
Gelapnya malam telah berganti siang.
Lembutnya sinar rembulan telah hilang, digantikan oleh hangatnya sinar matahari pagi.
Sepagi itu, sesuadah Maymunah mengikuti kegiatan senam pagi bersama tahanan lainnya.
Maymunah kini terlihat melaksanakan solat duha di dalam sel tahanannya.
Maymunah masih melantunkan dzikirnya ketika petugas memanggilnya untuk menemui Afina dan Faisal yang sudah menunggunya.
"Bagaimana, apa kamu udah bisa ngasih keputusanmu?" Tanya Afina setelah Maymunah duduk di depan mereka.
Maymunah mengangguk.
"Saya ingin keluar dari sini" Jawab Maymunah singkat.
Afina terlihat tertawa mengejek bercampur rasa puas karena ia tau, Maymunah sudah kalah dengannya.
"Hahah...Akhirnya kamu mengambil keputusan yang tepat."
"Tapi saya ada permintaan"
" Katakanlah!"
"Kalau memang Sultan ingin menikahi saya, saya ingin dia menikahi saya di depan kedua orang tua saya, dan orang-orang kampung"
Afina terlihat bengong mendengar permintaan Maymunah yang baginya mustahil, karena Sultan hanya menginginkan kawin kontrak, bukan menikah secara sah menurut agama dan negara.
Kawin kontrak biasanya hanya dilakukan oleh penghulu yang sudah biasa melakukannya dan cukup disaksikan beberapa orang saja tanpa adanya wali yang sah. Biasanya mereka cukup menjawab dengan na'am, itu sudah dikatakan sah oleh si penghulu abal-abal yang biasa menikahkan pelaku kawin kontrak itu.
"Aku akan tanyakan dulu pada Sultan"
Afina segera menelfon Sultan dan mengatakan permintaan Maymunah.
"Ya sudah, kamu bersiaplah! Sultan setuju untuk pergi ke menemui abahmu. Kamu bersiaplah!, Sekarang kami akan mencabut laporan kami" Ujar Afina seraya melangkah meninggalkan Maymunah yang masih terpaku.
"Ya Allah, semoga keputusanku ini tak salah langkah. Hamba hanya tak mau keluarga hamba menanggung hukuman atas kesalahan hamba. " Lirihnya dalam hati.
Setelah semua urusan pencabutan laporan selesai, akhirnya Maymunah dibebaskan dari tuntutan.
Ia melangkah gontai di belakang Afina dan Faisal.
Bulir bening dari netranya tak berhenti menetes di pipinya walau sejenak, seperti layaknya air terjun yang terus terjun bebas ke kolam.
"Ayo naik! Kenapa kamu masih nangis? Harusnya kamu senang karena kamu udah bebas" Ujar Afina kesal, ketika melihat Maymunah tetap menangis.
"Saya mau pulang ke Serang. Katakan pada Sultan, kalau dia mau denganku, dia harus datang ke rumah orang tuaku dan menikahiku di depan orang tuaku."
"Faisal, ana abgho aruh baiti. Gul hag sultan,Lau Yibghoni khalli yiji inda abuya." Ujar Maymunah dalam bahasa Arab Saudi.
"Lakin(tapi)" Faisal ingin menjawab Maymunah, tapi dicegah oleh Afina.
"Biar saja, saya tau rumahnya. Nanti kita kesana." Kaya Afina.
__ADS_1
"Ya udah, kamu naik dulu. Nanti aku anter kamu ke terminal."
"Tidak usah teh, saya mau naik angkot aja.
Mana tas saya,?"
Setelah berucap demikian, Maymunah segera mengambil tas ranselnya di dalam mobil sewaan Faisal.
Sepanjang perjalanan, Maymunah terlihat merenung.
Beberapa jam kemudian, Maymunah telah sampai di terminal Pakupatan Kota Serang.
Setelah turun dari Bus, ia segera mencari angkot jurusan ke kampungnya di Kaki Gunung Karang.
Kampung Maymunah terletak di lereng pegunungan yang di sebut Gunung Karang.
Gunung Karang adalah sebuah pegunungan terbesar dan tertinggi di daerah Banten.
Gunung ini terletak antara kabupaten Serang dan Pandeglang. Gunung karang sering dikaitkan dengan kisah mistis dan berbagai cerita supranatural, terutama di daerah puncaknya yang di sebut sumur tujuh.
Mata Maymunah berbinar ketika melihat perkampungannya dari kejauhan.
Ia turun dari angkot dengan perasaan campur aduk. Ada rasa bahagia karena telah sampai di kampung halamannya, tapi juga ada rasa perih ketika mengingat masalah yang mungkin akan ia hadapi jika Sultan benar-benar menginginkan untuk kawin kontrak dengannya.
