Terjebak Kawin Kontrak dengan Tuan Muda Arab

Terjebak Kawin Kontrak dengan Tuan Muda Arab
Berpamitan


__ADS_3

Hari berganti pagi, Namun matahari seakan masih enggan menampakkan wajahnya di permukaan bumi.


Seakan ia tau, bahwa ada sebongkah hati yang masih di selimuti kabut duka karena kehilangan sosok ayah yang dicintainya.


Maymunah sepagi ini terlihat pergi keluar, ia berjalan menyusuri jalan setapak menuju pemakaman di mana ayahnya dimakamkan.


Setelah ia sampai, Maymunah berdoa denga khusyu, mendoakan ayahnya agar selalu dalam curahan rahmatNya.


"Bah, semoga doa-doa abah yang belum terkabul selama abah hidup akan dikabulkan oleh Allah." Lirihnya pilu.


Dadanya terasa sesak, bulir bulir bening menggenang di matanya, namun ia mencoba membendungnya dengan sekuat tenaga.


Ia tak mau menangis di depan kubur ayahnya, yang tentunya itu akan memberatkan abahnya di dalam qubur sana.


Setelah selesai, Ia bermaksud bangun dan melangkah pulang. Tapi ia terkejut saat ia melihat sudah ada sosok tegap yang berdiri di sampingnya.


Sejak awal Sultan mengikuti istrinya, tapi itu sama sekali tak disadari oleh Maymunah yang memang berjalan dengan pikiran melayang entah kemana.


Sultan tersenyum lembut, kemudian berjongkok di depan makam mertuanya dan mengangkat tangannya untuk mendoakan mertuanya.


Maymunah dengan setia menunggu suaminya sampai selesai.


Setelah mereka selesai, mereka pun berjalan beriringan menelusuri jalan yang dipenuhi rumput liar dan pepohonan di sekitarnya.


"Sayang, kamu sudah siap kan? " Tanya Sultan saat di perjalanan.


"Iya, In sha Allah." Jawab Maymunah singkat.


"Oh ya Sayang, itu namanya Gunung apa?" Tanya Sultan seraya menunjuk ke arah Gunung karang yang berselimutkan awan putih.


"Itu ñamanya Gunung karang, Gunung tertinggi di Propinsiku ini. Kenapa?"


" Gak apa apa, cuma nanya aja. Aku heran aja sama orang Indonesia, banyak yang tinggal


di bawah gunung berapi. Apa mereka gak takut kena Burkan (vulkan)?"


"Ya namanya juga sudah tempat tingga mereka, soal maut, bukankah kalaupun kita tinggal di negeri yang paling aman sekalipun, kita akan tetap mati"


Sultan cuma manggut-manggut mendengar jawaban Maymunah.


Mereka melanjutkan perjalanan menuju rumah Maymunah. Di dalam rumah Maymunah, bu Irma dan anak anaknya terlihat sedang duduk merenung melihat koper Maymunah yang sudah di siapkan di ruang tamu.


Hati Maymunah serasa di sayat sembilu melihat sang ibu bermuram durja.

__ADS_1


Ia segera duduk di samping ibunya dan memeluknya. Sementara Sultan pergi ke kamar mereka.


"Ma, apa ema ikhlas membiarkan Mae pergi?" Tanya Maymunah sambil berurai airmata.


Sebenarnya Maymunah agak ragu mengungkapkan keinginannya untuk ikut suaminya, karena dia faham keadaan ibu dan adik adiknya yang baru saja ditinggalkan ayahnya.


Bu Irma tersenyum kecut, Ia juga sebenarnya berat menghadapi ujian ini seorang diri, tapi ia sadar sekarang Maymunah sudah bersuami dan harus mengikuti suaminya.


"Iya sayang, Mae pergi saja sama Sultan. Ema dan adik-adikmu akan baik-baik saja di sini" Jawabnya sambil menyembunyikan airmata yang mulai menggenangi matanya.


"Maafin Mae ya ma, kalau Mae ninggalin ema di saat seperti ini. " Airmata Maymunah juga mulai mengalir begitu saja.


Ia beranjak ke depan ibunya dan bersimpuh sambil memeluk lutut bu Irma.


Maymunah membenamkan kepalanya di pangkuan ibunya sambil menangis sesegukan.


Bu Irma mengelus kepala anaknya dengan lembut.


"Jangan sedih Mae, ema gak apa-apa. Ema nanti akan menjaga adik-adikmu. Ema pasti kuat.


Kamu sekarang sudah jadi seorang istri, jadi kamu harus berbakti pada suamimu. In sha Allah baktinya Maymunah pada suami Mae, nanti akan menjadi pahala juga buat abah sama ema di sini"


Ucap bu Irma sambil berusaha menahan buliran bening yang kian berdesakan ingin terjun dari matanya.


Lama mereka terlarut dalam duka mereka.


