Terjebak Kawin Kontrak dengan Tuan Muda Arab

Terjebak Kawin Kontrak dengan Tuan Muda Arab
Nasehat untuk adik ipar


__ADS_3

Setelah mengantar saudara-saudaranya ke depan pintu, Sultan segera kembali untuk menemui Maymunah yang masih duduk termenung di ruang tamu.


"Sayang, terimakasih karena sudah mempercayaiku, aku janji aku akan menjadi suami yang baik dan adil" Ucap Sultan sambil memegang tangan istrinya.


Maymunah menghapus air matanya, kemudian tersenyum.


"Jangan ge'er, emang siapa yang percaya sama kamu?. Rugi amat kalau aku harus percaya sama manusia " Ujarnya dengan bibir yang dimanyunkan, membuat Sultan menjadi gemas melihat istrinya.


"Terus, kamu percaya sama siapa?"


"Ya percaya sama Allah lah, kalau aku percaya sama janji-janji kamu, belum tentu kamu gak akan berubah. Karena hati manusia memang diciptakan selalu bolak-balik alias berubah-ubah. Sedangkan kalau aku percaya pada janji Allah, maka Allah SWT adalah dzat yang maha langgeng dan adil, dzat yang selalu menepati janjiNya, selama kita juga mentaatinya"Jawab Maymunah sambil tetap tersenyum.


Sultan menunduk malu.


Tapi ia tetap cengengesan.


"Hehe iya, kamu benar sayang"


"Kamu tau Sultan, Allah SWT berjanji dalam Alquran, bahwa 'Barang siapa yang bertaqwa pada Allah, maka Allah akan memberi nya jalan keluar dari setiap masalah yang ia hadapi, baik itu dengan cara yang kita duga, maupun dengan cara yang tidak kita duga sebelumnya"


Tuturnya lagi.


"Iya sayang, ya udah bobo yu, kangen ni" Ujar Sultan sambil bergelayut manja.


"Iih , masa tidur karena kangen, bukan karena ngantuk"


"Hahaha, ya kan karena kangen meluk kamu" ..


"Hmm , ya udah, ayo! tapi kamu emangnya udah Solat?, dari tadi aku lihat kamu di ruang tamu terus "


" Udah, kok sayang. Tadi kan kami solat berjamaah di ruang tamu"


"oooh"


*******


Ke esokan harinya, Maymunah langsung pergi ke dapur untuk membuat sarapan untuknya dan Sultan.


Meski hatinya terasa sakit karena perjodohan suaminya, ia tetap berusaha menjalankan kewajiban dan nantinya sebagai istri.


"Sayang, bagaimana ini? ibu sudah menelfon berkali-kali menyuruhku berangkat" Tanya Sultan sambil duduk di depan meja makan.


"Ya udah, kesana aja. Tapi sarapan dulu" Jawab Maymunah sambil menyuguhkan makanan ke hadapan Sultan.


"Baiklah, apa kamu mau ikut?"


Maymunah tertegun, tak mampu menjawab pertanyaan suaminya.


Dia menghela nafas panjang.


"Aku gak tau, aku tak mau menjadi bahan ejekan di sana"


"Tapi bukankah kau ingin aku memperkenalkanmu sebagai istriku pada krabatku"


"Aku gak mau merusak suasana aqadnya"


"Begini saja, Acaranya kan di rumah Sumayya, jadi kamu ikut aku kerumah ibu, nanti kamu di sana saja sama Susi dan Aminah. Biar mereka menghiburmu" ujar Sultan.


Maymunah mengangguk.

__ADS_1


Dengan berat hati, akhirnya Sultan dan Maymunah pergi ke rumah Ummi Fathmah.


"Assalamualaikum" Sapa mereka pada keluarga Sultan yang sudah berkumpul.


Sultan segera menyalami ibunya yang duduk termenung di atas sofa.


"Ummah, kaif halik?" Sapanya sambil mencium kepala ibunya. Di susul Maymunah yang meraih tangannya dan menciumnya.


"Ummi apa kabar" sapanya dengan berat.


"Alaikum salam warohmatulloh, akhirnya kamu datang juga Sultan, aku kira kamu akan tetap dengan pendirianmu" Ujar Ummi Fathmah dingin.


