Terjebak Kawin Kontrak dengan Tuan Muda Arab

Terjebak Kawin Kontrak dengan Tuan Muda Arab
Saya memang pembantu


__ADS_3

Hari berganti pagi lagi. Setelah beristirahat, Sultan mengajak istrinya untuk pulang ke Thaif.


"Sultan, apa kita gak ke rumah Ummi dulu?" tanya Maymunah setelah mereka sampai di perbatasan kota Thaif.


"Kalau kamu mau ke sana, ok. Tapi aku akan membawamu ke Apartemen dulu. Soal ke rumah Ummi biar nanti kita malam aja ke sananya.


Tapi aku yakin, Ummi pasti akan menemuimu di Apartemen," jawab Sultan tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan raya.


Maymunah terlihat manggut -manggut. Ia senang kalau mertuanya berkunjung, tapi dia juga khawatir, kalau mertuanya akan membuat keributan.


"Gak apa apa, kalau Ummi ke Apartemen aku pasti menyambutnya."


"Ok, tapi kamu jangan sakit hati ya, kalau ada keluargaku berkata agak kasar."


"Ya aku gak sakit hati sih, cuma prihatin aja apalagi sama Ragad, dia kalau berkata sangat kasar sekali. Apa kalian gak khawatir padanya? sikap sombong itu kan sangat dibenci oleh Allah, tapi anehnya banyak manusia yang sombong. " Ujar Maymunah.


Sultan tersenyum sambil mengelus kepala istrinya.


"Maafin mereka ya sayang"


"Aku udah bilang, aku gak marah. Cuma heran dan prihatin terhadap seorang muslim yang bersikap sombong pada sesama muslim, padahal Allah dan Rosulnya tidak pernah membedakan derajat manusia dari segi kekayaan atau fisiknya."


"Iya sayang. Doakan aja semoga Ragad sadar "


"Aku bukan hanya akan mendoakannya, tapi kalau ada kesempatan aku pasti akan menasehatinya. Boleh kan?


" Boleh, tentu saja boleh "


****


Hari berganti malam, namun aktifitas di negara timur tengah bukannya mengurang, tapi malah makin ramai.


Kunjungan ke rumah keluarga atau teman pun biasanya dilakukan di malam hari.


Di malam yang dingin itu Sultan untuk pertama kalinya mengajak Maymunah ke rumah ibunya sebagai istrinya.


Sultan sengaja ingin mempertegas pada keluarganya , bahwa ia sungguh -sungguh dalam menjalani rumah tangganya dengan Maymunah.


"Sultan, aku..aku gak masuk ya? Aku malu" Ujar Maymunah ragu. Ia sangat takut tidak diterima dan akan dipermalukan lagi


"Hmm, sayang, kenapa mesti malu? Kan sama aku. Aku gak akan melepaskan tanganmu" jawab Sultan menenangkan hati Maymunah.


Setelah Maymunah mempersiapkan mentalnya, Maymunah segera mengikuti langkah Sultan dan menggandeng tangannya


"Assalamu alaikum " Sapa Sultan ketika sudah berada diruang keluarga . Semua yang hadir di situ mulai melihat ke arah Sultan.


Betapa terkejutnya mereka, ketika melihat sosok Maymunah menyembul dari belakang sultan, dan tangan Sultan menggenggamnya dengan erat.


"Kenapa kau bawa dia kesini, Sultan?" Tanya Ragad sinis.


"Memangnya kenapa kalau aku bawa dia kesini? Apa ini bukan rumahku, sehingga aku dan istriku tidak boleh kesini"


Jawab Sultan tegas.


"Sudah, jangan ribut! Biarkan saja mereka kesini, kebetulan aku ingin membicarakan sesuatu dengan mereka" Lerai Ummi Fathmah.


Sultan dan Maymunah segera bersalaman.


Sultan mengajak Maymunah untuk duduk bersama mereka, meski adà banyak anggota keluarganya yang mencibir.


"Sultan, aku hanya ingin memberi taumu, Lusa kamu harus melaksanakan aqad bersama Sumayya, dan jum'at depan adalah resepsi pernikahanmu " Ucap Ummi Fathmah.


Sultan dan Maymunah terperangah kemudian mereka refleks saling pandang.


"Ummah, mohon maaf, apa pernikahan nya tidak bisa dibatalkan? Saya kan sudah punya istri, ummah"


Ummi Fathmah melotot mendengar Sultan memintanya


Untuk membatalkan pernikahan yang sudah ia rancang.


