
Sebelum pesta usai, Ibtisam mengajak Maymunah untuk pulang.
"Maymunah, kita pulang yu" Ajak Ibtisam.
" Ok, baiklah. Hmm madam Ibtihal, aku pamit dulu" Ujar Maymunah.
"Tunggu sebentar! Maymunah , Bagaimana tawaranku tadi, apa kau akan bersedia menjadi adik iparku?" Tanya Ibtihal.
Maymunah tertegun, begitu juga Ibtisam. Dia kaget bukan main.
"Mohon maaf madam, saya merasa tak pantas untuk adiknya madam."
"Tidak Maymunah, kamu sangat pantas menjadi mantu dari keluarga terhormat dan terpandang"
"Tapi, saya sudah menikah" Jawabnya lirih.
"Apa, jadi kamu sudah menikah? tapi kenapa kamu bekerja di sini lagi, apa suamimu mengizinkanmu? Suami macam apa yang mengizinkan mu bekerja sebagi pembantu terus?" Tanya Ibtihal geram.
Maymunah tersenyum kecut sambil melirik kearah Ibtisam yang kini merasa jantungnya akan copot.
Kalau saja Maymunah menjawab pertanyaan Ibtihal dengan hal yang sebenarnya, pasti lah akan menjadi heboh, karena ia tau Ibtihal tak akan membiarkan Maymunah menderita dan terhina.
"Hmm mohon maaf, madam. Saya tak bisa mengungkapkan alasannya, karena bukan kah madam yang sering mengajarkan saya, agar kita menjaga kehormatan suami kita?" Jawab Maymunah lembut. Ia memilih merahasiakan hal sebenarnya.
Ibtisam terlihat bernafas lega, karena Maymunah masih merahasiakan statusnya sebagai istri Sultan.
"Hmm baiklah, aku minta maaf, aku tak bermaksud ikut campur urusan rumah tanggamu, aku hanya tak ingin melihat adikku di sakiti dan dihinakan.
"Ya sudah, kalau begitu saya permisi dulu"
Setelah berpamitan, Ibtisam segera mengajak Maymunah pulang.
"Maymunah, terimakasih karena sudah menjaga aib keluargaku" Ucap Ibtisam memulai percakapan saat mereka sudah di dalam mobil.
"Saya hanya tak ingin mengumbar aib suami saya, jadi tak usah berterimakasih."
Ibtisam mengangguk.
"Setelah resepsi ini, saya mau kalian segera mendaftarkan pernikahan saya dan Sultan, bagaimanapun caranya, saya gak mau tau "
Tambahnya lagi, dengan suara tegas.
.Ibtisam hanya bisa mengangguk lagi, karena ia tak mau berdebat dan tak mau melukai Maymunah lebih dalam lagi.
"Iya, nanti aku akan bicara pada Muhammad "
Maymunah mengangguk setuju.
Setelah beberapa lama kemudian, mereka akhirnya sampai di apartemen Sultan.
"Apa kamu gak apa apa kalau aku tinggal" Tanya Ibtisam merasa khawatir.
"In sha Allah, saya gak apa apa kak" Jawab Maymunah. Setelah Ibtisam pergi, Maymunah masuk kedalam kamarnya.
Hampa, itulah yang ia rasa saat ini.
"Ya Allah, bagaimana aku akan menjalani hari-hariku selanjutnya, jika saat ini aku sudah merasa tersiksa begini"
__ADS_1
Ia terus berbicara sendiri untuk mengusir sepi karena di tinggal suami pergi bermalam pengantin.
"Jadi begini rasanya perempuan di madu. Rasanya benar-benar tak nyaman. Ingin marah tapi tak mungkin, karena aku tau ini bukan salah Sultan sepenuhnya, bukan juga salah Sumayya. Rasanya Ingin menangis sekencang kencang nya ..tapi ah untuk apa, untuk apa aku menangis? Ya Allah berilah hamba jalan keluar yang tidak akan membuat orang lain sakit karena hamba ya Robb"
Maymunah terus bermonolog sendiri sambil berjalan mondar mandir di kamarnya.
Setelah ia merasa lelah, ia memutuskan untuk memasak makanan agar anaknya makan.
Meski ia merasakan kesedihan yang teramat dalam, ia tak mau melupakan anak di dalam kandungannya.
Sementara itu di hotel, Sultan yang telah berada bersama Sumayya, kini di suruh untuk membawa istri barunya itu ke kamar pengantin yang di sediakan oleh managemen hotel.
"Ya Allah, bagaimana ini? Aku ingin pulang menengok Maymunah, tapi gimana dengan Sumayya, dia juga pasti tersinggung kalau ku tinggalkan dan nanti akan mengadu pada Ummi juga " Gumam Sultan dalam hatinya, sementara ia berjalan beriringan dengan Sumayya yang tetap diam membisu.
"Masuklah! " Titah Sultan.
Dengan penuh keraguan, Sumayya masuk di susul oleh Sultan.
Di ruangan itu ternyata sudah tersedia makanan.
Sultan dan Sumayya terlihat begitu canggung, karena itu adalah kali kedua mereka bertemu muka.
Biasanya dalam proses ta'aruf, calon pengantin akan dipertemukan sebelum bertunangan , untuk saling mengenal dan melihat wajah masing masing, walaupun cuma sekitar 15 menit dan ditemani mahram perempuan , Tapi kali ini Sultan tidak menemui Sumayya karena memang ia tak berniat menikahi Sumayya dari awal.
