
Bu Aminah dan Susi membawa Maymunah ke kamar pembantu di belakang villa.
"Aku panggil kamu apa?" Tanya Susi pada Maymunah.
"Panggil aja Mae, teh Susi dan bu Aminah orang mana?"
"Aku orang Tangerang, dan Bu Aminah orang Sukabumi. Kamu orang mana?"
"Mae dari Serang teh" Jawab Maymunah ramah.
"Wah, sama sama Banten dong. Oh ya bu, Neng Mae cantik ya, Aku seneng banget. Biar si nenek lampir itu gak kepedean lagi karena ngerasa paling cantik"
Ujar Susi membuat Maymunah heran.
"Maksud teh Susi gimana? Mak lampir yang mana?"
"Jangan dihiraukan! si Susi mah gitu..haha..
Itu di sini selain kita, ada pembantunya baba Muhammad, namanya Lilis, dia anak Cianjur, orangnya selalu ganjen selalu godain anak mama Fathmah terutama tuan Sultan " Sahut bu Aminah sambil tertawa.
Deg..
Hati Maymunah serasa tertusuk duri ketika mendengar bahwa ada yang suka menggoda suaminya.
"Ya sudah, kita ke dapur dulu. Nanti malam akan ada Azimahan, Mama Fathma mengundang seluruh keluarganya, jadi kita harus masak banyak. Kamu bisa kan masak Nasi Mandi?" Ajak bu Aminah.
"Iya bu, In sha Allah saya bisa"
Mereka bertiga pun segera pergi ke dapur. Maymunah kali ini diminta memasak nasi Mandi. Nasi mandi adalah Nasi berwarna warni yang dimasak dengan cara di ungkep bersama ayam atau daging.
Biasanya akan selalu dihidangkan ketika ada acara Azimahan atau selamatan yang mengundang banyak orang.
"Maymunah, ta'ali! Mama memanggil" Seru Ragad memanggil Maymuanah yang sedang memotong sayuran,
Tanpa banyak membantah, Maymunah segera menuruti Ragad pergi ke ruang keluarga.
"Maymunah, kamu bisa masak nasi Mandi?" Tanya Ummi Fathmah.
"Iya, ummi. In sha Allah" Jawab Maymunah singkat.
"Kalau begitu, sekarang kamu tolong masak nasi Mandi, karena akan ada tamu. Kami akan mengundang keluarga calon tunangan Sultan dan Wasim ke sini" Ujar Ummi Fathmah.
Deg..
Serasa ada ribuan tombak yang dihujamkan ke dada Maymunah saat mendengar kata-kata mertuanya.
Ada buliran bening yang siap meluncur dari netra indahnya, namun dengan sekuat tenaga yang ia punya, ia berusaha menahannya.
__ADS_1
"Calon tunangan Sultan, Ya Allah, bagaimana ini? Apa Sultan akan menikah dengan orang lain? lalu bagaimana dengan nasibku?" Lirih Maymunah dalam hatinya.
Sultan yang berada di Samping ibunya sontak berdiri, Ia menatap istrinya dengan tatapan iba.
"Ummah, maksud ummah bagaimana?" Tanya Sultan pada Ibunya.
"Ya maksudnya calon tunangan kamu dan wasim mau kesini. Kamu lupa, Umma kan pernah bilang kalian harus segera menikah. Kamu dan Wasim harus segera menikah, dan Ummah sudah memilihkan calon-calon terbaik untuk kalian. Ummah memilih Sumayyah untuk kamu, dan Ummah juga sudah memilih Gaida untuk Wasim." Tutur Ummi Fathmah.
Sultan mengusap wajahnya dengan kasar.
"Ya ummah, apa kita tidak bisa bicarakan hal ini lain kali saja?. Ummah silahkan jodohkan Wasim dulu, masalah tunanganku lain kali saja dibicarakan. Aku perlu istikhoroh dan Aku belum memikirkan semuanya ummah " Sultan berusaha menentang ibunya dengan halus.
Ia tak mau melihat istrinya lebih terluka lagi.
Ia sudah tak sanggup melihat istrinya datang sebagai pembantu di rumah mertuanya sendiri, kini dia harus melihat istrinya terluka karena dia dijodohkan dengan yang lain.
Ummu Fathmah terlihat mulai marah dengan anaknya.
"Maksud kamu apa Sultan? Kamu dan Wasim itu kembar, kalian itu sudah hampir 30 tahun, kapan kalian akan menikah?" Bentak Ummu Fathmah pada sultan anaknya.
"Ya kan Wasim dulu ummah, Aku nanti saja setelah Wasim selesai menikah "
Sultan tetap berusaha merayu ibunya, namun Ummi Fathmah tetap saja bersikeras.
"Pokoknya kamu dan Wasim harus menikah barengan, kalian lahir dalam waktu yang hampir sama, jadi kalian juga harus nikah secara bersamaan" Tukas Ummi Fathmah tegas.
Ia hanya bisa menatap iba pada Maymunah yang masih berdiri di depan mereka.
