
Setelah semua siap, rombongan pun segera bergegas menuju rumah calon besan mereka.
Aqad nikah Wasim dan Sultan diadakan secara bersamaan dan di tempat yang sama, karena Sumayya dan Gaida adalah saudara sepupu.
Maymunah yang terpaksa ikut dengan mereka, di suruh duduk bersama Ibtisam.
Muhammad tak membiarkan saudara-saudarinya itu menyianyiakan Maymunah lagi.
Deg deg deg
Degup jantung Maymunah serasa tak beraturan lagi, saat kakinya melangkah di halaman rumah Sumayya.
"Maymunah, ayo kita masuk " Ajak Ibtisam sambil menggandeng tangan Maymunah.
Maymunah hanya diam membisu.
"Assalamualaikum " Sapa Ummi Fathmah ketika berada di depan keluarga Sumayya.
Keluarga Sumayya menyambut mereka dengan hangat, mereka menyalami semua keluarga Sultan, tapi mereka mengabaikan Maymunah yang mereka kenal sebagai pembantu.
Mereka mempersilahkan semua keluarga Sultan untuk masuk, semua kini telah memasuki rumah Sumayya, tinggal Maymunah ditinggal sendiri.
"Innalillahi, kenapa aku tadi tidak sama Susi aja ikut ke dapur " Gumam Maymunah. Susi dan para pembantu lain memang di suruh masuk ke dapur, sedangkan Maymunah tadinya di ajak Ibtisam bersama rombongan keluarga.Tapi karena mereka taunya Maymunah adalah pembantu, maka Maymunah di acuhkan.
"Hei syagolah (pembantu) kenapa kamu berdiri di situ? Ayo sana masuk dapur" Seru salah seorang keluarga Gaida yang melihat Maymunah masih berdiri mematung di depan pintu.
Deg..
"Astagfirullah, sesombong itulah manusia? Kenapa mereka semua merendahkan sesama manusia, padahal Rosul sendiri yang begitu tinggi derajatnya, malah selalu tawadu" Gumam Maymunah dalam hatinya.
Hatinya perih sekali diperlakukan seperti sampah begitu.
"Heh, Syagolah (pembantu ) kenapa kau diam terus, apa kau tuli?" Teriak anak gadis yang kira kira seumur Ragad.
Maymunah menoleh dan mendekat.
"Apa kamu ini Tarzan yang tidak pernah sekolah, sehingga kamu berteriak-teriak begitu padaku?" Tanya Maymunah dengan suara tegas.
"Kau, berani sekali kau bicara begitu? dasar pembantu tak tau diri" Teriak gadis itu sambil berlalu pergi.
Sementara Maymunah bermaksud menuju dapur.
Tapi baru saja ia melangkah, ada suara teriakan lagi yang membuatnya berhenti.
"Heh kamu pembantu siapa, kenapa kau begitu kurang ajar pada anakku, kau berani mengatakan anakku tarzan?" Teriak wanita yang berdandan tebal itu.
Maymunah menoleh dan menghembuskan nafasnya kasar.
"Jadi anda ibunya, pantas saja anak anda berteriak sepeti tarzan, jadi itu ajaran anda rupanya " Ujarnya santai .
"Hei kau pembantu, berani sekali kau bilang begitu, siapa majikanmu, biar aku suruh dia mengajarimu sopan santun"
Maymunah memutar bola matanya.
"dia yang gak sopan, malah dia nyuruh saya belajar sopan santun, dasar gendeng" Gumamnya dalam hati.
"Saya tidak perlu diajarkan majikan saya, karena Alhamdulillah saya sudah sekolah. Dan di sekolah saya, saya sudah belajar akhlak sesuai yang diajarkan Rousululloh SAW. Dan setau saya, Nabi Muhammad itu mengajarkan ummatnya agar menghormati yang lebih tua, tidak memandang itu pembantu atau bukan. Dan tadi anak kamu malah memanggil saya dengan sebutan pembantu dengan berteriak tak sopan. Apa itu yang anda katakan berakhlak? memang nya dari mana anda belajar akhlak? " Tanya Maymunah santai.
"Kau, ..hahh Aku akan cari siapa majikanmu, biar kamu dikasih pelajaran."
Ucap wanita itu sambil berlalu dan menarik tangan anaknya.
Wanita itu masuk kedalam sambil menggerutu tak karuan.
