
Sultan melajukan mobilnya menelusuri jalan kota Jeddah menuju Thoif, sebuah kota yang hijau di daerah Saudi.
Kota Thoif ini selalu mendapat curah hujan meski pada musim panas.
"Sayang, apa kamu pernah ke kota Thoif sebelumnya? " Tanya Sultan memulai percakapan.
"Belum, aku hanya tau Kota Mekkah dan Jeddah, bahkan ke Madinah juga belum "
"Apa, kamu belum ke Madinah? Wah sayang sekali, nanti kapan-kapan aku ajak kamu ziarah ke maqom Rosululloh, ya"
"MM Sultan, bagaimana kalau kita sekarang Umroh dulu, rasanya sangat tidak etis kalau ke Saudi tanpa pergi ke Ka'bah dulu"
" Wah ..kamu benar, Ok. Sekarang aku akan membawamu ke Masjidil Haram"
Maymunah bersorak kegirangan mendengar Sultan akan membawanya menuju masjidil haram, tempat yang tentunya sangat dirindukan oleh setiap Muslim.
Saking gembiranya hingga tanpa sadar ia memeluk suaminya itu dari samping dan menciumnya.
Cup
Mata sultan membuka sempurna saat bibir Maymunah mendarat di pipinya, hingga tanpa sadar ia menghentikan mobilnya secara mendadak.
Riiit
Brugg
"Astagfirullah ! kenapa berhenti mendadak?" Jerit Maymunah kaget saat Sultan berhenti mendadak .
Bukannya menjawab pertanyaan Maymunah, Sultan malah balik bertanya.
"Sayang, tadi kamu menciumku?"
Pertanyaan Sultan itu membuat Maymunah tersipu.
"Kok diem, bisa diulangi gak?"
Sultan bertanya lagi.
"Iih maunya, orang tadi aku cuma kelepasan kok"
" Ya baiklah, setidaknya aku tau bahwa kamu sudah menerimaku sebagai suamimu, iya kan?"
Maymunah hanya tersenyum menanggapi Sultan yang terus mengoceh sambil melanjutkan mengemudikan mobilnya.
Baru saja Sultan akan menuju jalan tol menuju Makkah, Sultan menghentikan mobilnya lagi.
"Sayang, kok kamu pengen Umroh?, kamu lupa, kamu kan lagi haid" Tanya Sultan dengan penuh kehati-hatian karena takut menyinggung Maymunah.
Plak..
Maymunah menepuk dahinya sendiri.
"Hehe iya ya, kenapa aku bisa lupa, padahal tadi aku menggunakan p*mb*l*tku untuk mengerjai Faisal" Gumam Maymunah lirih namun masih terdengar oleh Sultan.
Sultan mengusap tangan Maymunah dengan lembut.
"Ya udah, sekarang kita ke Thoif aja dulu. Nanti kapan kapan aku ajak kamu Umroh, Ok?" Hibur Sultan pada Maymunah yang sudah menampakkan mimik wajah penuh kesedihan.
Setelah membujuk Maymunah, akhirnya Sultan melanjutkan perjalanan mereka menuju Thoif.
__ADS_1
Sepanjang jalan, Maymunah terus memandang ke jalanan yang ia lewati.
Hati Maymunah tiba-tiba saja dipenuhi rasa haru ketika mengingat tadi malam Sultan langsung datang memenuhi panggilannya, meski ia harus menempuh perjalanan yang cukup jauh dengan kondisi jalan yang ekstrim seperti ini.
Jalanan kota Thoif memang terkenal ekstrim karena jalan tol ini berkelok kelok dan memutar mengitari puncak gunung Alhada.
Brugg..
Lamunan Maymunah seketika menjadi buyar ketika ada seekor kera yang loncat dan hinggap di depan kaca mobil Sultan.
Astagfirullah ! apa itu?" Teriaknya sambil terlonjak kebelakang. Sultan malah tertawa kencang melihat istrinya ketakutan.
"Hahaha kamu kaget ya sayang, itu kera yang selalu berada di gunung Alhada ini. Emang kamu belum pernah dengar ya?" Tanya Sultan di sela tawanya.
Maymunah hanya menggeleng.
"Di gunung ini memang banyak kera, lihat tuh di sana kan banyak " Tunjuk Sultan ke arah tebing gunung, di sana memang terlihat banyak kera yang berjejer.
Sultan melanjutkan perjalanannya setelah kera yang tadi bisa ia singkirkan.
Mobil terus melaju menelusuri jalanan Thaif yang terlihat menghijau.
Melihat kehijauan itu, Ia jadi teringat kampung halamannya.
"Ya Allah, aku jadi kangen sama ema dan adik adikku." Gumamnya lirih.
"Alhamdulilah kita sudah sampai. Ayo turun!"
Maymunah segera menurunkan barang-barangnya dibantu oleh Sultan.
Dengan hati-hati, Sultan mengajak istrinya memasuki kamarnya.
"Kamu tidur di sini, aku akan tidur di kamar kakakku. Nanti aku akan mengatakan pada kakakku tentang keberadaanmu di sini" Ujar Sultan setengah berbisik.
