
Dug dug dug..
Wasim terus menggedor pintu kamar adiknya.
Sementara di dalam kamar, Sultan terlihat mengatur nafasnya dan membaca bismillah sebelum membuka pintu kamarnya.
Ia memaksakan senyuman di bibirnya ketika melihat kakaknya itu berdiri di depan pintu kamarnya dengan wajah garangnya.
"Kamu membawa perempuan kesini ? ..Ya Sultan, kenapa kamu tak berubah? Sebentar lagi kamu dijodohkan oleh mama, kenapa kamu masih main perempuan dan malah bawa perempuan ke sini?" Bentak Wasim.
Ketika melihat adik kembarnya sudah keluar.
Sultan cuma bisa cengengesan sambil berusaha menarik tangan kakaknya dan membawanya ke ruang tamu.
"Kita bicara di sana aja" Ujarnya seraya menarik tangan kakaknya. Wasim terpaksa menuruti adiknya.
"Sultan dengar ! Aku tak akan melaporkan hal ini pada mama, tapi kamu harus usir perempuan itu dari sini " Ujar Wasim masih belum puas karena Sultan belum menjawab.
"Bisakah kau mendengarkan aku sekali ini, Wasim?" Tanya Sultan.
"Ok, katakanlah! Dan cepat bawa perempuan itu dari sini!"
Jawab Wasim sambil duduk di sofa.
"Dia tidak akan pergi dari sini, kau yang harus pulang ke apartementmu" Sultan mulai meninggikan suaranya, membuat Wasim terperanjat.
"Apa kamu bilang? Kamu mengusirku karena mau tinggal berdua dengan perempuan haram itu? Apa kamu sudah gila, Sultan?"
"Iya, dia akan tinggal di sini. Dan dia bukan wanita haram, dia istriku"
Mata Wasim terbelalak mendengar pengakuan Sultan.
"Apa,? istrimu ? Istri dari mana? Nikah aja belum bagaimana kamu punya istri " Jawab Wasim dengan senyuman meledek.
" Kami nikah di negaranya, di Indonesia. Aku kan baru pulang dari sana" Sultan mulai menjelaskan.
"Jadi kamu melakukan kawin kontrak, Jadi benar, kalau yang pergi ke sana itu rata-rata melakukan nikah kontrak"
Astagfirullahal adzim, apa kamu tak faham bahwa nikah kontrak itu haram?" Wasim masih terus membentak dan menasehati Sultan.
Sultan menunduk dan menghela nafas.
"Begini ya akhuy, tadinya aku memang hanya berniat kawin kontrak saja.
Tapi dia wanita yang berbeda, dia menolak dan karena aku sudah terlanjur jatuh cinta, aku menjebaknya agar bisa menikahinya" Ungkap Sultan seraya menundukkan kepalanya.
"Astagfirullah..kenapa Kamu sejahat itu pada wanita, ibu dan saudarimu juga wanita, apa kau tidak berfikir bagaimana kalau andainya terjadi pada keluargamu.hah" Wasim masih membentak lagi.
"Iya, aku sangat menyesali hal itu. Tapi saat bertemu keluarganya dan lebih mengenal dia lebih banyak, aku memutuskan untuk menjadi suaminya yang sesungguhnya. Aku membawa dia kesini untuk mencoba meminta restu mama, dan akan mendaftarkan pernikahan kami di sini"
__ADS_1
"Keluarganya? Emangnya ada apa dengan keluarga gadis itu?"
"Hmm keluarga Maymunah jauh dari kata kaya dalam segi harta, tapi mereka sangat kaya dalam segi iman dan ketaqwaan.
Maymunah dan ayahnya telah menyadarkanku bahwa manusia diciptakan di dunia, bukan hanya untuk hura hura di dunia. Manusia pada akhirnya akan mati dan menghadap sang Kholiq.
Dan kita perlu mempersiapkan diri untuk bertemu Sang Kholiq yang telah menciptakan kita.
Ayah Maymunah tidak meminta harta sebagai mas kawin, Ia hanya menginginkan aku menikahi anaknya dengan niat yang suci karena Allah, beliau menitipkan anaknya padaku atas nama Allah. Hal itu membuatku malu, karena selama ini aku hanya memikirkan tentang hal hal duniawi"
Tutur Sultan dengan mata yang berkaca - kaca.
Wasim yang sejak tadi mendengarkan, kini wajahnya telah berubah mode, dari mode marah ke mode haru.
"Subhanallah, adikku ..kau sudah kembali ..adikku"
Ujar Wasim seraya berdiri dan memeluk adiknya sambil menangis haru.