"Ummah, aku akan menuruti Ummah, karena aku gak mau ibuku dipermalukan. Tapi aku mohon setelah selesai acara resepsi dengan Sumayya, Ummah akan mengizinkan aku mengadakan resepsi pernikahan dengan Maymunah" Ucap Sultan di depan ibunya.


Ummi Fathmah terperanjat kaget, namun Ibtisam segera mengelus punggung ibunya untuk menenangkannya.


"Iya, kami pasti akan membantumu melaksanakan nya " Ucap Ibtisam lembut.


"Apa, jadi kamu mau mengadakan resepsi lagi dengan perempuan ini" Sahut Syifa dengan angkuhnya. Sementara Ragad hanya diam membisu.


"Cukup Syifa! tolong jangan bicara kasar pada kakak iparmu" Timpal Muhammad.


"Semuanya tolong dengarkan aku. Maymunah ini istri Sultan, Sultan sudah menikahinya dan dia sekarang sedang mengandung anak Sultan, jadi aku harap kalian harus menghormatinya sama seperti kalian menghormati kakak kalian" Tàmbah Muhammad dengan suara tegas nya.


"Sudah! sudah! sekarang kita akan menuju rumah besan, jadi aku harap kalian besiap sgera" Ujar Ummi Fathmah sambil berlalu pergi menuju kamarnya, di susul oleh Muhammad dan Wasim yang akan bersiap siap.


"Sayang, kita ke kamar yu" Ajak Sultan pada Maymunah.


"Gak, aku mau pergi ke dapur melihat Susi dan Aminah"


"Ya udah , aku mau ke kamarku"


" Memangnya dia mau ikut?" Tanya Syifa pada Ragad dengan menunjuk ke arah Maymunah. Ragad hanya mengangkat bahunya tak merespon apapun.


"Maymunah, apa kau mau ikut kami ke rumah Sumayya? " Tanya Ibtisam masih dengan senyum lembutnya.


"Saya gak tau, saya gak mau menggangu acara aqadnya" Jawab Maymunah sopan.


"Bagus lah kalau kau sadar bahwa kehadiranmu tidak diperlukan" Sahut Syifa.


"Syifa, sebaiknya kau jaga ucapanmu, emangnya kau mau Muhammad marah lagi?" Kali ini Syafa menyahuti, Saudari kembar Syifa itu memang selalu diam dan tak mau ikut campur.


"Maymunah, kalau kau mau ikut, kamu boleh ikut, kalau gak mau, kamu bisa tinggal di sini saja dulu sebelum Sultan kembali" Ujar madam Hannan, istri dari Muhammad.


"Oh iya, sebaiknya kau ikut saja. Acara nya kan seru, nanti setelah Aqad ada acara Sultan dan Sumayya makan bersama, minum dalam gelas yang sama..wah pokoknya mesra deh..kan mereka pengantin baru" Syifa menyahuti lagi, kali ini dengan kata-kata yang membuat hati Maymunah serasa di sayat-sayat.


Dada Maymunah terasa panas membara menahan gejolak amarah dan sakit hati yang tak bisa dijabarkan dengan kata-kata.


Dengan menguatkan hatinya, Maymunah akhirnya berusaha menjawab.


"Kalau Susi dan Aminah ikut, saya akan ikut." Jawab Maymunah.


"Ohh baguslah, kalau kau sadar bahwa kau ini cuma seorang pembantu, jadi kamu pantasnya ya sama pembantu lainnya" Syifa makin menjadi-jadi mengejek Maymunah.


Maymunah tersenyum sinis dan beralih memandang Ibtisam


"Madam Ibtisam, apa dalam ajaran islam, ada ayat Alquran atau Hadis yang menyuruh untuk merendahkan pembantu?" Tanyanya dengan suara lembut, namun sangat menohok. Ibtisam mulai merasa gelisah dan tak enak hati, hingga ia tak mampu menjawab.


"Kenapa anda diam, madam? Atau Madam Hannan akan menjawab pertanyaan saya?"

__ADS_1


Giliran Hannan yang ditanya.


"Hmm tentu saja tidak ada?" Jawabnya ragu.


