Terjebak Kawin Kontrak dengan Tuan Muda Arab

Terjebak Kawin Kontrak dengan Tuan Muda Arab
Jebakan


__ADS_3

Beberapa menit kemudian, Afina dan teman-teman Sultan datang ke Villa Sultan.


Mereka sudah merencanakan rencana jahat untuk Maymunah.


"Mae, kamu udah siap, kan?" Tanya Afina, berpura pura baik pada Maymunah.


"Iya teh, ini aku udah masukin semua di tas" Jawab Maymunah.


"Ok, tapi sebelumnya kita makan dulu ya.


Aku tadi udah beli nasi di jalan pas mau ke sini, kamu juga makan ya, soalnya kamu belum makan siang kan?"


"Iya, teh. Terimakasih. "


Tanpa rasa curiga, Maymunah menyetujui tawaran Afina.


Afina segera memberikan makanan dan Jus mangga yang sengaja ia siapkan untuk menjebak Maymunah.


Mereka berdua makan dengan lahap di meja dapur, sedangkan Sultan dan yang lainnya menunggu di ruang tamu.


"Sultan, minum obat ini. Dijamin kamu pasti bisa mendapatkan gadis itu"


Kata Faisal.


Sultan hanya mengangguk, ia sebenarnya merasa bersalah pada Maymunah, tapi rasa cinta yang di selimuti nafsu telah membutakan mata hatinya, ditambah dengan bujukan dari setan manusia yang menjelma menjadi teman temannya itu membuat Sultan mengabaikan rasa bersalahnya.


Di dapur, Maymunah yang sudah meminum jus mangga kesukaannya, kini telah merasakan efek dari obat yang di bubuhkan oleh temannya yang berhati jahat itu.


"Teh, kenapa kepala Mae terasa pusing ya, duuhh kok, berat banget sih teh?" Keluhnya sambil meletakkan makanannya .


Ia memegangi kepalanya yang mulai terasa berdenyut denyut.


Afina tersenyum puas melihat tetangganya itu sudah terkena jebakannya.


"Mampus kamu, sebentar lagi kamu akan sama sepertiku, kamu tidak akan lagi menyombongkan hijab dan abayamu itu.


Kamu akan menjadi budak s*x haha."Gumam Afina dalam hatinya. Ia tertawa puas melihat Maymunah yang kini telah bangun dan sempoyongan.


"Ya udah, kalau pusing, kamu istirahat dulu. Mungkin ini karena kamu gak tidur semalaman, jadi kamu ke kamar dulu ya" Ujar Afina berpura pura peduli.


Ia membantu memegangi tubuh Maymunah yang sempoyongan, Ia memapahnya dan membawanya menuju kamar Sultan.


"Teh, rasanya kamar Mae di sana, kok teteh bawa..bawa Mae jalan ke sini " Tanya Maymunah ditengah rasa pusing yang kian menderanya.


Ia masih ingat kamarnya dekat dapur, tapi Afina memang membawanya ke kamar Sultan.


"Udaah, yang penting kamu tidur aja. Jangan banyak tanya." Jawab Afina sambil memasukkan Maymunah ke kamar Sultan dan membaringkannya di ranjang milik Sultan.


Setelah membaringkan Maymunah, Afina bergegas bangun dan bemaksud keluar.


Tapi Maymunah tiba-tiba memegang tangannya.


"Tapi teh, badan Mae kok terasa panas dan gatal sih..dan iih kenapa terasa geli di bagian intim Mae? Akhh teh, Mae kenapa jadi begini, teh?" Maymunah berusaha bertanya di sela-sela aktifitasnya meraba tubuhnya sendiri yang sudah terkena pengaruh obat yang dibubuhkan oleh tetangga jahatnya itu.


Mendengar pertanyaan Maymunah itu, Afina malah tertawa puas menertawakan temannya.


"Hahah.. kamu ini bodoh sekali. Itu bukan gatal, tapi terangsang ha ha ha.


Asal kamu tau, aku sudah menaruh obat perangsang dalam jus kesukaanmu tadi. Hahaha" Afina menjawab diiringi gelak tawanya yang membahana memenuhi ruang kamar Sultan.


Maymunah tersentak kaget, meski sekarang kesadarannya tinggal separuh karena efek obat itu, tapi ia masih mendengar jawaban Afina.


"Akhh..astagfirullah, kenapa, kenapa teteh sejahat ini padaku?...Akhh..tidaak..Ya Allah, selamatkan hamba..! aaaakhkh.... badanku..badanku..panas..Teteh benar-benar biadab. Apa salah Mae sama teteh?"


Teriak Maymunah sambil menggeliat-geliat persis seperti cacing kepanasan.


Ia tak mampu mengendalikan tangannya sendiri yang mulai menarik kerudungnya dan melemparnya entah kemana.


Afina makin tertawa kencang ketika melihat temannya itu sekarat akibat pengaruh obat yang ia taruh.


