
Hari berganti hari, sebulan sudah Maymunah berada di rumah mertuanya sebagai pembantu.
Meski lelah dan sedih, tapi ia tetap melalui semuanya dengan penuh keceriaan.
"Maymunah, ini gajihmu sebulan. Semoga bermanfaat ya. Kalau kamu mau mengirim uang, kamu bilang aja ke Sultan." Ujar Ummi Fathmah sambil menyerahkan sebuah amplop.
Dengan senyum bahagia, Maymunah menerima amplop itu.
"Syukron ya Ummi, jazakillah khoir" Jawab Maymunah.
"Iya sama sama. Oh ya, besok aku akan mengajakmu ke kebun, kita akan pergi menemui keluarga Summayyah, kami akan membicarakan pertunangan Sultan dan Sumayya"
Ucap Ummi Fathmah sambil berlalu dari hadapan Maymunah.
Dada Maymunah seketika terasa sesak membayangkan Sultan akan bertunangan.
Sudah sebulan ia di situ, tapi Sultan belum berani mengungkapkan tentang pernikahan mereka pada ibunya.
Sultan yang melihat ibunya sudah keluar dari dapur, segera bergegas menuju dapur.
Ia tersentak kaget melihat Maymunah termenung dengan bercucuran airmata.
"Sayang, kamu kenapa?" Tanyanya penuh kekhawatiran.
"Sudah sebulan aku disini, belum ada perkembangan juga" Jawab Maymunah lesu.
Sultan tertunduk, ia merasa bersalah karena belum bisa memenuhi janjinya pada Maymunah.
"Tapi aku sudah ke KBRI"Jawabnya setengah berbisik.
Kedua sudut bibir Maymunah seketika melengkung ke atas mengukir sebuah senyuman indah yang membuat hati Sultan terasa damai.
"Benarkah? Apa kamu sudah mulai mendaftarkan pernikahan kita?"
"Iya, tapi nanti kamu harus ikut denganku kesana"
"Ok, Sekarang aku mau ngirim uang, tolong kirimin buat ema, ya" Ujar Maymunah sambil menyerahkan amplop yang ia terima dari Ummi Fathmah.
"Simpan itu buat keperluanmu saja, ema sudah aku kirimin uang. Kemaren aku sudah transfer ke rekening Rahmat"
Maymunah menunduk penuh haru mendengar jawaban suaminya, ia hampir saja berburuk sangka pada suaminya itu. Ternyata Sultan sangat memperhatikannya bahkan ia sangat bertanggung jawab termasuk pada keluarganya.
"Syukron, jazakalloh khoir"
"Aku mau kamu membalasnya dengan doa-doamu. Kata Wasim, doa istri itu sangat mustajab bagi kelangsungan dan kesejahteraan rumah tangga. Apa itu benar?"
"Iya, tentu saja aku akan mendoakanmu di setiap sujudku" .
"Ya sudah, sekarang aku pergi dulu. Ingat, aku gak mau melihatmu menangis lagi. Ok? " Ujar Sultan seraya melangkah pergi meninggalkan istrinya yang masih menebar senyum bahagianya.
Hari telah berganti sore,Maymunah sudah menyiapkan semua keperluan mertuanya untuk piknik.
Ummi Fathmah mengajak anak-anak dan calon besannya untuk berkumpul di sebuah perkebunan yang memang sudah dijadikan tempat wisata.
Satu jam kemudian, Mereka sampai di sebuah perkebunan bunga yang sangat indah.
__ADS_1
Orang-orang Saudi sudah mulai memanfaatkan lahan subur di Thaif untuk membudidayakan bunga.
Ummi Fathmah menyewa sebuah tempat untuk mereka berkumpul
Mereka menyewa dua tempat, yang satu untuk laki-laki dan yang satu khusus untuk para wanita.
"Maymunah, apa kabar?" Sapa Sumayyah dengan lemah lembut pada Maymunah yang sedang membereskan perlengkapan piknik mereka.
