
Sultan menarik tangan adiknya sampai mereka melewati ruang keluarga yang kebetulan ada Wasim yang baru datang.
"Assalamualaikum, apa kamu tak mau menyapaku, Ahmad?" Wasim menyapa duluan.
Ahmad menoleh dan bersorak gembira sambil memeluk kakaknya yang alim itu.
"Alaikum salam warohmatulloh..ahlen bagaimana kabarmu wahai kakakku yang paling ku sayang" Ahmad menyambut sapaan Wasim dengan hangat sambil melirik kearah Sultan , seolah menyindirnya kalau ia bukan kakak terbaiknya.
"Eh kenapa kalian saling cemberut begitu? apa ada masalah diantara kalian?" Tanya Wasim yang melihat ada gelagat tak sedap pada kedua adiknya.
"Itu kak, Sultan cemburu karena aku menyapa pembantu yang cantik itu" Bisik Ahmad di telinga Wasim.
Wasim cuma menggeleng sambil tersenyum.
"Kalian ini seperti anak kecil saja. Ingat baik baik! Jangan macam-macam sama pekerja di sini, kasian mereka. Mereka juga punya kluarga di negaranya, jadi hargailah mereka" Ujar Wasim sambil memandang kearah kedua adiknya.
"Aku gak macam-macam, cuma satu macam saja. Aku pengen kenalan, jadi apa salahnya? Dan Kalau dia memanģ gadis baik-baik dan aku suka, aku pasti langsung melamarnya . Aku gak akan peduli dia itu pembantu atau bukan"
Ahmad menjawab dengan santai, tapi Sultan malah seperti kebakaran jenggot.
"Diam kamu! kuliah yang benar! Kuliah saja belum lulus, sudah ngomong nikah" Bentak Sultan. Ahmad malah terkekeh dan berbisik di telinga Wasim.
"Tuh lihat kembaranmu itu! dia kenapa seperti cemburu banget sih?"
Wasim cuma tersenyum melihat tingkah kedua adiknya.
"Sudah! sudah! Ahmad, kamu pergi ke kamar mu sana! kamu harus istirahat"
Akhirnya Ahmad mau menuruti Wasim, dia pergi meninggalkan kedua kakaknya menuju kamarnya.
"Dan kamu Sultan, duduk sini! aku mau ceritakan kisah Rosululloh.
Menurut suatu riwayat, Rosululloh pernah berada di masjid sampai malam, dan karena saat itu beliau sedang bersama sayidah Sofiyah, Sayidah sofiyah cemas dan menyusul Rosululloh ke masjid. Setelah bertemu Rosululloh di masjid, Rasul bermaksud mengantarnya pulang.
Dan di tengah jalan beliau berdua bertemu para sahabat, nah karena Rosul tidak mau ada fitnah dan salah faham, Rosululloh langsung mengenalkan perempuan di sampingnya itu dan mengatakan bahwa itu adalah Sofiyah istrinya. Nah dari kisah itu, kamu harus meneladani Rosul. Kalau kamu tidak mau terjadi fitnah dan salah faham terhadap hubunganmu dan Maymunah, maka kamu harus berani menjelaskan pada semua orang, bahwa dia adalah istrimu" Tutur Wasim lembut.
Kemudian ia berdiri dan meninggalkan Sultan yang masih merenungi kata-kata kakak nya itu.
Hari pun berganti, dua hari sudah berlalu. Kini tibalah saatnya hari Sultan akan bertunangan dengan Sumayya.
Meski dengan hati yang hancur, Maymunah tetap berusaha profesional. Ia tetap memasak kue yang dipesan oleh Ummi Fathmah.
__ADS_1
"Wah Mae, kamu pinter sekali. Kue ini pasti sangat enak" Ucap Susi yang memang selalu membantu Maymunah karena diminta oleh Sultan dan diberi upah khusus karenanya.
Maymunah cuma bisa memaksakan bibirnya untuk tersenyum, apalagi saat adik iparnya datang ke dapur.
"Maymunah, Susi, kalau kalian sudah selesai, kalian juga harus siap-siap karena kami akan mengajak kalian ke acara pertunangannya" Ucap Ragad yang baru masuk ke dapur.
Susi dan Maymunah pun segera menuruti Ragad, mereka segera bersiap-siap.
Sementara Sultan masih terlihat mondar-mandir di kamarnya, ia tak berani menolak keinginan ibunya, tapi ia juga tak mau melukai istrinya.
"Ya Allah, hamba harus bagaimana sekarang? Di sisi lain hamba tak mau durhaka pada ibu hamba, tapi di sisi lain hamba juga tak mau melukai Maymunah."
Ketika Sultan kebingungan, tiba-tiba ada notif dari ponselnya.
Tring..
Mata Sultan berbinar seketika saat membaca email dari sebuah perusahaan di Emirat yang ingin bekerja sama dengan perusahaannya.
"Ah..Alhamdulillah, akhirnya mereka membalas emailku. Ah aku ada ide"
Setelah ia membaca email itu, ia segera membereskan bajunya dan menaruhnya di dalam koper, setelahnya dia langsung pergi menemui ibunya.