__ADS_1
"Ibtisam , Hannan, itu yang di luar pembantu siapa sih, kok kurang ajar banget" Tanya Wanita itu ketika melihat Ibtisam dan Hannan.
Seketika Ibtisam teringat Maymunah.
"Aduh, itu pasti Maymunah, aku sampai lupa padanya." Gumam Ibtisam dalam hatinya.
"Yang mana ya ukhti?" Tanya Hannan, ia takut yang dimaksud adalah Lilis pembantunya.
"Itu yang make abayanya bagus, dan terlihat mahal juga. Wajahnya juga cantik " Jawab wanita itu.
"ups.. Ibtisam, apa itu Maymunah, knapa kau lupakan dia? Kakakmu bisa marah nanti" Bisik Hannan di telinga Ibtisam.
"Memangnya dia ngapain? "
Tanya Hannan, meladeni wanita itu, sedangkan Ibtisam segera keluar mencari Maymunah.
"Maymunah, kemarilah! Kita masuk, maaf tadi aku lupa" Panggil Ibtisam.
Maymunah menuruti kakak iparnya memasuki rumah Sumayya.
"Nah itu dia orang nya" Seru wanita yang tadi menghina Maymunah saat melihat Maymunah masuk ke dalam bersama Ibtisam.
Hannan menelan ludahnya, karena ia tau kalau sampai wanita itu menghina Maymunah, Pasti Maymunah tak akan melepaskan wanita itu dan akan mencecarnya dengan kata-kata pedas dan tajamnya, yang pastinya akan membuat malu orang yang merasa.
"Ya ini ni pembantu kurang ajar yang brani menghina ku dan anakku. " Ujar wanita itu sambil menunjuk nunjuk Maymunah. Sementara Maymunah hanya tersenyum santai.
Hannan segera mendekati Ibtisam dan berbisik.
"Ibtisam, ayo bawa Maymunah pergi dari hadapan orang ini, aku takut akan jadi ribut"
Ibtisam mengangguk.
"Maaf ukhty, acara aqadnya akan segera di mulai sebaiknya kita ke dalam saja"
Sumayya yang melihat Maymunah, segera menyapa dengan lembut.
"Maymunah, apa kabar?"Sapa nya ramah sambil menyalami Maymunah.
"Alaikumussalam warohmatulloh, keif halik?" Jawab Maymunah dengan senyum yang dipaksakan.
"Ya Allah, sebentar lagi Sumayya akan jadi maduku, apa dia akan tetap seramah ini kalau tau aku adalah istri Sultan, dan apa aku mampu bersikap baik -baik saja meski hati ini rasa sakit sekali" Maymunah bergumam dalam hatinya.
Setelah setengah jam berlalu, acara Aqad yang hanya dilaksanakan di ruang tamu yang khusus laki-laki.
Sesuai adat mereka, setelah selesai aqad, pengantin Pria di izinkan masuk ke ruangan yang mana di sana ada pengantin wanita dan keluarga laki-laki dan ibu perempuan.
Perlahan Sultan memasuki ruang tamu perempuan untuk dipertemukan dengan Sumayya.
Deg..
Matanya terbelalak dan langkahnya terhenti seketika, saat melihat di samping Ibtisam dan Sumayya, ada Maymunah yang berdiri dan menatapnya dengan tatapan sendu.
Semua yang hadir bersorak gembira kecuali Ibtisam dan Hannan yang memandang ke arah sepasang anak manusia yang berdiri mematung.
"Ya Allah, bagaimana ini, Maymunah di sini." Gumamnya dalam hati.
Ragad yang melihat kakaknya mematung, segera mengandeng tangannya dan membawanya ke hadapan Sumayya yang di samping nya ada Maymunah yang berdiri mematung.
Ragad dan syifa sengaja melakukannya agar Maymunah sakit hati.
"Sultan, ayo salami istrimu!" Seru Ragad sambil menarik tangan Sultan dan menyatukannya dengan tangan Sumayya. Sementara matanya menatap dengan tatapan mengejek ke arah Maymunah yang berdiri tak jauh dari Sumayya.
"Ayo cium tangan istrimu dan pakai kan cincin di jarinya!" Seru Syifa dan Ragad.
__ADS_1
Namun Sultan hanya mematung tak mau menggerakan tangannya. Matanya terus melirik ke arah istri tercintanya.