"Hmm aku lapar sekali, aku mau makan, apa kau mau ikut makan denganku?" Tanya Sultan memulai percakapan dan mencoba mencairkan suasana yang terasa dingin.
Sumayya hanya mengangguk.
Kemudian mereka pun makan bersama.
Setelah selesai, Sultan masuk ke kamar mandi.
"Akhkh aku ada ide. Apa aku percepat aja ya , melaksanakan tugasku pada Sumayya, setelah itu aku antar dia ke Apartemen, dan setelahnya aku akan ke Apartemen ku dan Maymunah." Lagi lagi Sultan merenung di dalam kamar mandi.
Sultan tersenyum menyeringai setelah mendapat ide yang sebenarnya agak konyol.
Setelah selesai, ia segera keluar dan melaksanakan Solat Isya yang sempat tertunda.
"Sumayya di kamar mandi, sebaiknya aku chat Maymunah saja. Aku kangen banget sama dia..apalagi setelah melihatnya berdandan ala putri raja begini..ahkhh aku jadi makin tak sanggup menjauh lebih lama.
Tapi ..kalau aku gak melaksanakan tugasku, Sumayya pasti tersinggung.
("Sayang, udah pulang, kan?") Sent.
Sultan mulai mengirim chat pada Maymunah
Maymunah yang belum tidur itu segera membuka chat dari Sultan.
Dia membaca nya tapi tak merespon.
Ada rasa hampa yang ia rasa saat berada di kamarnya yang biasanya ada Sultan di sampingnya.
(" Sayang, kok diem aja. Marah ya? Jangan nangis dong" ) sent.
Maymunah merasa geli membaca chat yang menyuruhnya tak menangis sementara ia tetap melukai hatinya.
(" Siapa yang nangis? Rugi amat kalau aku nangis di sini, sementara kamu disana bersenda gurau bersama wanita lain") sent
__ADS_1
Akhirnya Maymunah membalas dengan kata-kata yang membuat Sultan melotot.
" Ya Allah, niat hati ingin menghibur, tapi malah membuat dia marah. Hmm pasti dia sensi sekali. Dia sedang hamil dan sekarang aku bersama wanita lain. Itu pasti membuatnya menderita. Ya Allah, apa yang harus kulakukan untuk membahagiakan istri hamba ..apalgi sekarang punya dua ..akhhh..
Satu saja aku belum bisa memenuhi kewajibanku, ibuku malah menyuruh untuk menikah lagi..
Sekarang aku yang bingung begini.. di sisi lain aku gak mau melukai hati Maymunah dan di sisi lain aku juga gak mau mulukai ibu dan istri baruku ini..akhhh pusing dah.."
Bugg..
Sultan menonjok tembok di sampingnya hingga membuat Sumayya ketakutan.
"Mmmaaf.
Aku lupa di sini ada orang " Ujar Sultan setelah menyadari keberadaan Sumayya.
"Tidak apa apa, saya mau tidur," Jawab Sumayya sambil membaringkan tubuhnya.
"Ya ampun, apa itu kode dari Sumayya agar aku melaksanakan tugasku sekarang?"
(" Sayang, kamu tidur dulu ya, nanti aku pasti datang) sent.
Sultan mengirim chat lagi.
("Kamu menyuruhku tidur karena kamu sendiri mau tidur dengannya kan?"
Mata Sultan melotot membaca reply dari Maymunah.
"Aghggh dari mana dia tau, kalau aku berniat melaksanakan tugasku pada Sumayya?" Sultan kesal sendiri melihat jawaban Maymunah.
(" Tidak usah bengong, aku mau tidur. Kalau kau mau tidur jangan lupa baca doa..dan jangan sampe salah baca doa..kalau gak hafal , buka google😁) "
Reply terakhir itu membuat Sultan bertambah gemas dengan istrinya ýang kini berada jauh darinya.
"Sayang, aku kangen banget..tapi aku harus melaksanakan tugasku dulu. Nanti setelah selesai aku pasti akan pulang memelukmu sayang" Gumamnya dalam hati sambil mencium poto istrinya.
Akhh dasar laki-laki, dia katakan kangen pada yang jauh, tapi masih mau menyentuh yang didepan mata.
Dengan hati hati Sultan berdiri dan melangkah ke arah ranjang, kemudian duduk di tepi ranjang.
Ia mengulurkan tangannya pada kepala Sumayya yang kini tengah duduk sambil menekuk lutut.
Sumayya mendongak, terlihat wajahnya yang cantik itu terlihat sembab.
"Kamu takut ya?, kalau kamu takut, kita lakuin nanti aja. Sekarang kita pulang dulu" Tanya Sultan hati hati takut menyinggung perasaan Sumayya.
Sumayya hanya menggeleng.
"Baiklah, apa kau mau kita lakukan sekarang?" Sultan bertanya lagi. Sementara Sumayya hanya menunduk diam, menandakan dia setuju.
Setelah melihat reaksi Sumayya yang diam dan setuju dengan maksudnya, ia pun segera melaksanakan tugasnya. Namun, ia harus dikejutkan oleh respon Sumayya, Sultan merasa heran saat mendapat respon yang luar biasa dari istri barunya itu..
"Kenapa respon wanita ini seperti seorang yang sudah berpengalaman?
******?
Kita lanjut di bab selanjutnya😁.
__ADS_1
Semoga terhibur dan bermanfaat.