
Malam kian merayap mendekati pagi, Semburat fajar sodiq telah menghiasi ufuk timur.
Adzan pun mulai dikumadangkan di seluruh penjuru bumi.
Maymunah dan keluarganya masih larut dalam kesedihan mereka.
Bu Irma dan anak-anaknya tetap setia mendampingi jenazah pak Muhammad yang terbujur di ruang tamu mereka.
"Mae, suamimu tidur di mana? Sesedih apapun, Kamu jangan melupakan kewajibanmu sebagai istri" Ujar bu Irma di sela sela isaknya.
Plak
Maymunah menepuk keningnya sendiri, Ia sama sekali tak ingat dengan Sultan. Sejak tadi malam Sultan berada di kamar Maymunah, entah ia tidur atau bukan.
"Ia ma, Mae mau nengok dia sekarang" Jawabnya sambil segera bergegas menuju kamarnya.
Sultan yang sejak tadi ada di kamar Maymunah berusaha tidur, tapi ia tak bisa. Ia terlihat senang ketika melihat istrinya masuk.
"Sayang, kamu mau tidur?" Tanyanya.
"Tidur? Sekarang waktunya solat subuh, bukan waktu tidur. Ayo Kita solat dulu, nanti aku buatkan sarapan buat kamu"
Setelah mereka selesai solat subuh, Maymunah menghidangkan Sarapan untuk Sultan.
"Makanlah Sultan! Maaf, aku cuma masak telur rebus dan singkong buat kamu" Ujarnya sambil menghidangkan makanan. Sultan memandang dengan heran makanan di depannya.
"Ini apa? Singkong? " Tanyanya sambil mengacungkan sepotong singkong rebus.
"Iya, itu sejenis kentang"
Karena tak ada lagi yang bisa ia makan, akhirnya ia terpaksa memakan hidangan itu.
Setelah menghidangkan makanan untuk suaminya, Maymunah segera berlalu untuk melihat ibu dan adiknya yang sedang membantu warga mengurus jenazah pak Muhammad.
Mereka bersiap untuk mengurus jenazah pak Muhammad.
" Sultan, kamu mau ikut kami ke pemakaman? " Tanya Maymunah setelah jenazah ayahnya di bawa ke majlis untuk disolatkan.
"Iya, aku ikut. Oh ya, kok di sini perempuan pada ikut ke pemakaman? Bukannya itu haram?"
Sultan balik bertanya.
__ADS_1
"Iya, di sini kami ikut mengiring jenazah sampai dimakamkan, Kami di sini mengikuti pendapat para ulama yang mengatakan makruh, bukan haram.
Ya asalkan si wanita itu kuat dan nanti tidak menangis dan tidak menjerit jerit, pada saat berada di kuburan itu."
Maymunah berusaha menuturkan.
Sultan hanya manggut manggut karena ia baru faham tentang perbedaan atau ikhtilaf dalam pelaksaan ibadah dan yang lainnya.
Setelah jenazah di solatkan, kini tiba saatnya mereka mengantar jenazah ke tempat terakhirnya.
Karena Maymunah tak kuasa menahan kesedihannya, ia beranjak meninggalkan pemakaman.
Ia berjalan menyusuri jalan setapak menuju kearah persawahan.
Sultan dengan setia mengekorinya sampai akhirnya mereka tiba di sebuah gubug yang berbentuk panggung yang biasa digunakan petani untuk beristirahat dikala lelah menerpa.
" Hik hik hik.. Abah, semoga Allah memberimu tempat yang indah di sisinya. Maafkan Mae bah!.." Gumam Maymunah di sela isaknya.
Tanpa banyak bicara, Sultan memegang pundak Maymunah dan merengkuhnya ke dalam pelukannya.
Maymunah menerima pelukan Sultan dan menangis sejadi-jadinya dalam pelukan laki-laki yang sudah mengikatnya dengan tali pernikahan itu. Ada kedamaian yang tak mungkin ia pungkiri saat berada dalam dekapan laki-laki itu.
"Maymunah, nanti malam apa kamu bisa pergi denganku? kita menginap di hotel "
"Sultan, keluargaku saat ini sedang dilanda duka, mereka membutuhkanku, apa kau tidak memikirkan itu?"Tanya Maymunah dengan berurai airmata.
"Bukan maksudku begitu. Aku hanya gak nyaman ada di rumahmu. dan tiga hari lagi aku harus pulang, ibuku menyuruhku pulang secepatnya"
"Jadi maksud kamu, kamu mau aku ikut bersamamu menginap di hotel selama tiga hari, dan setelah itu kamu akan pulang dan meninggalkan aku?" Maymunah berbicara dengan pandangan menghunus, membuat Sultan menjadi salahtingkah dan tak tau harus menjawab apa.