"Ummah, aku mendapat email penting dari perusahaan Uni Emirat Arab yang dulu aku tawarin kerjasama, dan aku harus kesana hari ini juga untuk mengadakan meeting dengan mereka." Ujar Sultan setelah berada di dalam kamar ibunya.
"Apa maksud kamu Sultan? Hari ini adalah hari penting bagimu, kenapa kamu malah akan ke luar negeri?" Tanya Ummi Fathmah penuh amarah.
Sultan menelan saliva nya sendiri, ia merasakan takut yang luar biasa, tapi ia harus tetap pergi, karena hanya ini satu-satunya cara untuk menghindari pertunangannya.
"Iya, Ummah. kerjasama ini sangat penting bagi perusahaan keluarga kita, jadi aku harap ummah mau mengerti, ini kan untuk masa depan kita semua ummah?" Sultan terus berusaha merayu ibunya agar mau mengizinkannya pergi.
"Baiklah, kamu boleh pergi. Tapi acara pertunanganmu akan tetap berlanjut"
Akhirnya Ummi Fathmah menyetujui permintaan Sultan, meski pertunangan akan tetap berlanjut.
Karena di Saudi, yang memakaikan cincin pertunangan bukan calon suaminya.
(seingat Author) Acara pertunangan di Saudi diadakan terpisah, perempuan dan laki-laki terpisah. Calon mempelai juga belum boleh bertemu, dan yang biasanya memakaikan cincin ke jari manis calon mempelai wanita, biasanya dari pihak keluarga dari calon mempelai laki-laki, seperti ibunya atau saudari perempuan dari calon pengantin laki-laki itu.
Karena nya, walaupun Sultan pergi, acara pertunangan akan tetap berlanjut, karena Ummi Fathmah sendiri yang akan memakaikan cincinnya di jari manis calon mantunya.
Dengan berat hati,Sultan menyetujui syarat dari ibunya.. Dalam pikirannya, asal hari ini ia bisa menghindar dari pertunangan itu. Walaupun ia belum bisa menolak perjodohannya dengan Sumayya,setidaknya Sultan sedikit meringankan beban hati istrinya dengan tidak melihatnya hadir di saat pertunangan itu.
__ADS_1
Setelah ia berhasil membujuk ibunya, Sultan segera bergegas ke dapur untuk menemui Maymunah.
"Sayang, kamu ikut aku ya! Aku akan pergi ke Dubai" Ujarnya pada Maymunah saat ia sudah berada di dapur.
"Apa, kenapa mendadak? apa Ummi tidak marah, ini kan hari pertunanganmu?" Tanya Maymunah. Ia benar-benar kaget dengan perkataan Sultan.
"Iya sayang , hanya ini yang bisa ku lakukan untuk menghindari pertunangan ini"
"Tidak Sultan, aku gak bisa ikut denganmu. Caramu ini salah, aku tak mau lari. " Bantah Maymunah.
"Ya sudah, kalau begitu biar aku saja yang pergi, kamu hati-hati di sini ya. Kalau ada apa-apa kamu chat aku ya. Dan ini uang bulanan kamu, ambillah! Dan kamu gak usah transfer ke indonesia, biar aku nanti yang transfer. Ok?"Ujar Sultan seraya meraih tangan Maymunah dan memberikan amplop berisi uang.
Setelahnya, ia langsung memberi kecupan singkat di kening istrinya.
"Aku pergi, jaga diri baik-baik!" Air mata Maymunah menetes begitu saja, entah kenapa hatinya terasa berat di tinggal oleh suaminya.
Belum sempat Sultan melepas tangannya, ternyata Ahmad sudah berada di belakangnya.
"Apa yang kalian lakukan?" Tanya Ahmad tiba-tiba.
Sultan dan Maymunah segera melepas pegangan mereka. Maymunah berbalik membelakangi Ahmad, sementara Sultan berbalik menghadap Ahmad dan mendekatinya.
"Apa yang kau lihat, tidak seperti apa yang kau pikirkan. Aku mau pergi ke Dubai. Giliranmu yang harus menjaga mama" Ujar Sultan sambil menepuk bahu adiknya, dan melangkah pergi dari dapur.
Ahmad hanya menggaruk kepalanya yang tak gatal , karena merasa kebingungan.
"Eh, Sultan, tunggu! kau harus jelaskan padaku!" teriaknya sambil mengejar Sultan.
"Apa yang ingin kau tau?" tanya Sultan pada adiknya.
"Ya , tentang kejadian tadi. Apa yang kalian lakukan tadi?" Ahmad malah balik bertanya.
"Antar aku ke Bandara, nanti akan ku jelaskan" Titah Sultan sambil menyeret kopernya dan pergi ke luar.
Ahmad yang tak punya pilihan lain, akhirnya mengalah dan mau mengantar kakaknya ke Bandara.
"Kau belum menjawab pertanyaanku Sultan "
Ahmad memulai percakapan setelah mereka berada dalam mobil.
"Nanti juga kamu tau, sekarang aku harus ke Dubai. Ingat! Kau jangan coba-coba mengganggu kakak iparmu!" Ucap Sultan tegas.
__ADS_1
"Kakak ipar?" Ahmad mengulang pekataan Sultan.
Sultan hanya mengangguk, kemudian tak mau bicara lagi sampai tiba di Bandara.