Terjebak Kawin Kontrak dengan Tuan Muda Arab

Terjebak Kawin Kontrak dengan Tuan Muda Arab
Kerumah mertua


__ADS_3

Hari sudah berganti sore, Maymunah sudah mempersiapkan semua keperluannya yang akan ia bawa ke rumah mertuanya.


Hari ini adalah awal dari perjuangannya untuk mendapat restu dari mertuanya.


"Sayang, kamu sudah siap?" Tanya Sultan ketika ia sampai di apartemennya.


"Iya, apa kita berangkat sekarang?"


Sultan hanya mengangguk. Ia segera membawakan tas pakaian istrinya dan memasukkannya ke dalam bagasi mobilnya.


Maymunah yang sudah turun, segera naik ke mobil Sultan, tapi kali ini ia naik di bagian belakang hingga membuat Sultan heran.


"Kenapa kamu naik ke situ, gak di samping aku?" Tanya Sultan . Maymunah tersenyum.


"Kan nanti aku jadi pembantu, masa kita duduk barengan, nanti mereka bisa curiga"


Wajah Sultan seketika berubah muram saat mendengar kata-kata istrinya.


"Maafkan aku ya, aku .." Sultan tak mampu melanjutkan kata-katanya.


Matanya berkaca-kaca menahan rasa sedih melihat istrinya akan menjadi pembantu di rumahnya sendiri.


Maymunah yang memahami perasaan suaminya segera memegang tangannya dan mengelusnya.


"Aku gak apa apa, bukankah kita harus berjuang bersama, kalau aku gak mengambil andil dalam perjuangan kita untuk mempertahankan pernikahan kita ini, itu namanya bukan perjuangan bersama"


"Tapi kamu sudah berkorban banyak. Kamu sudah rela pergi jauh dari keluargamu, berpisah dari keluargamu demi semua ini. Sedang aku..aku belum melakukan apa apa untukmu "


"Kamu juga sudah berbuat banyak untukku. Kamu sudah membantu kami menghadapi cobaan terbesar di hidup kami. Aku sangat bersyukur pada Allah, karena kamu sudah hadir di saat aku kehilangan orang yang sangat kucintai" Ungkap Maymumah sambil tetap menggenggam tangan suaminya.


cup


Entah ia mendapat keberanian dari mana, tiba-tiba Maymunah mencium pipi suaminya hingga membuat mata Sultan membulat seketika karena kaget mendapat ciuman dari istrinya.


"Sayang, tadi..tadi kamu menciumku?" Tanyanya sambil memegang pipinya sendiri.


Maymunah tersipu dan segera melepas genggamannya. Ia menghempaskan tubuhnya ke sandaran kursi mobil di belakangnya.


"Eh kok diem aja, kok cuma sebentar ciumnya?"Sultan bertanya lagi.


"Iih udah ah. Ayo jalan! nanti ada satpam apartemen ke sini, kita bisa dituduh macam-macam."Jawab Maymunah, ketus.


"Hehehe ..iya deh. Kita berangkat sekarang "


Sultan akhirnya mengemudikan mobilnya menuju rumah ibunya.


Maymunah membaca bismillah berkali-kali untuk menguatkan mental dan hatinya agar mampu menghadapi keluarga suaminya nanti.

__ADS_1


Setelah setengah jam mereka di perjalanan, akhirnya Sultan berhenti di sebuah villa yang cukup besar.



"Sayang, ini rumah mamah. Sebelum turun, aku tanya sekali lagi, apa kamu benar -benar siap masuk ke rumah ini dan bekerja sebagai pembantu di sini? " Sultan bertanya lagi.


"Iya. Aku sudah siap. Kita turun yu" Jawab Maymunah seraya membuka pintu dan turun dari mobil Sultan.


Sultan menghela nafas panjang sebelum ia turun dari mobilnya.


Sultan segera membawakan tas pakaian Maymunah sampai mereka tiba di depan pintu rumah ibunya Sultan.


Sebelum Maymunah melangkah masuk, Maymunah terlebih dahulu membaca doa


"Bismillah Tawakkaltu Ala Allah, Allahumma inni as'aluka khoiro hadzal bait, wa khoiro ma fiha wa man fiha. Wa Audzu bika Min Syarri hadzal bait, wa Syarri ma fiha wa man fiha"


(Dengan menyebut nama Allah aku bertawakkal padaNya. Ya Allah hamba memohon kebaikan di rumah ini, kebaikan apapun dan siapapun yang ada di rumah ini. Hamba juga memohon lindungi hamba dari kejelekan rumah ini, dari kejelekan apapun dan setiap penghuni rumah ini..aamin)


Doa itu dia ucapkan untuk memohon perlindungan dari Tuhannya agar ia selamat dan terhindar ďari kejelekan suatu tempat dan penghuninya.


Perlahan Sultan membuka pintu dan membawa Maymunah ke dalam ruang keluarga.


"Assalamualaikum " Sapa Sultan ketika melihat ibu dan semua saudaranya ada di ruang keluarga.


Ternyata semua keluarga Sultan sedang berkumpul kecuali Wasim yang belum menampakkan dirinya. Di sana ada Ibunya dan saudara2nya, sedangkan ayahnya sudah lama meninggal.


Sultan adalah 8 Saudara, kakak pertamanya bernama Muhammad dan kakak keduanya adalah perempuan bernama Ibtisam, sedangkan Wasim adalah kembarannya. Dia juga mempunyai dua adik perempuan yang juga kembar bernama Syafa dan Syifa mereka berdua sudah berkeluarga. sedangkan Ahmad, adik laki-laki terakhirnya masih kuliah di London. Dan adik bungsu Sultan adalah perempuan bernama Ragad, dan dia masih SMA.