Sultan sebenarnya ingin membantu istrinya, tapi ia tak sanggup mendekat karena memang mereka dilarang bercampur baur antara laki-laki dan perempuan.
"Alhamdulillah aku baik. Kamu apa kabar?" Maymunah balik bertanya.
Karena Maymunah tak mau mendengar percakapan mereka, Maymunah undur diri dan pergi menuju sebuah tempat duduk yang agak jauh dari mereka.
"Ya Allah, mereka sekarang sedang membicarakan pertunangan Sultan dan Summayyah, apa pernikahan ini akan tetap terjadi? apa aku akan dipoligami?" Batin Maymunah.
"Maymunah, kamu kenapa duduk di sini?" Sumayya mendekat ke arah Maymunah.
"Saya gak enak hati kalau duduk bersama kalian " Jawab Maymunah.
"Gak apa apa kok, mereka juga sudah selesai, sekarang mereka cuma lagi ngobrol santai" Sumayya duduk di sebelah Maymunah.
"Kalau begitu selamat ya, karena sebentar lagi kamu bertunangan" Ujar Maymunah dengan senyum yang dipaksakan.
Hati Maymunah berdetak tak karuan berada di dekat orang yang sebentar lagi akan menjadi madunya itu.
Sumayya terlihat tersenyum kecut, Ia menghela nafas, seakan ia ingin melepas beban yang menghimpit dadanya.
"Maymunah apa aku boleh bertanya?" Tanya Sumayya tanpa melihat kearah Maymunah.
Maymunah mengangguk sambil tersenyum.
"Apa kamu punya pacar?"
Alis Maymunah mengernyit mendengar pernyataan calon madunya itu.
"Aku sudah menikah" Jawabnya lirih.
"Wah, pasti kamu menikah dengan laki-laki pilihanmu sendiri, iya kan?. Aku dengar di Indonesia seorang gadis diperbolehkan memilih calonnya sendiri, di sana juga banyak yang berpacaran, apa kamu berpacaran sebelum menikah? " Tanya Sumayya beruntun.
Maymunah kembali tersenyum.
"Ya, itu benar. Di Indonesia, seorang gadis memang diberi kebebasan untuk menentukan pilihan sendiri. Tapi aku menikah bukan dengan pilihanku atau pilihan orang tuaku. Aku menikah dengan laki-laki yang dipilihkan oleh Allah untukku"
"Maksud kamu bagaimana?" Tanya Sumayya keheranan dengan jawaban Maymunah.
"Laki-laki itu datang begitu saja untuk menikahiku, aku tak pernah mencintai dia sebelumnya, dan orang tuaku juga tidak mengenalnya."
"Aneh, kenapa kalian langsung menikah?"
"Aku tidak bisa menjelaskan sebabnya secara detail. Yang jelas, itu adalah jodoh. Bukankah Allah SWT sudah menentukan jodoh kita di lauhil mahfudz?"
Sumayya manggut -manggut.
"Tapi aku sangat iri dengan kalian, karena kalian diberi kebebasan untuk memilih calon suami kalian. Tidak seperti di sini, di sini kami selalu dipilihkan jodoh oleh orang tua kami. Kami tidak diberi kebebasan untuk menentukan calon yang terbaik menurut kami." Tutur Sumayya, meluapkan kekesalan dan beban yang menghimpitnya.
__ADS_1
"Tapi bukankah kalian juga diberi kebebasan untuk menerima atau menolak laki-laki yang akan dijodohkan dengan kalian?"
"Iya sih, tapi kalau orang tua kami sudah punya kesepakatan, kami tetap saja tak bisa menolak perjodohan ini"
Maymunah melirik kearah Sumayya, ada sepercik harapan terbersit dihatinya. Ia berharap Sumayya akan menolak perjodohannya dengan Sultan.
"Apa kamu punya pilihan lain selain Sultan? Maaf aku gak bermaksud lancang" Maymunah mencoba bertanya.
Sumayya melirik kearah keluarganya.