Deg deg..
Dada Maymunah serasa dihimpit batu di segala arah menyaksikan suaminya kini berdiri dihadapan perempuan lain yang kini telah Sah menjadi istrinya, istri keduanya.
Ummi Fathmah yang melihat gelagat Sultan yang sepertinya akan membuatnya malu, dengan cepat mengambil kotak cincin yang ada di tangan Ragad dan menyerahkannya pada Sultan.
"Sultan, cepat ambil cincinnya dan pakaikan di jari Sumayya" Bisik Ummi Fathmah di telinga Sultan. Sultan mendongak ke arah Ibunya, tapi kemudian dia melirik lagi ke arah Maymunah.
Maymunah yang faham dengan keadaan Sultan, merasa tak enak hati.
Dia menarik nafas dan mengumpulkan kekuatannya, kemudian berjalan mendekati Ummi Fathmah.
"Ummi, biar saya yang pegang cincinnya" Ujarnya sambil menadahkan tangannya.
Semua orang terkejut melihat adegan yang tak lazim itu, bagaimana seorang pembantu berani untuk melakukan hal itu.
Ummi Fathmah yang tak punya pilihan lain, akhirnya menyerahkan cincinnya pada Maymunah.
Dengan tangan bergetar Maymunah memegang kotak merah itu dan kemudian menyodorkan di depan Sultan, kemudian tersenyum dan mengangguk seakan mengisyaratkan pada Sultan agar melakukan yang di suruh padanya.
Dengan menghela nafas, Sultan mengambil cincin dari kotaknya dan dengan tangan bergetar ia meraih tangan Sumayya, namun matanya tetap tak beralih dari Maymunah.
Secepat kilat Sultan memakai kan cincin itu di jari tangan Sumayya, kemudian melepas tangannya begitu saja.
Prok prok..hulllllulll
Para Wanita itu bersiul dan bersorak setelah Sultan memakaikan cincin di jari Sumayya.
"Acara selanjutnya pengantin harus makan dan minum bersama, dengan cara saling suap dan saling memberi minum."
Karena merasa sudah tak kuat, Maymunah akhirnya undur diri.
"Ummi, saya tunggu di mobil saja ya" Ujar Maymunah pada Ummi Fathmah namun terdengar oleh Sultan.
Dengan hati yang amat hancur, Maymunah segera berlalu dari hadapan mereka semua.
Sultan yang melihat istrinya keluar, segera ikut berpamitan.
"Ummah, aku juga mau keluar" Bisik Sultan di telinga ibunya, yang disambut dengan tatapan tajam olehnya.
"Tunggu sebentar, setidaknya setelah makan bersama" Jawab Ummi Fathmah dengan berbisik juga.
Dengan terpaksa, Sultan menuruti ibunya. Ia terpaksa melakukan acara adat itu, yaitu makan dengan cara saling suap.
Setelah selesai, ia segera bergegas pergi keluar menyusul Maymunah yang sudah berdiri di gerbang. Ia tak keluar karena merasa takut sendirian.
"Sayang, ayo kita pulang" Ajak Sultan setelah melihat Maymunah.
Tanpa memikirkan orang yang melihat mereka dengan heran, Sultan segera menyuruh Maymunah naik ke mobilnya dan segera mengemudikan mobilnya.
"Sayang,maafkan aku karena kamu harus mengalami semua ini" Ujarnya setelah mereka di dalam mobil.
Maymunah diam membisu, hanya air matanya yang menjawab Sultan.
"Apa setelah ini kalian akan tinggal bersama ?" Tanya Maymunah setelah lama terdiam.
"Gak sayang, di sini biasanya kalau orang menikah baru di izinkan bersama setelah resepsi"
" Jadi baru minggu depan kamu akan bersamanya, apa kamu sudah menentukan hari apa saja kau bersamaku dan hari apa saja kamu bersama dia?" Maymunah bertanya lagi meluapkan segala yang ia pikirkan dan takutkan.
"Sayang, aku belum memikirkan semua itu. Pikiran ku buntu, demi Allah kalau andainya bisa, aku mau pernikahan tadi tak akan terjadi, dan aku hanya kan bersamamu"
__ADS_1
"Aamiin ya Robb , semoga saja itu terjadi. Tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah, Allah akan mengabulkan doa kita dengan berbagai cara yang tak terduga."