Sultan hanya mampu menunduk.
" Kenapa gak jawab? jadi benar, kamu gak merubah niatmu menikahiku. Dari awal niat kamu menikahiku hanya untuk sesaat saja?.. Astagfirullah..ampuni hambaMu ya robb..karena kami telah mempermainkan pernikahan"...Maymunah menutup wajahnya dan menangis histeris merutuki kesalahannya yang telah menyetujui pernikahan kontrak yang ditawarkan Sultan sebelumnya.
Melihat istrinya histeris, Sultan hanya diam membisu. Sebenarnya ia tak bermaksud mempermainkan Maymunah, tapi ia merasa bimbang karena tak berani melawan orang tuanya.
Kalau ia membawa Maymunah bersamanya, orang tuanya pasti syok dan akan langsung mengusir mereka berdua.
Karena tak mendengar jawaban dari Sultan, Maymunah menoleh dan berteriak lagi padanya.
"Kamu tak mau menjawab, berati kamu memang tak pernah ada niat menikahiku karena cinta, apalagi untuk ibadah. Kamu hanya ingin menuntaskan syahwat sesaatmu padaku. Kamu benar-bnar menjijikkan Sultan."
__ADS_1
"Maymunah, bukan begitu maksudku, kamu gak faham, ibuku gak mungkin merestui kita" Akhirnya Sultan angkat bicara.
"Kalau kamu tau ibumu gak mungkin merestui, dan kamu gak mungkin menikahiku secara resmi, lalu kenapa kamu menikahiku?..Kenapa kamu mempermainkan pernikahan Sultan?.kenapa?" Maymunah semakin histeris.
Untung saja saat itu sawah sedang sepi, jadi tak ada yang mendengar percakapan mereka.
Maymunah turun dari panggung gubug itu.
"Dengar Sultan, kalau kamu memang gak akan menikahiku secara resmi, lebih baik sekarang juga kamu talaq aku. Soal uang yang telah kau berikan semalam, yang sudah kami pakai untuk biaya pemakaman abah, aku pasti akan menggantinya. Aku akan bekerja dan nanti akan membayarnya. Aku akan mentrasferkan ke rekeningmu nanti. Tapi beri aku waktu " Ujarnya seraya melangkahkan kakinya, namun di tahan oleh Sultan.
"Tapi, Maymunah "
Sultan memegangi tangan Maymunah.
"Maaf Sultan, aku gak bisa ikut ke hotel denganmu, aku gak mau menyerahkan tubuhku pada orang yang menikahiku hanya untuk kontrak mut'ah. Itu sama saja berzina Sultan, itu sama saja seperti menjual tubuhku demi uang yang semalam kau berikan.
Dan itu menjijikkan ..Tolong Sultan, tolong jangan merendahkanku ! Jangan menganggapku seperti placur , Sultan ..hu hu.."..Maymunah kembali terisak .
Membuat Sultan merasa sangat bersalah.
" Maymunah, kamu jangan berkata begitu!..Aku gak pernah menganggapmu begitu..demi Allah Maymunah..." Ujarnya berusaha meyakinkan Maymunah.
"Tapi kamu melakukannya. Kamu sudah menghinaku dengan menikahiku dan mengajak ku ke hotel, dan setelahnya kau berencana pulang meninggalkanku."
" Aku..aku..Ya sudah, aku gak akan maksa kamu pergi denganku ke hotel. Aku akan pergi sendiri. Tapi kamu jangan menangis lagi. Ok, Maymunah?"
"Lalu bagaimana dengan uangnya, dan bagaimana dengan pernikahan kita?"
"Itu nanti kita bicarakan, nanti sebelum berangkat ke Bandara, aku akan kesini menemuimu, akan aku katakan keputusanku nanti. Ok?"
Maymunah mengangguk setuju dengan perkataan Sultan.
" Ya sudah, sekarang kita pulang ke rumahmu dulu "
Setelah selesai bicara, Sultan dan Maymunah melangkah pulang.
Ada rasa pedih yang mendera hati sepasang suami istri itu.
Jauh di lubug hati Maymunah, ia sebenarnya mendamba agar bisa hidup bersama Sultan layaknya suami istri. Tapi ia tak mungkin menerima perlakuan Sultan yang hanya ingin menjadikannya istri kontraknya.
Sementara Sultan sendiri, masih dilanda kebingungan yang teramat dahsyat.
__ADS_1
Ia sangat mendamba hidup bersama Maymunah, tapi ia tak mampu melawan orang tuanya yang pasti akan menentangnya.
Terlebih ibunya sudah menjodohkannya dengan wanita pilihan mereka.