
Maymunah membawa Sumayya ke kamar Sultan.
"Sumayya, kamu istirahatlah!. Aku akan kasih tau temanku Susi untuk memberimu makan siang, kamu belum makan dari pagi, iya kan?"
Ujar MAymunah setelah membantu Sumayya berbaring.
"Aku gak mau makan, biar saja aku kelaparan, aku gak mau anak ini makan" Jawab Sumayya sambil meremas perutnya sendiri.
"Astagfirullah, jangan berkata begitu terus! Kenapa kamu selalu menyalahkan anakmu.?
Mohon maaf, tapi yang salah itu kamu, harusnya kamu menjaga anak ini untuk menebus kesalahanmu padanya"
"Tapi nanti tidak ada yang menginginkan anak ini? siapa yang akan merawatnya"
"Ada yang menginginkan atau tidak, yang jelas Allah sudah menciptakan anak ini dalam rahimmu, maka sudah menjadi tugasmu, untuk menjaganya. Soal kehidupannya nanti, Itu adalah urusan Allah, Allah sudah menciptakan anak ini, itu berarti Allah sudah menyiapkan rizky untuknya. Ya sudah, aku pergi ke dapur dulu. Kamu istirahat nanti habis magrib aku kesini"
Maymunah segera bergegas ke dapur untuk menemui teman-teman sesama Indonesianya.
"Assalamu alaikum teteh teteh" Sapanya setelah berada di dapur.
Susi dan Aminah bersorak gembira, hanya Lilis yang masih setia dengan wajah cemberut dan sinisnya.
"Mae..Ma sha Allah, kamu tambah cantik aja" Ujar Susi menyambut Maymunah.
"Kan udah dari sononya semua wanita itu cantik hehe , Oh ya ..Teh, masih ada makanan gak? kalau ada tolong siapkan makanan di nampan ya"
Belum sempat Maymunah bicara lagi, Lilis sudah mencegatnya.
"Halah, sombong banget sih ..baru nikah siri sama Sultan aja udah sombong.. kalau mau makan ya ambil sendiri, ngapain nyuruh orang.. Kamu itu mesti iengt, istri sah Sultan itu Sumayya, bukan kamu..sekarang aja mereka mau kesini karena ada acara ngunduh mantu" Crocos Lilis memotong ucapan Maymunah.
Maymunah hanya menggelengkan kepalanya.
"Sudah selesai, bicaranya teh Lilis? Teh Susi, tolong siapin aja ya nanti bawa ke kamar Sultan, kasih kan ke Sumayya, dia sakit dan dia belum makan siang tadi.." Maymunah akhirnya bisa menyelesaikan kata-katanya.
Hingga membuat Susi dan Lilis tercengang.
"Maksud kamu, aku ngambil makanan buat Sumayya? " Tanya Susi.
"Iya, teh. Bukan buat aku. Aku mah bisa ngambil sendiri, kan aku ini cuma pembantu..iya kan teh Lilis?" Sindir Maymunah pada lilis yang berlalu pergi dari dapur.
"Wah neng Mae, apa neng gak sakit hati? itu kan madu nya neng Mae?"
Tanya Aminah menimpali.
"Hehe ya ini gak ada hubungannya dengan sakit hati, Sumayya itu lagi sakit, jadi harus kita bantu merawatnya. "
"Neng Mae mah kuatan ya, mau di madu segala"
"Ah gak juga, siapa sih wanita yang kuat di madu? Meski ada yang ikhlas, tapi kalau namanya rasa sakit, pasti akan ada. Begitu juga aku..hehe Aku juga sama teh"
" Buktinya neng Mae, mau menjalaninya bahkan sekarang tampak akrab. Kan kalau neng sakit hati, gak mungkin neng diem aja " ucap aminah.
Maymunah terkekeh.
"Emangnya kalau aku sakit hati, aku harus gimana teh? Apa aku harus ngamuk Sultan? atau ngamuk di sini, terus nangis guling -guling kaya gitu ya? hehe? "
Aminah dan Susi ikut terkekeh.
__ADS_1
" Teteh tau? Aku juga sama teh, hati aku sakit saat aku tau aku mau dimadu. Tapi aku gak mungkin ngamuk pake nyakar orang teh..hehe karena itu gak akan ada gunanya.
Ibarat kita di sekolah, kita di suruh ikut lomba, tapi lomba itu ditentukan oleh sang panitia, dan kebetulan kita di suruh melakukan lomba yang tidak kita kuasai tapi kita ingin jadi juara. Menurut teteh, apa yang akan teteh lakukan?