"Ummi, apa ada yang perlu saya masak lagi selain itu?"Tanya Maymunah menengahi pertengkaran antara mertua dan suaminya.
Ia mencoba menguatkan hatinya dan bersikap senormal mungkin, meski perihnya saat ini bagai luka bakar yang dikasih air perasan jeruk.
"Hmm masak Fatair dan kek, apa kamu bisa?" Tanya Ummu Fathmah yang sudah mulai reda amarahnya.
"In sha Allah ummi, kalau begitu saya permisi ke dapur dulu."Ucapnya, sambil undur diri meninggalkan Sultan dengan ribuan rasa bersalah di hatinya.
Dengan membawa rasa perih dihatinya, Maymunah melangkah menuju dapur.
Ia mencoba bersikap normal, ia segera menyiapkan bahan-bahan untuk ia masak.
"Mae, kamu kenapa? kok kaya orang mau nangis" Tanya Susi yang heran melihat temannya berwajah murung.
Maymunah mencoba tersenyum.
"Hmm gak apa apa teh. Mae cuma masih berasa bingung aja sama tempat alat-alat masaknya" Jawab Maymunah sekenanya.
Tak lama kemudian, Sultan terlihat masuk ke dapur dengan berpura-pura ingin mengambil air minum.
"Cie ..yang mau tunangan " Ujar Susi menggoda Sultan, membuat Sultan melotot kearahnya.
__ADS_1
Sebenarnya Sultan biasa bercanda dengan pembantu, tapi kali ini ia marah karena candaan itu akan melukai istri tercintanya yang belum mampu ia akui.
"Jangan banyak bicara kamu, ayo bersihin kamarku, malam ini aku mau tidur di rumah ini" Tukasnya ketus.
"Iya..bawel banget sih" Jawab Susi kesal karena tak biasanya Sultan marah pada pembantu.
Padahal sebenarnya Sultan bukan marah, itu cuma akal-akalan Sultan agar Susi pergi dari dapur dan meninggalkan Maymunah, agar ia bisa berbicara dengan istrinya itu tanpa ada yang tau.
Setelah Susi pergi, Sultan segera mendekati Maymunah dengan berpura-pura membuka kulkas.
"Sayang, kamu jangan sedih ya. Kalau kamu gak kuat, kita bisa pergi dari sini sekarang. Aku gak mau kamu sedih" Bisiknya pelan.
Maymunah cuma menggeleng.
"Gak usah, aku kuat In sha Allah" Jawab Maymunah singkat, tanpa menoleh kearah suaminya.
Sultan malah mendekat dan bermaksud memegang tangannya.
Namun, belum sempat ia memegang tangannya, dari luar dapur terdengar suara orang datang.
"Susi, Bantu aku bawa barang ni!.. Eh kamu bukan Susi, kamu siapa? mana Susi?" Seru seorang perempuan Indonesia yang tidak di kenal Maymunah.
Sultan terbelalak melihat siapa yang datang. Yang datang itu adalah Lilis, pembantu kakak tertuanya yang sempat menggodanya dan sempat punya hubungan asmara walaupun hanya sekedar iseng.
Sultan iseng menggoda pembantu kakaknya itu dan Lilis melayaninya, hingga mereka menjalin hubungan terlarang, Sultan yang cuma iseng, dan Lilis yang cuma menginginkan uangnya. Hal itulah yang membuat ia berfikir bahwa wanita Indonesia banyak yang bisa dibeli dengan uang.
Meski ia tak memungkiri bahwa tidak semua wanita Indonesia begitu, karena buktinya dua pembantunya yaitu Susi dan Aminah adalah wanita baik-baik. Meski sering bercanda, tapi mereka tak pernah menggodanya.
Cuma Lilis yang selalu menggodanya.
"Sultan, Ini siapa?" Tanyanya pada Sultan sambil melirik Maymunah.
Sultan tak menjawab, dia langsung pergi meninggalkan dapur.
Maymunah mencoba tersenyum pada Lilis.
"Saya Maymunah teh, Saya bekerja sebagai tukang masak di sini. teteh siapa?" Tanya Maymunah dengan ramah.
Tapi Lilis malah memandangnya dengan sinis.
"Aku Lilis, aku bekerja di baba Muhammad, kakaknya Sultan. Tadi kamu lagi godain Sultan ya?,, Dia mau bertunangan dan dia gak bakal tertarik sama pembantu ibunya. Dia pernah bilang begitu padaku. " Lilis terus nyerocos tak karuan.
Sementara Maymunah cuma tersenyum simpul.
"Maaf, saya gak pernah godain laki-laki orang, dan niat saya di sini buat kerja, bukan buat godain laki-laki. Permisi, saya mau lanjut masak. Kalau kau butuh bantuan, silahkan minta bantuan sama teh Susi,saya gak bisa menunda kerjaan saya" Jawab Maymunah tegas.
Ia sengaja menekankan kata-katanya bahwa dia niat bekerja, bukan niat menggoda laki laki, karena dia tau bahwa Lilis ini tipe wanita penggoda.
__ADS_1