemari mereka masing-masing.


"Mae, ini ada uang sedikit buat kamu, buat ongkos. Aku akan menelpon temanku yang bekerja sebagai supir di rumah sebelah. Semoga dia bisa membantumu mengantar ke Jeddah"


"Baiklah, kalau begitu saya permisi." Maymunah memeluk Aminah dan Susi bergantian. Sementara Lilis pergi begitu saja tanpa bersalaman.


Setelah nya, Susi segera membawakan tas pakaian Maymunah ke gerbang depan,sedangkan Maymunah pergi ke dalam untuk berpamitan.


Keluarga Ummi Fathmah masih duduk di ruang keluarga, ketika Maymunah masuk.


"Ummi, saya pamit dulu. Saya minta maaf kalau saya ada salah." Ujarnya seraya mengulurkan tangan ingin bersalaman, tapi mereka malah memalingkan muka.


"Saya tak menyangka, Walaupun kalian sudah menjadi muslim, tapi perlakuan kalian terhadap tamu, masih sama seperti dulu saat Rasulullah datang kesini untuk berdakwah. Kalian pasti tau kisah Rosul yang diusir secara tidak terhormat oleh nenek moyang kalian, iya kan?"


Semua yang hadir di ruang tamu itu menoleh serempak ke arah Maymunah. Wajah Muhammad memerah seketika karena menahan malu akibat sindiran halus Maymunah.


Tapi tidak dengan Ragad yang makin berteriak.


"Apa kamu mau membandingkan dirimu dengan Rosululloh?" Tanya Ragad sinis.

__ADS_1


"Mana berani saya membandingkan diri saya dengan Rosul. Justru karena itu, Rosul yang sangat mulia saja, dulu di hina oleh nenek moyang kalian, apa lagi saya.


Harusnya kalian malu, dulu nenek moyang kalian memperlakukan Rosul dengan hina, karena mereka tidak faham.


Sedangkan kalian sekarang ini adalah muslim, bagaimana bisa kalian memperlakukan sesama saudara muslim dengan cara seperti ini? "


"Saya datang kesini bekerja dengan baik-baik. Dan saya bekerja dengan baik di sini, tapi hanya karena kesalah fahamaan yang bahkan sudah saya jelaskan, kalian ingin mengusir saya."


"Bahkan uang saya sekarang ada di tangan kalian. Apa kalian masih berani mengaku sebagai ummat Nabi Muhammad setelah kalian berlaku seperti ini pada sesama muslim ?"


Wajah Muhammad, anak tertua Ummi Fathmah itu kini bertambah memerah mendengar perkataan Maymunah yang menusuk langsung ke ulu hatinya.


Tapi itu tidak berlaku pada Ummi Fathmah yang sudah diliputi kebencian pada menantunya itu.


"Lalu apa yang harus kami lakukan? apa kamu berharap kami akan memelukmu dan menyambut mu sebagai mantu dan kakak iparku?" tanya Ragad kembali menyahuti Maymunah dengan senyum mngejeknya.


Maymunah tersenyum sinis ke arah Ragad.


"Saya tak berharap kalian melakukan itu, karena saya tau, hanya orang orang yang berhati bersih lah yang mampu melakukan hal se-mulia itu, bukan orang seperti kalian." Sendirnya.


"Lalu apa yang kau inginkan?" Akhirnya Ummi Fathma angkat bicara lagi.


" Maaf Ummi, Saya hanya ingin kalian mengantarkan saya ke KJRI Jeddah, dan tolong berikan uang saya yang kalian ambil tadi"


Maymunah menjawab


mertuanya dengan lembut.


"Oh, jadi kamu cuma pengen uang ya?" Ragad kembali mengejek.


"Soal uang yang di amplop, itu uang nafkah saya dari Sultan, kalau kalian ingin mengambilnya, silahkan saja. Nanti urusannya dengan Sultan. Tapi kalau uang yang 2500 riyal itu adalah uang saya, hasil kerja saya, Jadi tolong berikan pada saya"


"Baiklah, kalau itu yang kamu inginkan, kami akan penuhi. Nanti supir yang akan mengantarmu ke Jeddah dan uangmu akan kami kembalikan sekarang" Kali ini Muhammad yang menjawab.


Setelah itu ia menghadap kearah ibunya yang masih mematung di sampingnya.


"Ummah, Saya mohon kasihkan uang itu pada Maymunah, itu hak nya" Ujar Muhammad lembut .


Ummi Fathmah menyerahkan uang lembaran ribuan riyal itu pada anak nya, tapi amplopnya masih ia pegang.


"Kasihkan ini. Uang yang di amplop ini akan aku tanyakan pada Sultan" Ujar Ummi Fathmah sambil berlalu tanpa menoleh lagi ke arah Maymunah.


Hati nya masih tak percaya dengan apa yang ia dengar, bagaimana mungkin anaknya menikah dengan seorang pembantu, Lalu bagaimana dengan pernikahan yang sudah ia rancang untuk anaknya.


AKan kah itu dibatalkan, itu pasti sangat memalukan dan apa yang akan mereka lakukan padanya' kalau pernikahan ini gagal. Hal itulah yang terus berkecamuk dalam hatinya.


Maymunah menatap punggung mertuanya yang berjalan menjauh darinya.


Setelah uangnya diberikan, Maymunah segera melangkah ke luar rumah karena supir sudah menantinya.


"Teh, aku diantar supir Baba Muhammad." Ujarnya pada Lusi yang berdiri menunggu Maymunah di halaman rumah.


"Ya sudah, kalau begitu hati hati ya"

__ADS_1


__ADS_2