
Mobil terus melaju menembus jalanan menuju Bandara Soekarno Hatta.
Setelah beberapa jam mereka di perjalanan, akhirnya mereka sampai di Bandara Soekarno Hatta.
"Alhamdulillah, akhirnya kita sampe. Ayo turun!" titah Sultan setelah mereka sampai di Bandara.
Maymunah dan Sultan segera menuju tempat pemeriksaan pasport dan visa.
Setelah proses pemeriksaan selesai, mereka segera menuju ruang tunggu.
Di ruang tunggu, mereka duduk agak berjauhan karena memang takut terjadi fitnah.
"Sultan?" seru salah seorang WNA Saudi, yang mengenal Sultan.
"Aha ... Ali? enta hena?" jawab Sultan yang mengenali temannya.
Sultan pun mengajak Ali pergi ke cafe untuk berbincang-bincang tanpa berpamitan pada Maymunah.
"Dasar Sultan, aku ditinggal begitu saja. Aku haus, tapi lupa bawa air minum. Mana dia gak ngasih uang lagi?" gerutu Maymunah.
Ia melangkah menuju minimarket yang ada di ruang tunggu itu.
"Ya Allah, aku lapar dan haùs, tapi dia gak kasih uang. Dan dia juga lupa sama aku di sini. Malah asyik mengobrol bersama temannya."
Maymunah terus menggerutu karena ia sama sekali tak memegang uang.
Ia memeriksa dompetnya dan yang ada hanyà recehan.
"Ya Allah, cuma ada sepuluh ribu, itu pun receh. Gimana ini, masa aku beli di Bandara kaya gini pake recehan gini? memalukan. Tapi kalau gak beli air, aku haus."
Maymunah akhirnya terpaksa pergi ke minimarket dengan membawa uang recehan itu.
Ia berjalan sambil menimang-nimang uang receh di tangannya sampai ia tak melihat orang lain di depannya dan menabraknya.
Brugg..
Brussh..
Maymunah menabrak orang hingga menumpahkan jus yang di+bawa orang itu.
"Yah..tumpah dah jus nya!" Keluh laki-laki itu ketika melihat jusnya tumpah.
__ADS_1
"Maaf mas, Maaf" ucap Maymunah sambil menangkupkan kedua tangannya.
"Gak apa apa mbak. Lain kali hati-hati. Eh..kamu ... Kamu Mae, kan? Maymunah, iya, kan?" tanya laki-laki itu yang ternyata mengenali Maymunah.
Maymunah terperangah mendengar laki-laki di depannya menyebut namanya.
Ia memberanikan diri memandang pria tampan di depannya.
Seorang pemuda tampan yang umurnya kira-kira setahun di atasnya.
"Pasti gak ngenalin, kan? Sebentar!" Pemuda itu mengeluarkan kaca mata dari sakunya dan memakainya .
"Sudah ingat, siapa aku?" tanyanya sambil melepas kacamatanya dan menaik turunkan alisnya.
"Ah.Kak Fawwaz? Iya kan?" pekik Maymunah penuh kegembiraan ketika mengenali laki-laki di depannya.
Wajahnya memerah mengingat kenangan masa lalunya.
Fawwaz adalah kakak kelasnya sewaktu SMA, seorang pemuda tampan dan cerdas yang selalu berkacamata dan menjadi idola setiap siswi di sekolahnya dulu.
Maymunah juga sempat memendam rasa suka pada Fawwaz, namun ia tak pernah menampakkan di depan orang lain seperti gadis lainnya.
"Ma sya Allah, aku gak nyangka aku akan bertemu kamu di sini, Mae" Ujar Fawwaz.
Baginya Maymunah adalah gadis istimewa, selain cerdas, Maymunah juga sangat santun dan dia tak pernah keganjenan mengejarnya seperti gadis lain.
"Sebentar, biar saya bersihin tumpahan jus ini"Ujar Maymunah sambil mencari petugas clining service dan meminjam alat pembersih darinya.
"Eh, gak usah Mae, biar mbaknya aja yang bersihin, iya kan mbak?" Fawwaz mencegah Maymunah yang mau mengelap lantai. Ia segera memberikan kembali alat pel itu ke CS yang ia panggil dan langsung memberinya sedikit uang sebagai tanda permintaan maaf telah merepotkan.