"Atau kalian pernah mendengar, bahwa Rosul itu merendahkan pembantu?" Maymunah bertanya lagi.


"Apa maksudmu bertanya begitu?" Tanya Syifa yang kebakaran jenggot mendengar pertanyaan Maymunah.


"Kamu tanya maksudku? Sejak tadi bukannya kamu merendahkan ku karena aku seroang pembantu, padahal Ŕosululloh yang begitu tinggi derajatnya saja tidak pernah merendahkan pembantu. Lalu kamu? Apa derajatmu sehingga kau berani merendahkan sesama manusia? " Jawab Maymunah, masih dengan suara lembutnya namun kata-katanya justru membuat Syifa terdiam.


"Seingat saya yang selalu berlaku sombong itu ada dua, pertama iblis dan kedua Firaun, benar kan? apa kamu ingin meniru mereka?"


Mereka yang ada di ruang keluarga itu kini terdiam, Ragad segera bergegas ke kamar, di susul oleh Syafa.


Sedangkan Ibtisam dan Hannan hanya duduk sambil berusaha tersenyum menanggapi Maymunah.


"Baiklah, karena kalian tak mau menjawab, saya permisi dulu. Saya minta maaf kalau kata-kata saya tadi tidak enak di dengar. Saya hanya ingin mengingatkan bahwa panutan ummat islam itu Nabi Muhammad yang selalu Tawadu dan ramah pada siapapun. Sedangkan yang selalu sombong itu adalah iblis dan Fir'aun. Permisi "


Maymunah segera bergegas ke dapur dan menyapa teman-temannya.


"Assalamualaikum teh Susi dan bu Aminah " Sapa Maymunah setelah berada di dapur.


"Masya Allah, Mae. Kamu kembali lagi..ooh" Sambut Susi kegirangan.


Mereka segera berhambur memeluk Maymunah.


"Hehe iya teh, Mae nemenin Sultan. Hari ini kan dia mau nikah sama Sumayya" Jawab Maymunah seolah santai meski sebenarnya hatinya sangat gelisah.


"Mae, jadi benar kamu itu udah nikah sama Sultan?" Tanya Susi.


"Iya, saya nikah sewaktu di kampung saya teh, tapi belum di resmikan" Maymunah menjawab dengan nada datar.


"Ooh terus, sekarang kamu ikhlas, Sultan nikah sama Sumayya, emang kamu gak sakit hati kalau di madu, Mae?" Tanya Aminah.


Maymunah tersenyum getir.


"Emang nya teteh mau sayà jawab apa? Bohong kalau saya bilang tidak sakit, iya kan? tapi apa yang bisa saya lakukan, Ummi Fathmah sudah merancangnya sedemikian rupa, jadi saya gak mau Sultan dianggap jadi anak durhaka"


"Ya Allah, yang sabar ya Mae. Aku yakin, Allah pasti ngasih jalan keluar buat kamu." sahut Susi.


Maymunah hanya tersenyum mendengar nasehat dari temannya.


"Nikah siri aja bangga, cuih! " Timpal Lilis yang baru datang.


Maymunah tersenyum kearah Lilis.


"Apa kabar teh Lilis?" Sapa nya lembut, tapi malah dijawab dengan nada kasar.


"Sok sombong kamu, kamu ini cuma pembantu, meski sudah menikah dengan Sultan, gak ada yang ngakuin kamu. Pembantu ta tetap aja pembantu " Jawab Lilis sewot.


"Heh liis, dari tadi kamu ngatain Maymunah


pembantu , emangnya kamu ini Bukan pembantu. Sama sama pembantu aja sombongnya bukan main " Tukas Susi tak kalah ketusnya dengan Lilis.


Maymunah mendekat dan tersenyum


" Sudah teh, gak apa apa, toh apapun yang diucapkannya gak akan pernah merubah kenyataan bahwa aku emang istri Sultan"


"halah menikah siri aja bangga"

__ADS_1


"Ya Walaupun sirri, yang penting aku sudah menikah secara Sah dimata agama, jadi aku gak jual diri, gak seperti orang lain yang cuma dijadikan budak nafsu dan isengnya para laki-laki." Ujar Maymunah sarkas, membuat LiLis matikutu.


__ADS_2