Terjebak Kawin Kontrak dengan Tuan Muda Arab

Terjebak Kawin Kontrak dengan Tuan Muda Arab
Fawwaz


__ADS_3

Dengan amarah yang membuncah, Sultan melangkah mendekati istri tercintanya yang kini sedang duduk di depan pria asing yang tak dikenalnya.


"Assalamualaikum," sapanya dengan nada dingin.


Mata Maymunah terbelalak ketika mendengar suara yang sangat ia kenal.


Sontak ia berdiri dan menoleh kearah sumber suara itu.


Di sampingnya, Sultan berdiri dengan bersidekap sambil memandangnya dengan tajam.


"Sultan?" gumam Maymunah lirih.


Fawwaz yang heran melihat mereka, segera berdiri dan mencairkan suasana.


"Alaikum salam, Akhy, Hal hunaka syai'?" ( Apa ada sesuatu?) tanya Fawwaz dengan bahasa Arab fasih.


Sultan beralih memandang ke arah Fawwaz dengan tajam


.


"Mae, kamu kenal orang Arab ini?," tanya Fawwaz pada Maymunah.


"Iya," jawabnya singkat


"Siapa dia?" Fawwaz bertanya lagi.


" Saya cuma tukang bawa kopernya. Iya, kan, Mister?" sindir Maymunah sambil menatap tajam suaminya.


Sultan menelan ludah, Ia bergidik ngeri melihat wajah istrinya yang sudah berubah menjadi merah padam.


Ia baru teringat, Ia tadi meninggalkan Maymunah tanpa sepatah kata.


Maymunah kembali menghadap Fawwaz dan segera pamit keluar. "Maaf, Kak, saya gak jadi makan. Saya permisi dulu," ucapnya sambil melangkah pergi tanpa melìrik kearah Sultan.


"Eh, kok dia yang marah? harusnya aku yang marah karena dia bersama laki-laki lain." batin Sultan kebingungan.


Fawwaz yang masih kebingungan segera beŕgegas hendak menyusul Maymunah, tapi ditahan oleh Sultan.


"Mae, mau kemana?" tanyanya, namun kemudian tertahan oleh Sultan.


Sultan mencekal pangkal lengan Fawwaz dan menatapnya dengan tajam.


"Maaf, kamu kenal Maymunah?, kamu siapa nya dia?" tanyanya menyelidik.


"Ah, kamu ini Sultan, sudah jelas dia bersama wanita tadi, pasti pacarnya. Orang Indonesia kan begitu," celetuk Ali, teman Sultan yang kini sudah berdiri di samping Sultan.


Fawwaz menoleh ke arah Ali dan menatapnya tajam.


"Tolong jangan bicara sembarangan tentang dia dan tentang wanita bangsa saya.


Dia wanita solehah dan terhormat, kami dulu satu SMA, dan kami baru bertemu. Saya melihat dia terlihat lapar dan haus, makanya saya bawa dia ke cafe untuk mengajaknya makan. Apa ada masalah?" ujar Fawwaz dengan tatapan tajam ke arah Sultan dan Ali.


"Halah, Orang Indonesia semua sama saja, suka pacaran sebelum nikah," ledek Ali dengan senyum sinisnya membuat Fawwaz makin murka.


"Ittaqillah fi kalamik, ya akhy. (Takutlah kamu terhadap Allah atas semua kata-katamu), Sudah kukatakan dia adalah wanita terhormat. Dan perlu Anda fahami, semua manusia di dunia ini sama saja, ada yang baik dan ada yang tidak baik. Baik itu di negaramu dan juga di negaraku. Aku tinggal lama di negerimu, dan aku tau seluk beluk negerimu. Jadi, jangan pernah berbicara buruk tentang negeriku!" sergah Fawwaz yang tak terima negeri tercintanya dihina oleh Ali.


Ali terlihat menunduk malu karena perkataan Fawwaz yang menohoknya.


"Sudah ! Sudah ! Apa yang dia katakan benar, dia wanita terhormat, dia istriku," lerai Sultan.

__ADS_1


Ali dan Fawwaz terlonjak kaget mendengar pengakuan Sultan.


