
Setelah kepergian keluarga Sumayya dan Gaida, Sultan dan saudara saudara laki-lakinya yang lain yang tadinya ada di ruang tamu laki-laki segera memasuki ruang keluarga.
"Sayang, mereka melakukan apa padamu? tadi Susi bilang kamu di seret oleh Gaida, apa itu benar?" Tanya Sultan pada Maymunah, sementara Maymunah melirik ke arah Wasim yang sedang terperangah karena terkejut mendengar ucapan Sultan.
"Apa? apa yang dilakukan Gaida padamu?" Tanya Wasim mendekat ke arah Maymunah dan Sultan.
"Tadi dia menyeret Maymunah dari dapur ke sini. Aku juga kaget aku tak dapat mencegah karena aku baru masuk ke sini" Jawab Ibtisam.
"Memangnya kenapa dia lakukan itu padamu sayang?" Tanya Sultan.
"Maaf kak Wasim, aku harus mengatakan ini, tadi dia memfitnahku dengan mengatakan bahwa aku adalah penyebab perceraian Sultan dan Sumayya." Tutur Maymunah.
"La haula wala quwwata illa billah." Ucap Wasim sambil mengepalkan tangannya.
Matanya menyorot tajam ke arah Gaida yang baru masuk dari mengantar Keluarganya ke luar gerbang.
Gaida memandang heran suaminya.
"Kenapa kau lakukan ini padaku? Gaida? Ini adalah hari pertama kita menjalani pernikahan, tapi kamu sudah membebaniku dengan dosa yang begitu berat?" Tanya Wasim penuh kekecewaan.
"Maksud kamu apa?"
Tanya Gaida keheranan.
" Kamu istriku apa kamu tau, setiap dosa yang kau lakukan itu aku ikut menanggungnya?"
"Memangnya apa yang ku lakukan?"
"La haula wala quwwata illa billah, kau bahkan tidak merasa berdosa karena telah memfitnah orang, tadi kau memfitnah istri Sultan, tapi kau tidak menyesalinya..apa kau fikir fitnah itu bukan dosa?"
Gaida terdiam ..
"Kalau kau ingin mengetahui sebab perceraian Sultan dengan Sumayya, silahkan tanyakan pada keluargamu, karena kami tak akan membuka aib orang. Dan aku perintahkan kau untuk bertaubat pada Allah, dan minta maaflah pada istri Sultan "
"Aku akan minta ampun pada Allah, tapi aku tak sudi minta maaf padanya" Ujar Gaida sambil melenggang pergi menuju kamar suaminya.
"La haula wala quwwata illa billah, pernikahan Ini benar-benar musibah." Gumam Wasim lirih, namun masih bisa didengar oleh orang lain, sehingga membuat Ummi Fathmah tersinggung.
"Maafkan ibu kalian ini yang telah salah memilihkan jodoh untuk kalian " Ujarnya tiba tiba sehingga membuat semua anaknya terlonjak kaget.
"Astagfirullah, Ummah.." Ujar Wasim seraya beehambur kedepan ibunya dan bersimpuh didepan ibunya dan menangis tersedu sedu karena merasa telah salah berkata.
Maymunah yang melihat itu segera menyenggol lengan Sultan dan mengisyaratkan agar ikut meminta maaf pada ibunya.
Sultan segera mendekat pada ibunya dan ikut bersimpuh di depannya.
"Ummah, ampuni aku. Aku tak bermaksud menyalahkan ummah, maafkan aku" Ujar Wasim di tengah isaknya.
"Ummah, jangan menyalahkan diri sendiri, karena kami tidak pernah menyalahkan ummah. Apapun yang ku alami dan ku hadapi, itu adalah buah dari perbuatanku sendiri ummah, bukan salah ummah" Sahut Sultan dengan bergenang air mata.
Ummi Fathmah pun memeluk keduanya.
__ADS_1
Setelah itu dìa pergi begitu saja ke kamar nya.
Ia ingin sekali menyapa Maymunah dan meminta maaf padanya, tapi entah kenapa lidah dan tubuhnya terasa kelu, apabila melihat mantunya itu. Entah karena gengsi, atau karena malu yang luar biasa.
" Maymunah maafkan aku, aku tadi tak membelamu, karena aku sudah janji akan merahasiakan soal Sumayya" Ujar Ibtisam.
"Tidak apa apa, kak. Aku tidak apa apa. Aku hanya ingin mengingatkan janji kalian yang akan segera mendaftarkan pernikahan kami. Tolong penuhi hak anakku secepatnya! karena usia kandunganku akan semakin membesar, dan aku tidak mau nantinya anakku dianggap sebagai anak diluar nikah hanya karena belum mendapat surat nikah" Jawab Maymunah sambil mengelus perutnya.
"Iya sayanģ, besok aku akan masukan berkas perceraianku dengan Sumayya, setelahnya aku akan segera mendaftarkan pernikahan kita" Sultan menjawab istrinya.
"Ya udah, kita ke kamar yu sayang. Kamu pasti lelah, kita nginep di sini saja ya. Kan kamu belum pernah tidur di kamarku "
Maymunah hanya menurut, ia membiarkan Sultan menuntun ny menuju kamarnya. Kamar yang ditempatinya sejak ia berumur belasan tahun.
