
"Mae, kamu tenang, ya, kamu sudah aman sekarang," ujar Fawaaz setelah mereka berada dalam mobil.
"Iya, Kak. Terima kasih."
"Dek Mae, bisakah Adek cerita tentang masalah Adek pada kami. Ini untuk bahan laporan kami nanti," sahut teman Sultan yang ikut menjemput Maymunah.
"Iya, Kak, saya dituduh berzina, karena sekarang saya sedang hamil," jawab Maymunah sambil menunduk.
Riiit ..
Brugg..
Tiba-tiba Fawaz mengerem mendadak karena mendengar perkataan Maymunah.
" Maaaf, aku kaget, jadi mengerem mendadak. Apa maksud kamu, Mae? bukannya kamu tinggal bersama suami kamu?"
Maymunah segera menceritakan hal yang sebenarnya pada Fawaz, bukannya ia ingin mengumbar aib suaminya, tapi hal ini sangat penting untuk diceritakan, karena mengingat dia sendiri dalam bahaya.
Fawaaz terlihat sangat syok ketika mendengar keterangan Maymunah. Ia sungguh tak terima wanita yang selama ini sangat dicintai dan dihormati olehnya itu diperlakukan sebagai pembantu di rumah mertuanya sendiri.
"La haula wala quwwata illa billah. Kenapa kamu jadi sebodoh ini , Mae.? Maaf, tapi Mae yang dulu kakak kenal adalah seorang gadis pemberani yang tak lemah dan tak pernah mau dilecehkan. Tapi kenapa kamu sekarang mau-maunya diperlakukan seperti itu oleh Sultan?" Tanya Fawwaz penuh emosi.
Maymunah cuma bisa menunduk sedih. Ia sendiri tak tau, kenapa dia bisa terjebak dalam pernikahan yang tak jelas ini bersama Sultan.
" Mae sendiri gak tau, Kak. Tapi sekarang Mae gak bisa mundur lagi, karena sekarang Mae sedang hamil anak Sultan. Kalau Mae nyerah, nanti bagaimana nasib anak Mae? Identitasnya nanti gak jelas, apalagi dia terlahir dari kedua orang tua yang berbeda kebangsaan, ini pasti akan sangat sulit baginya nanti untuk mendapat identitas diri" ungkap Maymunah.
Fawaz yang mendengar itu bertambah tersulut emosinya.
Bug..
Bug..
Tanpa sadar, Fawaz memukul-mukul kemudi mobil hingga membuat mobil menjadi oleng.
"Fawaz, hentikan! kalau kamu gak fokus nyetir, biar aku yang nyetir. Ayo turun! kita ganti posisi" Bentak Nasir, teman Fawaz .
Fawaz yang sudah tersadar, kini beristigfar berulang kali.
"Astafirullah, maaf. Aku terlalu emosi. Ya sudah. Silahkan ganti kamu yang nyetir" Ujarnya seraya turun dari mobil.
Setelah berganti posisi, Nasir segera mengemudikan mobilnya.
"Maaf ya Mae, apa Kakak membuatmu takut?" Tanya Fawaz tanpa melirik kearah Maymunah.
"Gak apa apa kak. Maaf juga kalau cerita Mae bikin kakak emosi "
"Sudah tentu kakak akan emosi, jangankan hal ini dialami oleh kamu, wanita yang kakak kenal dan kakak anggap keluarga, andai orang lain pun yang mengalami , kakak pasti akan emosi melihat seorang wanita baik-baik diperlakukan sehina itu. Maaf, suamimu itu sangat pengecut bagi kakak."
__ADS_1
"Iya kak, mohon doanya aja semoga Sultan akan mampu berterus terang pada ibunya. Aku gak sepenuhnya menyalahkan Sultan, karena ada hati seorang ibu yang harus kami jaga, kak. Aku gak mau Sultan jadi anak yang durhaka pada ibunya hanya karena aku."
"Ya kamu betul, Mae"
Nasir mengemudikan mobil dinas KJRI itu menelusuri jalanan antara Thaif dan Jeddah. Sebuah jalanan yang berkelok kelok mengitari gunung Alhada.
Sementara itu, Sultan yang sudah sampai di Bandara King Abdul Aziz itu segera menaiki taksi untuk pulang menuju Thaif.
Hati Sultan diselimuti kegelisahan yanh luar biasa.
Seolah ia bisa merasakan kalau istri tercintanya itu kini sedang dalam kesengsaraan.
Setelah ia sampai di rumah ibunya, ia segera berlari memasuki rumah itu sampai membuat para pekerja di rumahnya terheran-heran.
"Assalamualaikum " Sapanya ketika sudah memasuki ruang keluarga, yang kebetulan di sana cuma ada ibunya dan adiknya Ragad, karena anak yang lain sudah pulang kembali ke rumah mereka masing -masing.
"Alaikum salam warohmatulloh. Ma sha Allah akhirnya kamu datang," sambut Ummi Fathmah gembira.
Sultan segera mencium kepala ibunya dan memelukanya , kemudian mencium kepala adiknya.
Setelah menyapa keluarganya, ia segera bergegas ke dapur untuk mencari Maymunah.
"Maymunah, Maymunah, kemana dia? " Sultan memanggil Maymunah berkali - kali.