Apa teteh akan nangis guling-guling? atau akan berteriak-teriak atau akan turun dari panggung dan tidak akan ikut lomba..? " Tanya Maymunah mengetes temannya.
" Hmm kalau kita nangis guling -guling atau memaki panitia lomba ..apa kita akan mendapat rangking atau juara? Tidak kan? malah akan malu haha..
Kalau kita maju terus, kita juga tetap akan gagal karena gak sanggup? Lalu apa yang harus kita lakukan?.."
Susi dan Aminah menggelengkan kepala.
"Kalau saya, ya saya akan datang ke panitia dan merayunya agar ngasih kita materi lomba lain, lomba yang kita kuasai , Aku yakin, panitia itu akan mengganti materi lomba dengan yang lain..iya kan?"
"Betul juga, tapi apa hubungannya lomba dengan poligami?" Tanya Susi polos membuat Maymunah kembali terkekeh.
" Haha..Ya kan kita dipoligami atau tidak, itu adalah sesuatu yang diatur oleh Allah, nah kalau misal kita dihadapkan dengan poligami terus kita tidak mampu menghadapi dan menjalaninya, maka yang harus kita lakukan adalah memohon pada Allah untuk merubah jalan Takdir kita dan menggantinya dengan yang lebih baik dan yang mampu kita jalani.
Makanya saat aku menghadapi poligami ini, aku tidak mungkin berteriak-teriak marah atau menangis dan kabur dari sini, karena itu tidak akan menyelesaikan masalahku.
Aku hanya perlu pasrah dan merajuk pada Sang pengatur hidupku agar memberiku taqdir yang lebih baik dan yang akan mampu aku jalani. Dan Alhamdulillah, Allah sudah mengabulkan dengan cara nya yang tak terduga.. Allah sudah mengakhiri taqdir poligami yang ku hadapi dengan cara nya sendiri tanpa aku minta Sultan untuk mengakhiri dan tanpa aku melukai orang lain." Tutur Maymunah.
"Maksud kamu apa Mae?" Susi bertanya lagi.
"Nanti juga kalian akan tau"
Belum selesai Maymunah berbicara, tiba-tiba dari dalam , ada yang berteriak memanggil nama Maymunah dengan kasar.
"Maymunah, kemari kamu! Dasar wanita jahat! Kenapa kau mengacaukan pernikahan adik sepupuku?" Teriak Gaida, Istri Wasim. Ia datang ke dapur dengan penuh amarah.
"Ada apa Gaida? kenapa kamu marah-marah?" Tanya Maymunah santai.
"Eh lepas, kenapa kamu menarik aku, aku bisa jatuh..ah anakku! " jerit Maymunah, ia tak berdaya karena memang harus menjaga anaknya.
"Hey lepaskan Maymunah.. aduh aku harus lapor Sultan " ..
Susi segera berlari ke arah ruang tamu laki-laki untuk memanggil Sultan.
Sementara itu Gaida kini berhasil menarik Maymunah sampai ruang keluarga.
"Ammati, ini dia perempuan placur yang sudah merayu Sultan agar mencerai Sumayya " Teriak Gaida sambil menarik tangan Maymunah kasar sampai ia tersungkur ke lantai.
"Ya Allah, Maymunah " Teriak Ibtisam seraya meraih tubuh MAymunah yang hampir terjatuh di lantai.
" Ahkk aku gak apa apa, dan semoga bayiku juga gak apa apa" Jawab Maymunah sambil berusaha bangun.
"Gaida, apa yang kau lakukan?"
Teriak Hanan?
"Aku hanya memberi wanita ini pelajaran saja, karena dia telah berani merebut Sultan dari Suamyya" Ujar Gaida penuh kesombongan.
"Oh jadi pembantu kurang ajar ini adalah istri Sultan?, Fathmah kenapa membiarkan Sultan menikahi pembantu dan mencerai Sumayya ?" Tanya ibu nya Gaida pada Ummi Fathmah, namun Ummi Fathmah hanya diam saja, ia tak tau harus berbicara apa.
Ia ingin membela menantunya, tapi ia kelewat gengsi.
"Cukup! dari tadi kamu berteriak padaku dan mengataiku. Aku diam dan tidak melawan saat kau tarik, karena aku khawatir jatuh dan membahayakan bayiku." Teriak Maymunah lantang.
__ADS_1
"Oh jadi kamu sudah hamil duluan, pantas saja..dasar murahan! " Gaida terus memaki.