"Haha..rasakan kamu Mae!. Kamu sudah melepas hijabmu, nanti kamu akan melepas bajumu sendiri haha..Setelahnya, kamu akan melepas mahkotamu yang selalu kau banggakan itu haha..


Aku benci kamu karena kamu selalu sombong dengan hijabmu.


Kamu seĺalu menolak melepas hijabmu. Sekarang, kamu akan melepas segalanya haha..sebentar lagi Sultan akan datang kesini dan melakukan semuanya haha" Ujar Afina sambil melangkah keluar dari kamar Sultan dan menguncinya dari luar.


Sementara Maymunah makin kehilangan kesadarannya..


Ia merintih, airmatanya bercucuran membasahi wajah dan rambutnya yang kini acak-acakan.

__ADS_1


"Ya Allah, selamatkan hamba ya Allah..Hamba yakin engkau punya seribu cara untuk menyelamatkan hambaMu yang tak mau melakukan maksiat ya Allah..


Ya Allah, selamatkan hamba seperti engkau menyelamatkan Nabi Yusuf dari jerat siti zulaikha. La ilaha illa anta subhanaka ini kuntu mina dzolimin"


Gumamnya lirih, di sela -sela rintihannya.


Ia sudah hampir kehilangan kesadarannya, saat ia mendengar suara pintu akan dibuka.


Ia tersentak kaget, ketika pintu dibuka dengan keras.


Brakkk..


Sultan masuk dengan langkah sempoyongan dan senyum menyeringai ketika melihat Maymunah sudah tanpa hijab.


"Astagfirullah..kerudungku..mana kerudungku?" Maymunah kelabakan mencari kerudungnya.


Ia pun berusaha turun dari ranjang ..


"Waw..kamu seksi sekali Maymunah?" Ucap sultan dengan sorot matanya yang mulai sayu karena sudah dipenuhi nafsu.


Maymunah turun dari ranjang sambil menarik selimut dan menutupkannya ke kepala dan tubuhnya.


Meski efek obat itu seakan menyuruhnya untuk melepas semua bajunya, ia masih berusaha menahan dengan sekuat tenaga.


Sultan makin mendekat kearahnya dengan senyum kemenangannya.


"Jangan mendekat ! Berhenti di situ !..Tolong..aku mohon sultan, jangan kesini..." Teriak Maymunah histeris, ketika melihat Sultan mendekatinya.


Sultan yang juga sudah kehilangan kesadarannya itu tetap mendekat, ia seolah tak mendengar jeritan Maymunah.


"Ya Allah, sepertinya Sultan juga meminum obat..aku harus bagaimana.. Ah..air..aku harus menyiram tubuhku dengan air. Ah mana kamar mandi nya..ah..pandanganku terasa berkunang-kunang begini.. Aku harus mencari kamar mandi"


Gumam Maymunah sambil berusaha mencari di mana letak kamar mandi. Pandangan matanya yang mulai mengabur, membuat ia tak bisa melihat dengan jelas:


"Maymunah, kamu mau kemana?" Tanya Sultan saat melihat Maymunah berusaha berjalan meski dengan selimut di tubuhnya.


"Sultan, kumohon ijinkan aku ke kamar mandi dulu, ok? Kamu duduk di ranjang aja, Nanti aku kembali" Jawab Maymunah.


Ia berusaha mengelabui Sultan agar tidak memegannya.


Meski dengan sempoyongan, Maymunah berhasil menemukan kamar mandi dan masuk ke dalam.


"Sebaiknya aku minum air ini juga, mungkin dengan itu efek obat ini bisa hilang, atau setidak nya berkurang" Ia bergumam sendiri sambil segera meminum air keran itu.


Setelah merasa kedinginan , Ia mematikan kerannya.


Ia membuka mata perlahan dan kini kesadarannya mulai berangsur kembali.


Efek obat itu telah berkurang karena siraman air dingin dan air yang ia minum .


"Alhamdulilah, aku sudah sedikit pulih..sekarang Aku udah gak terlalu pusing, dan sekarang udah terasa dingin "


Beribu rasa syukur ia panjatkan, saat kesadarannya kembali.


Ia pun beranjak keluar dari dalam bethup yang di tutup dengan kaca itu


Dengan cekatan, ia mengambil handuk Sultan yang tergantung di dinding untuk menutupi kepalanya.


Belum sempat ia memakainya, pintu kamar mandi itu terdengar di dobrak dari luar.


Brakkk.


Setelah pintu terbuka, Sultan masuk nyelonong ke kamar mandi.


Maymunah terlonjak kaget, sontak ia segera menutupi kepalanya dengan handuk yang ia tarik.


"Sultan, kau mau apa kamu kemari? " Tanyanya dengan nada tinggi.


Sultan hanya tertawa sambil sempoyongan mendekati Maymunah.


"Kamu masih tanya padaku, tentu saja aku mau kamu " Ujarnya sambil berusaha menangkap Maymunah.