"Susi, Mana Maymunah? " Tanyanya setelah ia melihat Susi masuk ke dapur.
Susi menunduk.
"Maymunah, Maymunah, ..kamu dimana?" Teriaknya sambil berlari ke kamar pembantu di belakang.
"Ya Allah, kamu di mana, Maymunah. Kenapa tidak ada yang jawab?"
Sultan terus berteriak sambil berlari kesana kemari. Setelah ia tak menemukan Maymunah di luar, ia segera kembali ke dalam rumah. Ia segera berhambur ke hadapan Ummi Fathmah dan segera bersimpuh di depan ibunya sambil memeluk lutut ibunya.
"Ummah, Ummah, Maymunah di mana? kemana Maymunah, Ummah!" Tanyanya sambil menggoyang - goyang kaki ibunya, persis seperti seorang anak kecil yang menanyakan mainannya yang hilang. Tapi Ummi Fathmah tetap diam membisu.
"Untuk apa kau menanyakan perempuan murahan itu?" Tanya Ragad, sinis.
"Astaggfirullah, kenapa kamu bicara kasar tentang Maymunah, ya Ragad? Bentaknya seketika.
"Dia memang murahan, buktinya dia ngaku hamil sama kamu" Sahut Ragad tanpa melihat kakaknya.
Sultan terperangah kaget, Ia langsung berdiri dan menghampiri adiknya.
"Apa? Jadi ... jadi Maymunah benar -benar hamil?" ujar Sultan dengan wajah sumringah dan berbunga -bunga.
"Iya, dia muntah-muntah trus kami periksa, tenyata dia hamil..eh saat kami tanya, dia malah menjawab bahwa itu anakmu. Ya karena itu kami marah dan mengusirnya" Jawab Ragad enteng seperti tak ada beban sedikitpun.
__ADS_1
"Apa , kalian mengusir Maymunah, padahal dia sudah bilang bahwa anak yang dikandungnya adalah anakku? bagaimana kalian bisa sekejam itu padanya? pada anakku? Astaggfirullah.." Sultan berteriak teriak kemudian menjatuhkan dirinya di lantai sambil terisak.
"Astaggfirullah, anakku..maafkan baba nak" Rintihnya pelan.
Ummi Fathmah yang melihat anaknya seperti itu, segera bangun mendekat dengan ekspresi wajah yang sangat aneh.
"Apa, jadi..jadi anak yang dikandung Maymunah benar -benar anakmu, Sultan?" Tanyanya setelah ia berada di hadapan anaknya.
"Iya, Ummah..anak yang dikandung Maymunah adalah anakku, karena dia istriku, ummah" Jawab Sultan sambil menunduk.
Ummi Fathmah terhenyak dan terhempas di atas Sofa, ia sungguh tak menyangka , yang di katakan Maymunah semuanya benar.
"Sultan, kamu gak usah bohong, bagaimana mungkin kamu menikahi pembantu?:Tanya Ragad memastikan ucapan kakaknya.
"Aku tak bercanda, Ragad. Maymunah itu istriku, aku menikahinya ketika kami masih di Indonesia. Tadinya aku ingin mohon izin untuk membuat surat nikah di sini, tapi kalian keburu mendaftarkan namaku dengan Sumayya." Tutur Sultan sedih.
" Sultan, kenapa kamu menikahi pembantu? " Ragad bertanya lagi.
"Sudah cukup! Ragad, Jangan menjelekkan dia lagi. Mau dia pembantu atau apapun itu, yang jelas dia istriku, kakak iparmu. Jadi jika kalau kamu menghargaiku sebagai kakakmu, kamu juga harus menghargai Maymunah." Ragad akhirnya diam.
"Ummah, sekarang saya mohon jawablah! kemana kalian mengantarkan Maymunah?" Tanya Sultan pada ibunya. Dengan lembut,
"Tanya saja pada supir, dia yang mengantar Maymunah!" titah Ummi Fathmah sambil melangkah masuk ke kamarnya.
Mendengar itu, Sultan langsung bergegas pergi ke kamar supir yang terletak di pinggir rumah.
"Amir, Amir, keluar kau!" teriak Sultan di depan kamar supir.
"Mana Maymunah? kemana kau bawa dia?" Sultan langsung bertanya pada supir setelah pintu terbuka.
"Anu Tuan, dia pergi sama pacarnya," jawab Amir sengaja memfitnah Maymunah sesuai perintah Ragad.
"Jangan sembarangan kamu! Maymunah itu istriku, jadi jangan memfitnahnya! "
Jderr
Amir terkejut mendengar pernyataan Sultan.
Kini ia merasa ketakutan karena takut salah bicara.
"Iya Tuan, maksud saya, dia saya antar ke Jeddah, terus dia bertemu dua laki-laki Indonesia , ya saya kira itu pacarnya," Jawab Aamir dengan menunduk.
Mendengar itu, Sultan segera merogoh ponselnya dan memperlihatkan poto Fawaz pada Amir.
"Ini bukan?"
"Iii iya tuan, itu orang nya."
__ADS_1
"Baiklah. Terimakasih "
Setelah dari ruangan supir, Sultan segera masuk kembali dan segera membersihkan diri, kemudian langsung melesat membawa mobilnya menuju Jeddah.