Ia memang telah menikah, namun ia sadar , ia tak bisa berharap banyak dari pernikahan yang mungkin tak akan berlangsung lama itu.


"Ya Maymunah, kemari sebentar !" Dari dalam kamarnya, terdengar suara Sultan memanggil nya.


"Itu suara Sultan, ya udah , neng samperin dia sana." Maymunah hanya mengangguk kemudian berdiri dan melangkah menemui Sultan.


Di dalam kamar, Sultan terlihat sudah siap dan rapih dengan celana jeans dan kaos hitamnya.


"Sayang, aku sudah siap. Kamu kok belum siap siap? penerbangannya jam 6, jam 5 sore kita harus ada di ruang tunggu. " Ujar Sultan sambil memakai jaket denimnya.


Dengan lembut, Maymunah membantu suaminya memakai Jaket.


"Ya sudah, aku mandi dulu" Jawab Maymunah seraya membuka lemari dan mengambil baju yang sebenarnya sudah ia siapkan.


"Ya salam, jadi kamu belum mandi, pantesan aku dari tadi mencium bau asem.." Ucap Sultan sambil mengelilingi tubuh Maymunah dan mengendus lehernya.


"Iih mulai, mau modus lagi ya..udah ah..nanti aku gak jadi mandi dan gak jadi ikut kamu"

__ADS_1


"Ehhh jangan dong..ya udah mandi sana..biar tambah wangi. mmuuahh.."


Maymunah cuma memutar bola matanya, dan berbalik menuju pintu, tapi Sultan menahannya lagi.


"Eh tunggu dulu!..Ini kasih ke Ema, buat bekal mereka selama sebulan. Nanti setelah di sana , kita akan mengirim lagi buat mereka" Ujarnya seraya menyerahkan amplop berwarna coklat ketangan istrinya.


Maymunah tertegun sesaat, matanya mulai lembab.


"Udah jangan nangis. Kasihin sana, dan cepat mandi!" Titah Sultan sambil mendorong lembut tubuh Maymunah dan mengeluarkannya dari kamarnya.


Setelah Maymunah dan Sultan siap berangkat, Mereka segera menemui Bu Irma dan adik -adiknya yang berada di luar bersama para warga yang sudah berkumpul untuk melepas kepergian Maymunah.


Maymunah dan Sultan mendekati Bu Irma. Maymunah segera berhambur memeluk bu irma dengan erat.


"Ma, Mae pamit ya..Maafin Mae harus ninggalin ema..hik hik hik " Lirih Maymunah dalam pelukan ibunya.


"Udah, jangan nangis. Ema dan adikmu kan sudah biasa Mae tinggalkan. Iya kan? Ema gak apa apa..Ema pasti kuat Mae..hu hu hu" Balas bu Irma dengan tangis yang tak bisa ia tahan lagi.


Maemunah memang sudah biasa bepergian untuk kerja di luar negeri, tapi pada waktu itu keluarga mereka masih lengkap, jadi suasana duka itu tak begitu terasa.


Tapi kali ini pak Muhammad sudah pergi dan tak lagi menjadi sumber kekuatan mereka, maka karena itu, mereka merasakan duka yang teramat lara saat Maymunah akan berangkat ke Saudi.


Maymunah melepas pelukan ibunya dan beralih menghadap adik-adiknya.


"Rahmat, kamu adalah anak laki-laki yang paling besar, kamu harus menjadi penopang bagi keluarga. Jadilah pengganti abah yang akan melindungi dan mengayomi ema dan adik adikmu!" Ujar Maymunah pada Rahmat yang berdiri menunduk. Rahmat ingin menangis, tapi ia menahannya.


"Iya teh" Jawabnya singkat.


"Anaya, kamu harus bantu ema di dapur dan sekolah yang rajin ya..jangan sekali kali keluyuran, patuhi ema dan kak rahmat! dan jaga adikmu"


Anaya memeluk Maymunah sambil sesegukan.


"Ade sayang, Ade jangan nakal sama ema ya. Sekolah yang rajin dn solat juga. Nanti teteh pulang, teteh kasih eskrim yang banyak buat Ade."


Setelah Maymunah berpamitan pada keluarganya, Maymunah juga berpamitan pada tetangganya yang hadir di situ, dia menitipkan ibu dan adik adiknya pada mereka.


Sultan juga segera bersalaman dengan mertua dan adik iparnya.


Rahmat terlihat mendekat dan memeluk Sultan.


"Please take care of my sister! . Don't hurt her! If you dare to hurt her, you will face me"


Ujarnya sambil meninju pangkal lengan Sultan.

__ADS_1


Sultan pun tersenyum sambil menepuk nepuk pundak adik iparnya itu.


Setelah mereka berpamitan, mereka berdua segera naik ke mobil travel pesanan Sultan.


__ADS_2