"Apa kamu bisa menjaga rahasia?" Tanya Sumayya sambil sesekali melirik kearah keluarganya.
"In sha Allah"Jawab Maymunah.
"Iya, aku ada pilihan lain. Tapi itu sangat mustahil, orang tuaku dan orang tuanya akan menolak keinginan kami. Dia juga akan menikah."
Ujarnya dengan suara lirih.
Maymunah menatap calon madunya itu dengan rasa iba. Ia tak tau harus mengatakan apa, ia berharap pernikahan Sultan dan Sumayya tidak terjadi, tapi ia tak mungkin juga menggagalkan pernikahan mereka.
"Sabar ya " Hanya kata itu yang terucap dari bibirnya.
Sumayya kembali tersenyum kecut.
"Ya, makanya aku iri dengan kalian. Kalian bisa menentukan pilihan sendiri dan bisa memilih yang terbaik untuk kalian. Tidak seperti aku yang harus menuruti orang tuaku"
"Sumayya, apa aku boleh bicara?"
"Tentu, katakanlah!"
Maymunah mencoba tersenyum sebelum memulai menyampaikan pemikirannya.
"Yang dilakukan orang tua kalian itu adalah bentuk kasih sayang mereka pada anak -anak mereka. Mereka tak mau anak mereka terjerumus ke dalam lembah dosa. Makanya mereka memilihkan yang menurut mereka terbaik. Walaupun pilihan mereka terkadang meleset. Tapi kita tidak bisa menyalahkan mereka"
"Tapi itu sangat menyiksa bagi kami yang sudah punya pilihan lain, akibatnya banyak di antara kami yang gagal dalam berumah tangga, banyak yang tak menemukan kecocokan dalam kehidupan rumah tangga dan itu akan memicu perceraian" ucap Sumayya.
"Apa kamu bisa memastikan bahwa pilihan mu itu adalah yang terbaik?"
Sumayya hanya menggelengkan kepalanya.
"Semua masalah rumah tangga yang kamu sebutkan itu bukan disebabkan oleh perjodohan saja, tapi juga karena mereka tidak faham apa itu hakikat dan tujuan pernikahan."
Maymunah mulai menuturkan.
"Kita ini muslim, dan seorang muslim itu patokan dan panduannya adalah Alquran dan hadis, selain itu kita juga punya panutan yaitu Rosululloh. Apapun yang kita kerjakan semua harus karena Allah. Begitu juga ketika kita menikah, maka kita harus melakukannya karena Allah"
"Ketika kita menikah hanya karena cinta, maka itu akan pudar ketika pasangan kita tak sesuai seperti yang kita harapkan.
Dan Kalau kita menikah hanya karena orang tua, maka kita hanya akan merasa tersiksa karena keterpaksaan.
Tapi jika kita menikah karena ingin mendapat ridho Allah, maka Allah sendiri yang akan memberi kelancaran dan kebahagiaan untuk kita dalam pernikahan kita itu"
"Lalu menurutmu, apa yang harus kulakukan? Apa aku harus menerima perjodohanku dengan Sultan, sementara hatiku ini sangat tak rela. Tapi jika aku menolak, aku juga gak akan mendapatkan laki-laki pilihanku, karena semua akan menentang" Sumayya bertanya lagi.
"Istikhoroh lah, karena hanya Allah yang tau baik buruknya masa depanmu"
"Ya, kamu benar. In sha Allah, aku akan istikhoroh. Ya sudah, kita kembali kesana. Terimakasih sudah mendengarkan curhatanku" Ucap Sumayya, seraya melangkah meninggalkan Maymunah yang masih tak percaya telah berbicara banyak dengan calon madunya itu.
__ADS_1
"Aku juga akan istikhoroh untuk kalian, jika perjodohan kalian baik untukku, aku ikhlas. Tapi jika akan menjadi bumerang untukku, aku berharap Allah sudi menghentikan perjodohan ini dan memberi jalan terbaik untuk kita"
Lirihnya dalam hatinya.