"Sultan, jadi gara-gara wanita ini kamu brani melawan ibumu?" Ummi Fathmah mulai berteriak.


"Ummah, aku mohon jangan menyalahkan Maymunah, ini bukan salah Maymunah, aku yang salah, ummah"


"Kamu benar-benar membuatku kecewa Sultan" Air mata Ummi Fathmah mulai menderas, sebelum akhirnya ia pergi begitu saja, meninggalkan anak-anaknya di ruang keluarga.


"Ini semua gara-gara kamu, dasar pembantu " Bentak Ragad sambil mengarahkan tangannya ingin mencakar Maymunah, untung saja segera dihalau oleh Sultan.


"Apa yang akan kau lakukan pada istriku? Kau benar-benar tidak menghargaiku Ragad. Maymunah , ayo kita pergi dari sini!"


Setelah menghempaskan tangan adiknya, Sultan segera menarik tangan Maymunah dan mengajaknya pulang.


Hati Maymunah mencelos, ia sedih karena Sultan harus dibenci keluarganya hanya karena menikahinya.


"Sultan, maafkan aku! Karena aku, kamu dibenci keluargamu" Ujar Maymunah setelah mereka berdua di mobil.


Sultan meraih tangan istrinya dan menggenggamnya erat.


"Jangan salahkan dirimu sayang. Kamu lupa ya, aku yang memaksamu hadir di dalam hidupku.

__ADS_1


Karena itu aku tak akan menyianyiakanmu." Jawabnya lembut, sambil mengecup tangan istrinya.


"Sultan, bagaimana kalau Ummi tetap memaksamu menikah dengan Sumayya, apa kau akan menurutinya?" Tiba-tiba Maymunah bertanya dengan pertanyaan yang membuat dada Sultan terasa sesak.


"Aku gak mau menyakiti hati kamu sayang, aku tau poligami dibolehkan, tapi aku gak mau menjadi dzolim karenanya"


"Tapi ibumu, bagaimana dengan ibumu?"


"Aku tidak tau, sekarang kita pulang saja, nanti kita bicarakan"


Sultan segera melajukan mobilnya menuju apartemennya.


Ke esokan harinya, Sultan pergi ke kantor, sementara Maymunah memilih bersih-bersih apartemennya.


Setelah selesai beres-beres, ia segera bergegas ke dapur untuk memasak.


Namun belum sempat ia memulai, pintu depan tiba tiba diketuk oleh seseorang.


Maymunah bergegas ke depan dan melihat siapa yang datang lewat bolong kecil yang terdapat di tengah pintu.


Ia terlonjak kaget saat melihat siapa yang berada di depan pintu.


Ummi Fathmah dan dua anaknya yaitu Ibtisam dan Ragad kini sedang berdiri di luar pintu.


Dengan mengucap bismillah tawakkaltu alalloh, Maymunah bergegas membuka pintu dan berusaha menebar senyumnya meski ia tau yang di sambutnya tak akan menerima.


"Assalamu alaikum " Sapa Ibtisam sambil tersenyum ramah.


Maymunah bermaksud menyalami mertuanya , tapi Ummi Fathmah malah nyelonong masuk , sedangkan Ibtisam sempat bersalaman dulu.


Sementara Ragad, ia bersikap lebih parah dari ibunya.


Ia nyelonong masuk dengan melewati Maymunah dan agak mendorongnya sedikit.


Maymunah berusaha menahan gejolak amarah dihatinya. Ia tetap mencoba tersenyum dan segera membuatkan Gahwah untuk mertuanya.


"Silahkan Ummi" Serunya pada mereka bertiga.


"Tidak usah repot-repot, kami kesini cuma ingin memberikan ini padamu" Ujar Ummi Fathmah mulai berbicara.


Ia meletakkan amplop coklat yang sangat tebal dan sebuah kertas yang nampak seperti selembar cek.


"Maaf, maksud umi apa ya? " Tanya Maymunah keheranan.


"Aku kasih kamu uang ini, lihat ! Jumlah nya sangat banyak. Di amplop ini ada uang sebanyak 50 ribu riyal dan di cek ini juga ada 50 ribu, jadi jumlahnya 100 ribu.


Dada Maymunah terasa bergemuruh menahan amarah yang terpendam di hatinya


Dia mencoba menarik nafas, kemudian dia memegang cek dan amplop itu.


"Baiklah, saya terima uang ini, jadi sekarang uang ini milik saya , iya kan Ummi?" Tanya Maymunah sambil memegang cek dan amplop di tangannya.