"Neng Mae, kok datang lagi? katanya kerja di Bogor?" Sapa salah seorang tetangga Maymunah, ketika Maymunah sudah sampai di kampungnya.
"Iya, wa. Mae gak betah. Ya udah, Mae ke rumah dulu ya" Jawab Maymunah ramah.
"Iya, cepat pulang, abah kamu sakit lagi." Kata tetangga itu lagi.
Seketika Maymunah menjadi lemas mendengar orang tuanya sakit.
Ia segera berlari menuju rumahnya.
Rumah yang hanya berukuran 6×9m itu terletak di pinggir kampung.
Maymunah segera membuka pagar rumahnya yang terbuat dari kayu itu.
"Teh Mae?..Emaa..lihat! teteh datang maa" Teriak seorang bocah laki-laki berumur 7 tahun, Ia adik bungsunya Maymunah.
"Assalamualaikum ema" Sapa Maymunah ketika melihat ibunya keluar dengan tergopoh gopoh.
"Mae, kamu datang neng.." Maymunah segera berhambur memeluk ibunya dan menangis tersedu-sedu menumpahkan semua kegundahannya.
"Teteh...mana eskrim pesenan Ade?" Tanya Ade, adik bungsu Maymunah.
Maymunah mencelos, ia baru teringat pesanan adiknya itu. Ia sama sekali lupa dengan semuanya.
"Maaf ya , Ade. Teteh lupa beli" Jawabnya dengan rasa bersalah.
Ade terlihat ngambek.
"Udah, jangan ribut eskrim mulu, ayo kita ajak masuk teteh dulu" Ujar ibunya melerai mereka.
__ADS_1
"Ma,abah di mana, sakit ya?" Tanya Maymunah ketika sudah berada di dalam rumahnya.
"Iya, neng. Sejak neng berangkat kerja, abah sakit "
Maymunah segera bergegas menuju kamar ayahnya.
Di kamar yang berukuran 3x3 itu hanya terdapat kasur dan lemari kecil.
Pak Muhammad, ayah Maymunah terlihat terbaring dengan lemah di atas kasur yang sudah lepek itu.
"Assalamualaikum, Abah" Sapanya seraya berhambur memeluk ayahnya.
"Alaikum salam. Neng, kamu Pulang?"Jawab pak Muhammad.
"Abah udah makan?"
"Belum, abahmu belum mau makan" Ibunya yang menyahuti.
"Apa gak ada nasinya ma?"
"Ada kok, neng. Nanti ema ambilin, kamu suapin abah, ya?"
Maymunah mengangguk.
Setelah menyuapi ayahnya, Maymunah menuju dapur untuk menaruh piring kotornya.
" Ema, Mae lapar, apa ada makanan lagi?"
Tanyanya pada ibunya yang sedang membereskan dapur.
Ibunya tertunduk sedih.
"Cuma ada nasi ini neng. Beras juga tinggal 2 liter lagi. Maaf ya neng, uang yang neng kasih, ema pakai buat berobat abahmu dan buat bayar sekolah adikmu si Rahmat." Ungkap bu Irma dengan menunduk sedih.
Air mata Maymunah kembali mengalir mendengar perkataan ibunya.
Hatinya remuk dan sedih ketika melihat di dapurnya tidak ada persediaan makanan lagi, selain sepiring nasi putih sisa.
Ia ingat di kantongnya juga hanya tinggal 2 ratus ribu lagi.
"Gak usah minta maaf ma, nanti Mae cari lagi. Oh ya, sekarang kita makan bareng aja yu..
Biar berkah. "
Dengan menahan rasa sedihnya, Maymunah menyiapkan sepiring nasi putih itu dan segera memanggil adik-adiknya.
Sepiring nasi itu mereka makan berlima. Maymunah, ibunya dan ketiga adiknya.
"Alhamdulillah, aneh ya..Anaya Cuma makan sedikit, tapi kok terasa kenyang ya, teh?" Tanya Anaya, adik Maymunah yang masih SMP.
Maymunah tersenyum.
"Itu barokah dari sunnah Rosululloh. Rosululloh menganjurkan kita untuk makan bersama dalam satu wadah, karena itu akan membuat kita kenyang meski makanannya cuma sedikit. Dan akan menumbuhkan rasa kebersamaan dalam diri kita." Tutur Maymunah lembut, sambil mengusap kepala adiknya.
__ADS_1
Setelah mereka selesai makan, Maymunah masuk ke kamarnya. Rumah mereka mempunyai tiga kamar, yang satu diisi kedua orang tuanya, yang satu diisi adik laki-lakinya dan satu lagi diisi oleh Maymunah dan Anaya.