"Wasim, apa yang kamu lakukan? Nanti di lihat Maymunah, kamu gak malu?" Sultan melepaskan pelukan kakaknya.
"Panggil dia kesini!" Titah Wasim pada Sultan.
Sultan pun segera bergegas menuju kamarnya.
"Sayang, sini! " Panggil Sultan setelah mèmbuka pintu kamarnya.
Maymunah mendekat.
Maymunah mengangguk dan segera mengambil cadar yang sudah ia siapkan.
Dengan hati berdebar-debar, Maymunah melangkah mengikuti Sultan.
Sultan mendudukkan Maymunah di sampingnya.
"Assalamualaikum, keif halik" Sapa Wasim setelah Maymunah duduk di depannya.
"Wa alaikum salam warohnatullah wabarokatuh, alhamdulillah toyyibah. Allah yusallim alaik." Jawab Maymunah sambil tertunduk.
"Ma sha Allah, benar kata Sultan, dari caramu bicara, kamu terlihat seperti wanita muhtaromah(terhormat), siapa namanya tadi, Sultan?"
Wasim bertanya pada Sultan.
"Maymunah " Jawab Sultan singkat namun dengan senyum bahagianya.
"Ok, apa kalian punya bukti bahwa kalian sudah menikah?" Wasim bertanya lagi.
"Tentu saja, sebentar aku tunjukan videonya padamu" Sultan segera menyodorkan ponselnya dan menyetelkan video aqadnya bersama Maymunah.
Ia tak menyadari bahwa Maymunah kini sedang terisak karena mendengar suara ayahnya di dalam video itu.
__ADS_1
"Maymunah, kamu menangis?" Tanya Wasim ketika mendengar suara isak tangis di depannya.
Sultan yang sudah teringat bahwa Maymunah teringat ayahnya, segera mematikan videonya dan memeluk sang istri untuk menenangkannya.
"Sayang, maaf. Kamu harus mendengar suara abah" ujarnya sambil menepuk nepuk punggung istrinya.
"Sultan, Maymunah kenapa?" Tanya Wasim keheranan.
"Mm..Laki laki yang kamu lihat itu adalah ayah Maymunah dan beliau meninggal setelah aqad selesai" Tutur Sultan. Maymunah bertambah sesegukan.
Ia pun undur diri dari hadapan Wasim.
"Maaf, saya ke kamar dulu" Ujarnya seraya bangun beranjak pergi.
"La haula wala quwaata illa billah" Lirih Wasim ikut merasakan kesedihan iparnya.
"Ya sudah, aku percaya pada kalian.
Dan aku berharap kamu benar benar bertaubat, Sultan. Lalu apa rencanamu selanjutnya?Apa kamu siap menghadapi kemarahan mama?"
Sultan menghela nafas sebelum menjawab pertanyaan kakaknya.
"Itulah dia yang membuatku bingung.
Aku ingin memperjuangkan pernikahanku, tapi mama..akhh Aku gak tau bagaimana harus membujuk mama"
"Kamu jangan putus asa, jika yang kamu lakukan itu tidak bertentangan dengan syariat Allah, maka Allah pasti akan melapangkan seribu jalan untumu" Hati Sultan menjadi tenang mendengar jawaban kakaknya yang menyejukkan hatinya.
"In sha Allah"
"OK, Aku akan pergi sekarang untuk melihat apartemenku. Kamu tolong siapkan pakaianku dan barang-barang yang bisa ku bawa, nanti sore aku kembali untuk membawanya"
"Ok, kami akan menyiapkan barang-barangmu nanti"
Jawab Sultan seraya berdiri di ikuti kakaknya.
"Panggil istrimu, aku ingin berpamitan"
Sultan segera memanggil Maymunah yang tadi pergi menenangkan diri.
"Ya Maymunah, aku pamit. Tolong jaga adikku ini. Jadilah seperti Ummu Sulaim yang berhasil membawa Tolhah ke jalan Allah dengan cintanya."
Ucap Wasim.
Mata Maymunah berkaca-kaca, ia tersenyum penuh haru di balik cadarnya .
Maymunah terharu mendengar kata-kata iparnya yang menyuruhnya meneladani Ummu Sulaim.
Ummu Sulaim adalah salah satu sohabiyah yang berhasil mengislamkan Tolhah dengan menjadikan keislaman Tolhah sebagai mas kawinnya dan bukti cinta suci Tolhah pada janda yang berhati mulia itu.
__ADS_1
"In sha Allah" Jawabnya singkat.
Setelah berpamitan, Wasim segera bergegas keluar dari apartemen adik kembarnya itu.