Ali terlihat heran, sementara Fawwaz terlihat mematung dengan mulut setengah menganga.


"Istri?" tanyanya lirih, tapi masih terdengar oleh Sultan.


"Ya, dia istriku," tegas Sultan sambil melangkah pergi ke arah meja kasir.


Sementara Fawwaz terduduk lemas di atas kursi. Hatinya bak di iris sembilu, perih namun tak berdarah.


Harapan yang ia pendam selama bertahun-tahun, kini hancur tak bersisa.


Ada rasa sesal yang menyeruak dalam dada, kenapa ia tak dari dulu mengungkapkan perasaannya pada gadis pujaan hatinya itu.


Ya, sebenarnya Fawwaz jatuh cinta pada Maymunah pada pandangan pertamanya.


Ia masih teringat dengan jelas, senyum lucu gadis kecil itu yang ia kerjai saat saat pertama Maymunah masuk sekolah.


Mereka pertama berjumpa ada saat MOS (masa oreantasi siawa). Saat itu Maymunah baru daftar, sementara Fawwaz sudah kelas dua SMA dan menjadi panitia MOS.


Ia masih ingat, saat saat Maymunah kecil itu membantah setiap perintah yang tak masuk akal yang sengaja diberikan oleh Fawwaz dan kawan sekelasnya yang ingin mengerjai adik kelasnya.


Sepuluh tahun berlalu dari waktu pertemuan pertama itu, Fawwaz tetap menyimpan rasa cinta itu di hatinya.


Fawwaz berkali kali menolak untuk dijodohkan dengan anak kiyai dan pemilik pesantren. Dia tak pernah sedikitpun melupakan Maymunah.


Fawwaz duduk dengan tatapan kosong, Ia tenggelam dalam masa lalunya, sampai ia tak sadar di dekatnya ada pelayan cafe yang menegurnya.


"Mas, mau pesen apa?" tanya pelayan cafe.


Fawwaz gelagapan. Dengan senyum dipaksakan akhirnya ia pun segera memesan makanan yang ia mau.


Di ruang tunggu, Maymunah berjalan menuju tempat Ahmad, di mana ia menitipkan kopernya.


Ia duduk di depan Ahmad sambil menyapanya.


"Terimakasih karena sudah menjaga koper saya, Kak," ungkapnya sambil tersenyum.


"Sama-sama, Fawwaz mana ?"


"Masih di dalam cafe," jawab Maymunah sambil menunduk.


"Ukhty Maymunah, boleh saya bicara?" Ahmad mulai bertanya lagi, Maimunah hanya mengangguk sambil tersenyum.


"Saya ingin memohon pada ukhty, tolong jangan menghilang lagi dari hidup Fawwaz!" ucap Ahmad, hati hati.


Maymunah mendongak dengan wajah terbengong-bengong.


"Maksud Kak Ahmad, bagaimana?"


"Ukhty tau, sejak saya mengenal Fawwaz delapan tahun lalu, yaitu sejak kami kuliah bersama di Mesir, saya selalu melihat Fawwaz membawa poto ukhty di dompetnya."


" Ukhty tau? Saat ia lulus, Ia pulang ke indonesia, dia mencari ukhty. Dia pergi ke sekolahnya dan menanyakan tentang ukhty, dan dia pergi ke rumah Ukhty, tapi katanya Ukhty sedang bekerja di Arab."


Deg..


Serasa ada palu godam yang menghantam dada Maymunah. Ia menunduk pilu, kenapa dia mengetahui ini setelah ia menikah?


"Kenapa Kak Fawwaz tak pernah mengatakan apa-apa pada saya," tanya Maymunah lirih.

__ADS_1


"Iya, satu satunya hal yang ia sesali, kenapa dia tak mengatakan langsung pada Ukhty dan mengkhitbah ukhty waktu itu.


Dia bilang waktu itu dia belum berani, karena SMA saja baru lulus, bagaimana ia berani meminang seorang gadis. Jadi ia fikir, Ia akan mengatakan secara langsung pada Ukhty saat dia sudah mapan dan punya sesuatu yang bisa ia banggakan untuk melamar ukhty." pungkas Ahmad.