"Mae, kita ke cafe dulu yu. Kamu belum makan kan?" Ajak Fawwaz.
Ia mempersilahkan Maymunah tanpa menyentuhnya karena ia tau, dari dulu Maymunah anti bersalaman dengan laki-laki bukan mahram.
"Gak usah kak. Saya gak bisa, saya bawa barangnya banyak." Jawab Maymunah sambil menunjukan kopernya.
"Iya ya, kok kamu bawa koper banyak sekali? Ada dua, mana besar besar. Emang punya siapa?"
Maymunah cuma tersenyum simpul, tak berani menjawab pertanyaan Fawwaz.
Ia sebenarnya kesal dengan sikap Sultan yang meninggalkannya bersama koper bawaannya karena melihat teman se-negaranya.
__ADS_1
" Gak usah khawatir, kita titipin dulu. Kebetulan aku sama teman. Ayo, kita kesana! Aku titipin koper kamu ke dia"
Maymunah menuruti Fawwaz.
Fawwaz menarik koper Maymunah, membawanya ke depan sahabatnya.
" Akhy Ahmad, boleh nitip koper ini gak? kami mau makan?" Tanyanya sambil menaruh koper itu di depan Ahmad, temannya.
Ahmad mendongak, Ia mengernyitkan dahinya ketika melihat ada sosok wanita di samping Fawwaz temannya, yang terkenal dingin dan cuek terhadap mahluk yang namanya perempuan.
"Boleh, tapi ini siapa? pastinya bukan adik kamu kan?"
Fawwaz tersipu mendengar pertanyaan temannya.
"Hehe, ini adik kelasku. Kebetulan kami bertemu di sana. Aku akan ajak dia makan dulu. Ya udah, kami pergi dulu. Ayo Mae!" Karena Fawwaz tak mau di interogasi oleh temannya, Ia langsung mengajak Maymunah pergi, tapi Ahmad mencegahnya.
"Eh tunggu, tunggu ! Rasanya aku pernah lihat gadis ini..Oh ya, aku ingat ..Kalau tak salah aku selalu lihat potonya di dompetmu. Iya kan?"
Fawwaz terlihat tersipu sambil memandang ke arah Maymunah yang kini tertunduk dengan seribu rasa di hatinya.
"Ya Allah, potoku selalu disimpan kak Fawwaz, apa dia suka padaku? Ah..Astagfirullah ..prasaan apa ini?" Gumam Maymunah dalam hatinya.
"Ya udah, sana ke cafe! jangan bengong kaya gitu..dan aku harap kali ini kamu jangan sampai kehilangan jejaknya lagi" Ujar Ahmad sambil menepuk pundak Fawwaz.
Dengan beribu rasa aneh yang berbuncah di dalam dada mereka, mereka berdua melangkah menuju cafe.
Karena saking tak tau harus bagaimana dan bimbang dengan rasa yang ada dalam hatinya,
Maymunah sampai tak menyadari bahwa di dalam Cafe itu ada sepasang mata tajam yang terbelalak melihat pujaan hatinya berjalan beriringan dengan pria yang tak ia kenal.
Ya, Sultan yang sejak tadi berada di dalam Cafe itu melihat Maymunah masuk beriringan dengan Fawwaz.
Tangannya mengepal menahan cemburu yang kini membakar hatinya.
"Sultan, kamu kenapa..Akhh kamu naksir ya, sama gadis Indonesia yang ada di sana?" Tanya Ali yang melihat Sahabatnya bengong melihat ke arah Maymunah.
"Cantik, tapi kayanya udah punya suami. Tuh dia sama laki -laki duduk di sana" Tambah Ali membuat dada Sultan terasa memanas karena terbakar api cemburu.
"Kau tunggu di sini! " Titahnya pada Ali seraya berdiri dan melangkah menuju meja di mana Maymunah dan Fawwaz duduk.
Sultan melangkah meninggalkan temannya yang terheran -heran melihat sahabatnya yang terlihat cemburu.
__ADS_1
"Aneh, kok dia seperti marah melihat wanita Indonesia itu bersama pria lain?..Akhh aku ingat, dia kan tadi ada di dekat Sultan sewaktu aku melihatnya. Apa hubungan Sultan dengan wanita itu? Gumam Ali sambil mengikuti sahabatnya.