Sontak Maymunah segera berkelit ke samping sambil mendorong Sultan dengan sekuat tenaganya, hingga Sultan menubruk dinding kaca pembatas bethup.


Brugghhh


Prang.. .


Dahi Sultan membentur kaca itu hingga pecah.

__ADS_1


"Akhh...wajahku" Teriaknya kesakitan sambil memegang dahinya yang sudah berlumuran darah.


Darah mengalir deras dari dahi Sultan, pandangannya mengabur dan ...


Brugg ..


Sultan pun terjatuh ke lantai kamar mandi.


"Sultan, ..astagfirullah..bagaimana ini? Dia berdarah..ya Allah keningnya berdarah.. Sultan, bangun !.." Maymunah berusaha mengguncang lengan Sultan, namun dia sama sekali tak bereaksi.


"Bagaimana ini, bagaimana kalau dia mati ..akh Ya Allah, kalau dia mati berarti aku pembunuh..ahh tidak..aku harus menolongnya..aku harus bawa dia keluar " Maymunah bergumam sendiri sambil menutupkan selimut ke tubuh sultan dan berusaha menariknya keluar kamar mandi.


Setelah ia berhasil menyeret tubuh sultan keluar, ia segera berusaha membuka pintu, namun sialnya pintu itu dikunci dari luar.


Dug dug dug


"Buka..!. Afinaaa, buka pintunya!" Teriak Maymunah sambil menggedor pintu.


Afina dan teman Sultan yang mendengar pintu digedor, bukannya khawatir tapi malah tertawa-tawa karena mengira mereka cuma sedang bersenang-senang.


"Ahhaha kalian sudah selesai ya..baiklah ..kami buka, kok cepet amat?" Jawab Afina dari luar kamar.


Ceklek..


Pintu pun terbuka, terlihat Afina berdiri di depan pintu.


"Teh, cepat tolong Sultan..dia..dia.." Ucap Maymunah sambil tersedu sedu ketika melihat Afina masuk.


Afina dan teman Sultan terkejut ketika melihat Sultan terkapar dengan wajah berlumuran darah.


"Sultan ..kamu Kenapa?" Teriak mereka bersamaan seraya berhambur mendekati Sultan.


"Mae, kamu apakan dia hah?" Bentak Afina.


"Ini semua gara-gara kalian, kenapa kalian sekeji itu padaku.


Aku sudah bilang bahwa aku tak mau melakukan zina, tapi kalian malah menjebakku.."


Teriak Maymunah histeris.


" Jadi kamu yang melakukan ini hah?" Tanya Faisal, teman Sultan. Ia terlihat geram melihat Maymunah.


" Ayo kita bawa dia ke Rumah sakit, dan kalian..cepat seret Maymunah ! Bawa dia ke polisi!" Titah Fahad, teman Sultan yang lain.


Maymunah semakin tergugu, ia bingung harus bagaimana.


Afina dan teman wanita yang lainnya segera menyeret Maymunah dan membawanya ke mobil.


"Ayo, kamu ikut kami..!"


"Tidak, aku tidak mau ikut..ini bukan salahku, ini salah kalian yang menjebakku..lepaskan aku!..lepas !" Teriak Maymunah sambil meronta ronta, namun pengaruh obat perangsang yang di minumnya membuat tubuhnya limbung..ia tak mampu mengerahkan tenaganya. Akhirnya ia cuma pasrah mengikuti mereka menuju kantor polisi.


Sepanjang jalan, Maymunah terus terisak sementara kedua temannya cuma tertawa sinis.


"Ya Allah, selamatkanlah Sultan, jangan sampai ia mati. Hamba gak mau jadi pembunuh..dan hamba juga gak mau dipenjara..bagaimana dengan keluarga hamba nanti kalau mereka tau hu hu "


Lirihnya pedih.


"Sudah, jangan nangis. Kamu itu penjahat ngapain nangis?" Afina membentak Maymunah lagi.


Maymunah yang tadinya terisak kini malah melotot tajam ke arahnya


"Ini semua karena teteh.


Teteh itu tak punya hati, kenapa tega sekali teteh menjebakku?"


Jawabnya lantang.


Afina malah tersenyum sinis.


"Aku sudah bilang alasannya, aku benci kamu yang selalu menyombongkan kerudungmu. Aku benci kamu yang belagu dan tak mau mengikutiku."


Maymunah cuma menggelengkan kepalanya melihat sikap teman yang sekarang sudah jadi musuhnya itu.


"Astagfirullah teh, Tidak ada yang menyombongkan diri. Saya bukan sombong, tapi bangga dengan ajaran agama kita. Setiap muslim memang harus bangga dengan ajaran agamanya.


Dan kenapa saya harus mengikuti teteh? Harusnya teteh yang mengikuti saya untuk bertaubat. Sampai kapan teteh akan menuruti hawa nafsu begini? "


"Akhh..udah ah. Gak usah sok menasehati"

__ADS_1


__ADS_2