" Sayang, aku mau mencoba itu di sini. Aku ingin kamar ini menjadi saksi pernikahan kita juga.."
Ucap Sultan ketika mereka sudah berbaring di ranjangnya.
"Hmm modus kamu.."
"Bukan modus, tapi kangen .." Jawab Sultan dengann suara manjanya.
"Kangen? Bukannya tadi pagi kamu sudah kenyang"
"Hmm kalau denganmu gak akan pernah kenyang..kamu tau rasanya ingin sekali setiap saat mereguk manisnya bibirmu itu..?
Rayu Sultan dengan puisinya yang mendayu dayu, tapi sayang harus terhenti saat pukulan keras mendarat di lengannya.
Plak..
"Hahaha masa bibirnya bisa habis sih, kan gak aku makan, cuma di **** hihi.."
"Boong, tadi pagi juga kamu gigit bibirku sampe perih.. " Tukas Maymunah dengan wajah memelas dan manjanya, membuat Sultan semakin gemas dibuatnya.
" Haha jangan manyun gitu, nanti aku tambah gemas sama kamu"
Sultan tergelak sambil menggelitik wajah istrinya.
Mereka bercanda ria sampai beberapa jam lamanya, di sambung dengan aksi Sultan yang terus merayu dan membujuk Maymunah agar mau menjadikan ranjang masa kecilnya itu sebagai saksi dari ibadah terindah itu.
" Sayang, tidurlah! kamu capek kan?" Seru Sultan sambil merengkuh istrinya.
"Hmm jangan tidur dulu, mandi dulu terus nanti solat subuh, baru tidur."
Hari telah beranjak siang, ketika Maymunah bangun dari tidurnya.
"Ya Allah, sudah jam 11 siang..sebaiknya Aku ke dapur dulu."
Setelah membangunkan Sultan, Maymunah bergegas ke dapur.
"Assalamualaikum teh Susi" Sapanya pada Susi yang sedang menyiapkan bahan masakan untuk sarapan.
__ADS_1
"Alaikum salam, pengantin baru, udah bangun?"
"Ya jelas saya udah bangun dong teh..masa orang tidur jalan ke sini "
Susi tergelak mendengar perkataan Maymunah.
"Oh ya, Ummi udah bangun belum?"
"Udah, tadi dia minta sarapan "
" Dia minta apa, nanti saya yang buatkan, sekalian buat sarapan untuk Sultan juga"
"Dia minta telur rebus sama roti tawar sama keju, itu aja"
"Ok, biar saya siapin, teteh ngerjain yang lain aja ya"
" Hmm ok, semoga berhasil mengambil hati mertua hihi " Ujar Susi sambil cekikikan .
Setelah membuat sarapan, Maymunah segera membawanya menemui mertuanya yang sedang mengaji di ruang keluarga.
"Assalamualaikum, Ummi" Sapa Maymunah dengan senyum mengembang.
"Alaikum salam" Ia menjawab sambil mendongak. Ia terperangah melihat yang datang itu mantu yang selalu dia abaikan.
"Ummi, aku bawain sarapan buat Ummi. Nanti Sultan juga akan kesini buat sarapan bareng ummi" Ujar Maymunah sambil menaruh nampan di depan mertuanya.
Ummi Fathmah hanya mengangguk sambil tersenyum singkat. Ia merasa canggung dengan Maymunah yang biasanya menyajikan sarapan sebagai pembantunya, sekarang dia menyajikan sarapan sebagai mantunya.
"Assalamualaikum ummah" Sapa Sultan yang baru datang dan langsung mencium kepala ibunya.
"Kamu masak apa sayang?" Tanya nya pada Maymunah.
"Telur rebus untuk Ummi, dan untuk kita telur mata sapi" Jawab Maymunah sambil menyiapkan makanan itu dan menaruhnya di depan mertuanya.
"Ummah, Wasim dan Muhammad pulang ke apartemennya ya?"
Ummi Fathmah cuma mengangguk untuk menjawab putranya.
"Cuma ada Ragad dan kalian di sini " Akhirnya Ummi Fathmah berbicara.
Dia ingin sekali menanyakan kabar cucunya, tapi dia bingung harus memulai dari mana ia bertanya.
"Sayang, kamu kapan jadwal mriksa kandungan?" Tanya Sultan seakan tau apa yang dipikirkan ibunya.
"Besok" Jawab Maymunah singkat.
"Oh .besok aku harus ke pengadilan untuk mendaftarkan gugatan ceraiku pada Sumayya , emm bagaimana kalau kamu di temani Ummi saja?, Ummah, bisa kan?" Tanya Sultan sengaja memancing ibunya.
"Iya ..in sha Allah" Jawab Ummi Fathmah ragu. Maymunah yang mendengar mertuanya mau menemaninya memeriksa kandungan, merasa sangat terharu.
"Makasih Ummi, karena Ummi sudah mau menemaniku memeriksa kandungan. Cucu Ummi pasti bahagia" Ucap Maymunah sambil mengelus perutnya.
__ADS_1
Ummi Fathmah hanya tersenyum sekilas.
******