Ragad dan Ummi Fathmah terlihat tersenyum mengejek, sedang Ibtisam terlihat kecewa.


"Iya, kalau begitu kita deal ya, kamu terima uang itu dan kamu pergi sekarang tinggalkan Sultan" Jawab Ummi Fathmah.


"Sudah ku duga, kau cuma menginginkan uang kami, dasar pembantu sialan " Sahut Ragad ketus.


Maymunah tersenyum miring.


"Baiklah, jadi ini sekarang uang saya kan? Kalau begitu, sekarang saya akan kasih ini ke Ummi, dan sebagai imbalannya saya mau Ummi harus merelakan Sultan pergi denganku ke Indonesia.


Bagaimana? Apa Ummi bersedia?"


Jderr


"Apa maksudmu?" Ummi Fathmah bertanya dengan keheranan.


"Maksud saya sudah jelas, saya akan memberi Ummi uang ini dan saya akan ambil Sultan dari tangan Ummi"


Ujar Maymunah dengan senyum puasnya.


"Apa kamu sudah gila, mana mungkin saya akan menukar anak saya dengan uang?" Tukas Ummi Fathmah berapi api.


Maymunah kembali tersenyum.


"Kalau begitu jawaban saya juga sama, Sultan adalah suami saya, jadi mana mungkin saya akan menukar suami saya dengan uang?"


"Miskin aja belagu, dikasih uang pake nolak" sahut Ragad lagi-lagi membuat Maymunah tertawa.


"Hehe Ragad Ragad, tadi kamu bilang saya matre dan cuma ingin uang, dan kini setelah saya tolak, kamu malah bilang saya belagu, maksud kamu bagaimana sih?"


Ragad terlihat matikutu tak bisa menjawab lagi.


"Baik, lalu mau kamu apa, apa kamu mau Sultan jadi anak durhaka?" Ummi Fathmah berbicara lagi.


"Maaf Ummi, saya tidak pernah meminta Sultan untuk durhaka sama Ummi, saya hanya ingin Sultan menikahi saya secara resmi agar anaknya ini punya identitas resmi, apa itu hal yang termasuk durhaka? Bukankah ini cucu Ummi, darah daging Ummi, apa Ummi tega nanti dia hidup tanpa identitas? Lalu dia bagaimana nanti akan sekolah dan akan menjalani hidupnya Ummi?"


Ujar Maymunah tegas sambil memegang perut nya, menunjukan kehamilannya.

__ADS_1


Ummi Fathmah terdiam, ia sebenarnya mengakui kebenaran kata-kata Maymunah tapi ia tak mungkin membatalkan pernikahan.


"Lalu bagaimana dengan pernikahan nya yang telah kami rancang dan besok lusa akan diselenggarakan? Apa kamu mau itu dibatalkan? Apa kamu mau, aku dan keluargaku dipermalukan?"


Jawab Ummi Fathmah dengan berapi api.


Maymunah terdiam, dia bingung harus bagaimana memutuskan, dia tak sanggup dipoligami, tapi ia tak mau Sultan jadi anak durhaka.


"Maymunah, aku punya usul, kamu bisa tetap jadi istri Sultan, tapi kamù harus membiarkan Sultan menikah lagi, karena kalau gagal, keluarga kami akan dipermalukan. " Kali ini Ibtisam yang berbicara.


"Maksudnya saya akan dipoligami? Apa nanti saya akan diperlakukan dengan adil oleh Sultan dan kalian semua?"


Ummi Fathmah saling pandang dengan anak-anaknya.


"Tentu saja, kamu pasti diperlakukan adil, Maymunah" Ibtisam yang menjawab.


"Halah, kamu ini Ibtisam, ngapain sih kita jadi yang nuruti kata-kata dia? Kita kesini untuk menekannya, dan membuat dia pergi dari hidup Sultan, kenapa sekarang kita yang harus ngalah sama pembantu ini" Teriak Ragad membantah Ibtisam.


"Cukup Ragad! Kenapa sejak dulu kamu ini selalu menghinaku karena aku pembantu?"


Tanya Maymunah dengan suara lantang.


Ragad tersenyum sinis.


"Ya kan kamu memang pembantu " Jawab nya dengan pandangan merendahkan.


Maymunah menghadap ke arah Ragad dan menatap nya dengan tajam.


" Memangnya kenapa kalau aku pembantu? Apa ada ayat Alquran yang melarang anak laki-laki kalian untuk menikahi pembantu?" Tanya Maymunah sambil memandang tajam ke arah mertua dan ipar nya.