Setelah ia memasukkan barang-barang Maymunah ke dalam kamar, Ia segera memasuki kamar kakaknya yang tak terkunci.
Karena ia sangat mengantuk, Ia langsung tertidur di samping kakaknya yang juga masih tertidur.
Hari memang sudah cerah, tapi di Saudi kebanyakan orang masih tertidur.
Kebiasaan orang Saudi memang selalu menjadikan malam seperti siang, dan siang seperti malam.
Apalagi di musim panas seperti ini, biasanya siang mereka akan tertidur sedangkan malam akan dipergunakan untuk beraktifitas.
Jam sudah menunjukan Jam sepuluh pagi, Maymunah yang merasa tak nyaman, bermaksud keluar untuk pergi ke kamar mandi.
Maymunah tersenyum ketika melihat sosok laki -laki tegap keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai handuk yang dililitkan di pinggangnya.
"Sultan, aku mau ke kamar mandi" Ujarnya sambil tersenyum, tapi yang di sapa malah terlonjak kaget dan langsung masuk kembali ke kamar mandi.
"Astagfirullah"
__ADS_1
Brugg..
Teriak Wasim, sambil menutup kembali pintu kamar mandi. Laki laki yang keluar dari kamar mandi itu bukan Sultan, Ia adalah Wasim, kakak kembarnya Sultan.
Wajah mereka memang sangat mirip dan hampir tidak bisa dibedakan kecuali oleh orang dekatnya.
Perbedaan mereka terletak pada sikap dan tingkah laku sehari-hari.
Wasim sangat berbeda dengan Sultan.
Sultan orangnya moderen dan bergaul dengan orang yang berfikir liberal, dan suka bergaul bebas.
Sebenarnya Sultan dan Wasim tumbuh menjadi pemuda yang sangat baik, tapi setelah kuliah, Sultan bergaul dengan orang seperti Faisal yang menganut gaya kebebasan dalam hidup, sehingga Sultan pun terbawa arus, dan ikut menjadi pemuda yang mengikuti pergaulan bebas.
Ia semakin jauh dari ajaràn agama bahkan melakukan berbagai macam hal yang dilarang agama seperti halnya mabuk dan bermain perempuan.
Sedangkan Wasim memilih kuliah di Fakultas diniyah dan menjadi Hafidz Qur-an.
Maymunah mengernyitkan dahinya terheran-heran melihat sikap laki-laki yang ia kira suaminya.
"Kenapa tuh orang, tumben dia malah kabur.?" Gumamnya terheran-heran.
Sementara Sultan yang di dalam kamar kakaknya terlonjak kaget dari tidurnya ketika mendengar suara pintu ditutup dengan keras.
"Astagfirullah, Wasim sudah bangun. Jangan -jangan dia melihat Maymunah" Gumamnya seraya bergegas keluar.
Ia terlonjak kaget, ketika melihat Maymunah berdiri di depan pintu kamarnya dengan mata terbelalak melihatnya.
"Sayang, kenapa keluar sekarang? Ayo masuk!" Titahnya sambil mendorong lembut tubuh istrinya dan memasukkan Maymunah ke dalam kamar.
"Sultan?,? kalau kamu Sultan, berarti..yang tadi..itu..itu kakakmu?" Maymunah terhenyak ketika teringat di dalam apartemen itu ada kakaknya Sultan.
"Jadi kamu tadi melihat Wasim?, maksudku kakak kembarku" Maymunah cuma bisa mengangguk, ia tak mampu menjawab pertanyaan Sultan karena merasa sangat malu saat teringat ia melihat kakak iparnya cuma memakai handuk.
"Kamu kenapa, kamu takut? Gak usah takut! kakakku itu baik kok, dia pasti mengerti ..ya cuma kita harus menjelaskan padanya nanti " Tanya Sultan keheranan melihat Maymunah tertunduk dan berkeringat dingin.
"Hmm tadi, aku melihat dia keluar dari kamar mandi dan aku kira dia kamu, makanya aku menyapanya."ungkap Maymunah dengan masih tertunduk.
plak
Sultan menepuk dahinya karena ia tau pasti kebiasaan kakaknya, yang selalu memakai handuk saat keluar kamar mandi karena memang mereka cuma tinggal berdua.
"Kamu pasti melihat dia cuma memakai handuk, ya? Untung kamu cuma nanya, bukan memeluknya."
Maymunah mencebik sambil memukul lengan Sultan.
"Iih..emangnya Kamu kira aku ini ganjen, mau meluk sembarangan"
Sultan tertawa mendapat pukulan dari istrinya.
Dug dug dug..
Tiba tiba dari luar kamar, Wasim menggedor pintu kamar adiknya dengan keras.
"Sultan, Itla' barrah! Yallah sur'ah!" (Sultan, keluar! Cepat !) Teriak Wasim dengan penuh amarah.
Sultan menelan salivanya dan mengusap wajahnya sendiri dengan kasar.
" Sayang, kamu tunggu di dalam, biar aku keluar dulu dan menjelaskan ke Wasim, ok!" Ujarnya pada Maymunah.
__ADS_1
Maymunah hanya menurut, dan langsung duduk di ranjangnya menunggu Sultan keluar.