"Cukup! siapa yang berani menghina istriku?" Teriak Sultan dari luar ruang keluarga.
"Dengar! Kalau ada yang berani menghina istriku lagi, aku terpaksa masuk ke sana " Sultan hanya berteriak dari luar ruangan, karena di dalam ruangan keluarga itu banyak perempuan bukan mahram yang tidak boleh dilihat.
"Tidak apa apa Sultan, aku akan mengatasi mereka" Jawab Maymunah menenangkan suaminya, kemudian beralih menghadap Gaida.
"Gaida, aku menghormati mu karena kau adalah istri Wasim, yang merupakan kakak Sultan. Tapi sikap mu ini sangat keterlaluan.
Tadi kamu bilang aku penyebab perceraian Sultan dan Sumayya, siapa yang mengatakan?"
Tanya Maymunah. Kali ini ia berbicara santai .
"Gak ada yang mengatakan, cuma tadi Sumayya bilang dia sudah dicrai talak tiga oleh Sultan dan aku pikir itu pasti karena kamu, emang gara-gara apa lagi?"
Jawab Gaida santai.
Maymunah mengembuskan nafasnya dengan kasar.
"Jadi itu artinya kau memfitnahku?, Apa kamu tidak malu Gaida? kau tau fitnah itu lebih dahsyat dari pembubuhan, yang berarti dosanya juga lebih besar dari membunuh. Dan anda dengar madam? Gaida ini hanya ingin memfitnahku. Perceraian Sultan dengan Sumayya bukan karena aku, itu murni adalah masalah anak kalian."
"Memangnya keponakanku punya masalah apa? kamu jangan memfitnah, keponakanku tidak mungkin membuat masalah, keponakanku adalah gadis terhormat dan berpendidikan, dia gadis yang pastinya lebih baik dari seorang pembantu seperti kamu" Teriak ibunya Gaida.
Maymunah tersenyum sinis.
Sementara Ibtisam dan Ummi Fathmah menunduk malu pada Maymunah yang terus disalahkan, padahal itu sama sekali bukan salahnya.
"Maymunah, kalau itu bukan karena mu, sebaiknya kau katakan apa masalahnya, jangan membuat keluarga kami malu. Ini semua gara-gara Sultan, kenapa dia menikahi pembantu seperti mu?" Teriak syifa membela ibunya Gaida dan Sumayya.
"Maaf, saya tidak akan mengatakan apa masalahnya, karena saya buka pengumbar aib orang lain. Meski kalian mencaci maki saya, saya tidak akan mengumbar aib orang lain.
Kalau kalian ingin tau masalahnya, silahkan kalian tanyakan sendiri pada Sumayya " Jawab Maymunah santai.
"Meskipun saya bukan orang Arab, dan saya bukan orang kaya, saya juga cuma pembantu, tapi Alhamdulillah saya tau siapa yang harus saya teladani.
Alhamdulilah saya meneladani Nabi Muhammad, sedangkan kalian malah meneladani Firaun yang selalu sombong dan angkuh"
"Kau..Gaida, ayo ajak Sumayya keluar, kita tak akan lama-lama di sini. Mereka lebih peduli pada pembantu dari pada kita"
Ujar Ibunya Gaida dan Sumayya. Mereka segera mengeluarkan Sumayya dari kamar Sultan, kemudian berpamitan pada Ummi Fathmah yang terus diam membisu.
"Ummah sebentar aku pamitan dulu" Ujar Sumayya.
Dia berjalan ke arah Ummi Fathmah dan bersimpuh di depan mertuanya.
"Ammati maafkan saya , karena saya telah mengecewakan ammah" Ucapnya sambil tersedu-sedu, tapi segera ditarik oleh ibunya Gaida.
"Ayo berdiri, ngapain kamu berlutut padanya " Ujar ibu Gaida sambil menarik tangan Sumayya, tapi lagi lagi Sumayya memberontak dan kemudian berlari memeluk Maymunah dengan erat.
"Maymunah, aku .." Ia tak mampu mengeluarkan kata-kata.
Maymunah melepas pelukan Sumayya dan memegang pundaknya.
"Kamu harus kuat, ingatlah kata-kataku, jika kau bersama Allah, maka Allah akan membantumu dalam setiap hal" Ujarnya sambil kembali memeluk Sumayya.
Ummi Fathmah dan Ibtisam yang melihat hal itu..kini hatinya terasa meleleh tak kuasa menahan malu.
__ADS_1
Maymunah dari tadi dihina dan di salahkan, tapi dia tetap diam tak mengumbar aib Sumayya.