Ia terheran melihat ada seorang wanita ikut bersama anaknya.


"Ini Maymunah, yang akan memasak di sini, bukannya mama mau cari tukang masak?"


Ujar Sultan sambil mengisyaratkan pada Maymunah agar mendekat.


Maymunah segera mendekat dan menyalami mertuanya.


"Assalamualaikum ummi, Ana Maymunah "


"Alaikum salam Warohmatulloh, keif halik Ya Maymunah?" Jawab Ummu MUhammad.


Ibunya Sultan bernama Fathmah, tapi selalu dipanggil Ummu Muhammad karena merupakan kebiasaan orang Arab.


Orang Arab biasanya memanggil dengan sebutan anak laki-laki pertama, Sebutan itu dinamakan Kun-yah. Karena anak pertama mereka adalah Muhammad maka sang ayah dipanggil Abu MUhammad dan sang Ibu dipanggil Ummu Muhammad.


"Sultan, dari kantor mana kamu dapatkan gadis ini? Dan kenapa kamu milih yang cantik ?" Tanya Syifa, adik Sultan.


Sultan dan Maymunah terperangah mendengar pertanyaan adiknya.

__ADS_1


Maymunah tertunduk seketika, ia teringat pada saat pertama ia datang bekerja di Saudi, dia tidak diterima bekerja di beberapa rumah karena alasan dia terlalu cantik untuk ukuran seorang pembantu. Perempuan Saudi biasanya tak mau menerima pembantu yang cantik, karena mereka cemburu dan tak mau tersaingi.


Dulu Maymunah sempat diusir dan dibuang di jalanan, untungnya dia ditolong oleh keluarga Abdullah dan Ibtihal yang kemudian mempekerjakannya.


"Sudah, sudah! tidak apa apa. Memangnya kenapa kalau dia cantik? Bukankah akan lebih baik jika kita mempunyai pekerja yang cantik lahir batin" Sahut Ummu Fathma menenangkan anak-anaknya.


"Apa kamu bisa memasak?" Tanyà Ibtisam, kakak perempuan Sultan.


"Iya madam. In sha Allah" Jawab Maymunah singkat.


"Ya sudah, kalau begitu kamu ikut aku ke dapur, aku akan perkenalkan kamu pada para pembantu yang lain" Ujar Ummu Fathma sambil menuntun Maymunah menuju dapur.


Sultan yang melihat istrinya mau dibawa ke dapur, segera menjinjing tas pakaian Maymunah dan bermaksud membawakannya, tapi di cegah oleh adik perempuannya.


"Sultan, buat apa kamu membawakan tas pembantu itu? biar saja dia membawa sendiri barang bawaannya" Tanya Ragad, adik bungsu Sultan.


Langkah Sultan terhenti seketika, ia berbalik menghadap adiknya.


"Memangnya kenapa kalau aku membawakan barangnya? apa sebagai manusia dan sesama muslim, kita tidak boleh membantunya?" Sultan menjawab dengan pertanyaan.


"Sudah! Sudah! biar saja Sultan membantu, kenapa kamu usil sekali ya Ragad?" Bentak Muhammad, kakak tertua Sultan.


Ragad cuma mencebik, tak suka dengan perlakuan kakaknya yang menurutnya terlalu berlebihan memperlakukan pembantu.


Kepribadian saudara saudara Sultan memang berbeda-beda.


Muhammad cenderung pendiam dan tegas, sedangkan Ibtisam lemah lembut dan sopan.


Sementara Wasim, dia Pendiam dan lemah lembut tapi kritis. Sedangkan Sultan sendiri, dia sangat cuek tapi dia supel dan mudah bergaul, meski dia suka berbuat maksiat, tapi dia adalah pemuda yang baik hati.


Sementara adik adik perempuannya, Syafa pendiam seperti Muhammad, sedangkan Syifa dan Ragad cenderung angkuh dan sombong.


Maymunah dibawa kebagian dapur oleh Ummu Fathmah, dia dikenalkan dengan pembantu yang lain yang juga berasal dari Indonesia.


"Wah, ada yang baru ya mama?" Tanya bu Aminah, salah seorang pembantu mama Fathma.


"Iya, ini namanya Maymunah, dia akan membantu kalian memasak" Ujar Ummu Fathma mengenalkan Maymunah.


Hati Sultan yang berada dibelakang mereka serasa teriris sembilu karena harus melihat istrinya diperkenalkan sebagai pembantu di rumah mamanya.


"Sayang, maafkan aku yang belum bisa mengenalkanmu sebagai istriku di sini. Maafkan kepengecutanku sayang. Aku janji akan segera mengurus surat-surat untuk mendaftarkan pernikahan kita ke KBRI, aku tak mau melihatmu seperti ini" Lirih Sultan dalam hatinya.


Batinnya terasa perih menyaksikan Maymunah yang tetap tersenyum dengan tegar di samping mamanya.


"Maymunah , Ini Aminah dan itu Susi, mereka berdua bertugas membersihkan rumah, sedangkan kamu nanti akan memasak buat kami, apa kamu sanggup?" Tanya Ummu Fathmah.


"Iya , ummi, In sha Allah saya sanggup"

__ADS_1


Meski hatinya perih, Maymunah tetap tersenyum.


Ia bertekat akan berusaha mengambil hati mertuanya agar merestui pernikahan mereka.


__ADS_2