Airmata Maymunah lolos begitu saja.


Dadanya mulai terasa sesak, Laki laki yang dulu ia damba, ternyata juga memiliki prasaan yang sama.


Tapi apalah arti itu semua, karena kini dia telah menikah. Tapi di sisi lain, ia juga merasa bimbang, karena pernikahannya dengan Sultan masih terkatung tak menentu. Ia masih tak yakin Sultan akan memperjuangkan pernikahan mereka.


Haruskah ia meninggalkan Sultan sebelum ia terluka lebih dalam, tapi apakah itu bisa? Bukankah ia telah berjanji akan memberi kesempatan pada Sultan untuk memperjuangkan pernikahan mereka.


"Fawwaz berkali-kali di lamar oleh Kiyai yang memiliki anak yang sangat cantik dan lulusan luar negeri juga, tapi ia tetap kekeuh akan menunggu ukhty.


Dia bilang, setelah ia lulus S2, dia akan mencari ukhty lagi. Tapi hari ini Allah telah mempertemukan kalian. Tidak sia-sia dia selalu berdoa di setiap tempat mustajab di Saudi." Ahmad mengakhiri ceritanya,


Sementara Maymunah tak lagi bisa menahan airmatanya.


Ia pun menangkup wajahnya dan menangis sesegukan.


"Apa yang Anda lakukan pada istri saya, kenapa istri saya menangis?" tsanya Sultan yang sudah berada di depan Maymunah dengan menenteng paperbag take away berisi makanan.


Maymunah terperanjat kaget, Ia langsung menghapus airmatanya.


Sementara Ahmad masih terbengong -bengong melihat Sultan yang langsung duduk dipinggir Maymunah.


"Sayang, kenapa kamu nangis? Ini aku beliin makanan, makan ya!" Tanya Sultan sambil mengerahkan paperbag pada istrinya.


"Kenapa anda tidak menjawab pertanyaan saya? Apa yang anda katakan sehingga membuat istri saya menangis?" Sultan mengulangi pertanyaannya, hingga membuat Ahmad gelagapan, untungnya Fawwaz sudah berada di dekatnya.


"Maaf, Ini teman saya. Kenalin saya Fawwaz, dulu saya satu sekolah dengan Maymunah. Saya minta maaf kalau ada kesalahpahaman, tapi demi Allah, kami tadi hanya mau makan saja karena saya kasian melihat adik kelas saya " Ujar Fawwaz ketika sampai di dekat mereka.


Meski hatinya hancur berkeping, Ia tetap berusaha tegar, Ia tak mau Maymunah dikira sebagai perempuan yang tidak baik oleh suaminya.


Sultan terlihat manggut-manggut.


"Ok, saya percaya pada istri saya. Tapi saya tekankan pada anda, dia istri saya" Ujar Sultan penuh penekanan dalam setiap kata katanya.


Ia sengaja ingin menekankan pada Fawwaz, bahwa Maymunah adalah miliknya.


"Ok, terimakasih. Ahmad, kita pindah yu. Ehhh Mae, Sultan, kami kesana dulu" ujar Fawwaz sambil pamit dan menarik kopernya dan sahabatnya juga.


Sultan melirik kearah Maymunah yang masih sembab.


"Sayang, kok diam aja? Ayo makan!" titah Sultan lembut.


Maymunah tak menjawab, Ia masih kesal dengan suaminya itu yang telah meninggalkannya sendiri karena ada temannya.


"Ayo lah sayang, makan dong! Maaf, tadi ninggalin kamu sendiiri. Ayo makan!


Kalau gak di makan, aku cium ni," bisiknya di telinga Maymunah sambil mengulum senyum.


Sontak Wajah Maymunah merona .


Ia mencebik, kesal.


" Mulai lagi, iih, banyak orang juga, gak malu ngomong kaya gitu? " omelnya sambil memanyunkan bibirnya dan menepuk paha Sultan.


Sultan pun tertawa melihat istrinya marah.

__ADS_1


__ADS_2