"Ya, emang gak ada ayat yang larang, tapi .." Kata kata Ragad kembali dicegat oleh Maymunah.


"Tapi apa, Apa karena aku pernah bekerja dirumah kalian, lantas kalian merasa bahwa kalian ini memiliki drajat yang lebih tinggi dariku, begitu kah?"


"Memangnya setinggi apa derajat kalian, sehingga berani menyombongkan diri di depan sesama manusia dan sesama muslim?" Tanya Maymunah lantang


Kemudian dia menoleh ke arah mertuanya.


"Ummi, dan anda madam Ibtisam, kalian muslim kan? Dan kalian masih menganggap Nabi Muhammad sebagai panutan kalian, kan? Tanya Maymunah sarkas.


"Tentu saja, apa maksud kamu bertanya begitu?" Ummi Fathmah menjawab .


"Kalau kalian muslim, dan kalian menganggap Nabi Muhammad sebagai panutan kalian, lalu kenapa kalian tidak mengajarkan akhlaqul karimah yang diajarkan Rousululloh pada anak kalian yang satu ini?"


Wajah Ibtisam dan ummi fathmah seketika memerah mendengar pertanyaan sarkas yang dilontarkan Maymunah.


"Heh maksud kamu apa?" Tanya Ragad dengan nada yang masih tinggi.


"Kamu tidak faham maksudku? Memangnya kalau di sekolah, kamu ini tidak diajarkan agama? Apa kamu tidak pernah dikasih tau tentang Akhlak Nabi Muhammad?


Kalau kau merasa dirimu sebagai muslim, harusnya kau meneladani Nabi Muhammad yang selalu menyuruh umatnya agar bersifat Tawadu terhadap sesama muslim.


Dan harusnya kau tau bahwa Alquran menjelaskan bahwa Allah SWT tidak membeda bedakan derajat manusia dari kekayaannya.


Allah dan Rosulnya saja tidak pernah membedakan derajat manusia,


Lalu kamu? Siapa kamu, dan setinggi apa derajatmu sehingga kau berani berbuat sombong dan merendahkan sesama"


Ragad tak bisa lagi menjawab Maymunah, Sementara Ummi Fathmah dan Ibtisam merasa tertohok dengan ucapan Maymunah yang santai tapi menusuk itu.


Maymunah kembali menatap mertuanya.


"Saya mohon maaf kalau kata-kata saya tadi menyinggung Ummi, Sebagai menantu Ummi, saya hanya prihatin melihat anak Ummi tidak berprilaku seperti layaknya muslimah yang dicontohkan oleh Para Sohabiyat dulu.


Ucapnya sambil menatap mertuanya.


Ummi Fathmah memalingkan wajahnya.


"Ummah, aku pergi duluan" Ucap Ragad sambil berlalu tanpa menoleh kearah Maymunah.


"Ya sudah, kita pergi juga, ayo Ibtisam " Ujar Ummi Fathmah sambil berdiri dan bermaksud pergi.


Tapi Maymunah menahannya dengan kata-kata tajamnya.


" Setau saya , seorang muslim itu jika datang bertamu dia akan mengucap salam dan kalau pergi juga akan berpamitan" Ujar Maymunah santai tapi menohok, hingga membuat Ummi Fathmah menghentikan langkahnya.


Ia berhenti, tapi tak menoleh, ia hanya memejamkan matanya dan kembali melanjutkan langkah nya. Sebenarnya ia bukan tak ingin berpamitan , tapi ia sudah terlanjur malu karena perkataan Maymunah yang menyindirnya tak bisa mendidik anaknya.


Ibtisam yang merasa malu dengan tingkah ibu dan adiknya itu kini menghadap kearah Maymunah dan meminta maaf atas nama mereka.


"Maymunah, maafkan tingkah Ragad dan mama ya" Ujarnya sambil tertunduk.


Maymunah tersenyum lembut.


"Tak usah minta maaf kak, saya bukan benci tapi prihatin.


Karena kita muslim, dan sebagai seorang muslim kita pasti tau bahwa kesombongan itu hanya berhak dimiliki oleh Allah, Dan Allah akan memasukan mahluk nya yang memiliki sifat sombong ke neraka, walaupun sifat sombongnya itu cuma secuil. Dan sebagai sesama muslim sudah seharusnya saling mengingatkan, iya kan?"


Ibtisam akhirnya berpamitan dan meninggalkan Maymunah dengan sejuta rasa bimbangnya.

__ADS_1


__ADS_2