
Hai Readers yang sangat ku sayang..! Baca dan beri kritiknya dong..please!
*******
Tiga hari berlalu, Sultan sudah membuatkan visa dan membelikan tiket pesawat untuk Maymunah.
Hari ini adalah hari ke tujuh dari meninggalnya pak Muhammad.
Seperti kebiasaan dan adat di sana, mereka juga akan mengadakan acara riungan dan tahlilan terakhir.
Tapi di hari terakhir ini, Maymunah dan ibunya terlihat kebingungan karena mereka sama sekali belum memiliki uang sepeserpun yang akan mereka pergunakan untuk acara tahlilan.
"Teh Irma, siapa yang ke pasar beli lauk pauk untuk tahlilan tujuh hari nanti malam?" Tanya salah seorang tetangga yang datang untuk membantu memasak.
Bu Irma terlihat tersenyum kecut, Ia menelan ludah dan tertunduk.
"Maaf bu, kami belum punya uang" Sahut Maymunah. Ia keluar dari kamarnya.
"Luh, kan suami neng Mae orang Arab, masa neng gak punya uang..Minta atuh sama suami nya" Celetuk ibu yang lainnya.
"Kami malu bu, dia udah ngasih banyak. Dari pertama bapaknya meninggal sampe hari kemaren, semua dari Suaminya Mae" Jawab bu Irma. Menunduk sedih.
"Ya udah, kalau emang gak ada yang di masak, kami mau pulang dulu ya. Nanti kalau udah ada, manggil aja ya, teh " Ujar bu Neli berpamitan.
Mereka pun keluar dari rumah Maymunah.
Belum sempat mereka keluar, terlihat sebuah mobil pick up masuk ke halaman rumah bu Irma. Ternyata Sultan datang bersama Ade dan Rahmat membawa belanjaan yang sangat banyak.
"Wah baru di omong, tuh mantu bu Irma baru datang..kayanya habis belanja. Ayo kita samperin!" Ujar ibu-ibu itu. Bergegas mendekati Rahmat.
Maymunah yang baru keluar rumah, terperangah melihat suaminya naik di belakang mobil pick up bersama Rahmat.
"Sultan? Apa -apaan tuh orang? kapan dia kesini ? tau tau udah belanja banyak sama Rahmat" Gumamnya dengan suara agak keras.
"Mae, itu suami kamu, kok sama Rahmat? katanya belum kesini?" Kata bu Irma yang masih terbengong -bengong melihat tingkah. menantunya.
"Gak tau ma, dia gak ngasih kabar ke Mae"
Jawab nya seraya melangkah mendekati mobil pick up di depannya.
Sultan yang sudah melihat Maymunah, tersenyum sumringah. Ia turun sambil menenteng sesuatu yang membuat Maymunah terperangah. Pasalnya yang ia bawa itu seikat peteuy atau pete, sejenis lalapan yang mempunyai bau sangat menyengat tapi mempunyai rasa yang nikmat bagi penyukanya.
"Sayang, lihat apa yang ku bawa!" Serunya seraya turun dari Mobil. Ia menenteng pete itu dan membawanya ke depan istrinya hingga membuat Maymunah dan yang lainnya tertawa.
"Kamu suka ini, emang udah pernah makan?" Tanya Maymunah sambil tersenyum.
__ADS_1
"Hehe gak tau juga sih, Ini Rahmat yang beli, tadi pas di pasar ada yang pengen di beli dagangannya, karena katanya gak laku-laku.. ya jadi kami beli haha" Jawabnya sambil tertawa.
"Teh Mae, lihat ..Ade dibeliin eskrim sama Suami teteh " Seru Ade yang keluar dari kursi depan Mobil pick up .
"Ade, Rahmat , Kok, kalian bisa bersama Sultan?" Tanya Maymunah pada mereka.
" Iya teh, tadi pagi kan kak Sultan Chat Rahmat, nanyain kita butuh apa aja. Terus ya Rahmat jawab aja kita butuh buat acara tahlilan abah..eh kak Sultan langsung ngajak Rahmat ketemuan. Terus kita ke pasar bareng deh" Jawab Rahmat.
Maymunah terlihat tak suka dengan apa yang dilakukan adiknya. Ia tak mau merepotkan sultan dan tak mau berhutang budi lebih banyak lagi. Ia takut kalau ia berhutang budi lebih banyak lagi, Sultan akan menekannya. Walaupun itu cuma anggapannya saja.
"Kenapa kamu gak bilang teteh? Lain kali jangan begitu, gak boleh nyusahin orang" Ketusnya.
Membuat Rahmat tertunduk. Sultan yang melihat wajah istrinya berubah, segera menegurnya.
"Sayang, kamu marahi Rahmat karena belanjaan ini ya?"Tanyanya sambil mendekati istrinya.
Walaupun Sultan tak faham dengan bahasa Indoensia, tapi dia faham dari intonasi suara Maymunah yang meninggi dan di iringi reaksi wajahnya yang terlihat jelas bahwa ia marah.
"Iya, aku gak mau kamu mengganggap kami sepeti pengemis yang selalu minta-minta padamu." Jawab Maymunah dengan nada yang masih ketus.
Sultan melangkah maju dan menarik tangan istrinya dan mengajaknya masuk.
"Rahmat, please don't listen to your older sister! Take the groceries down and take them to the kitchen to cook. Your sister is my business" Ujar Sultan pada Rahmat dalam bahasa inggris.
Rahmat dan Sultan memang berkomunikasi dengan bahasa inggris karena Rahmat tak begitu faham bahasa arab.
Sementara Rahmat segera menurunkan barang belanjaannya di bantu ibu-ibu yang tadi memang datang untuk membantu.
"Sayang, kenapa kamu marah sama adikmu sih?" Tanya Sultan ketika mereka sudah di dalam kamar.
" Aku cuma gak mau kamu ngira kami seperti pengemis yang selalu minta minta sama kamu" Jawab Maymunah masih dengan suara ketusnya.
Sultan menghela nafas.
"Apa aku ini terlihat begitu buruk di matamu?"
Tanyanya dengan penuh penekanan. Membuat Maymunah tertohok.
"Dengar Maymunah, aku tau aku memang pernah salah karena pernah mengajakmu menikah kontrak, tapi bukan berarti aku ini lantas adalah manusia yang begitu buruk.
Aku juga manusia, dan aku seorang muslim, aku juga punya rasa kemanusiaan, punya kehangatan dan aku juga ingin bersosialisasi." Tambahnya lagi.
Maymunah makin tertunduk mendengarnya. Sultan memegang pundak Maymunah dan bertanya lagi.
"Kamu istriku, jadi apa aku salah kalau aku menganggap keluarga istriku seperti keluargaku sendiri?" Pertanyaan Sultan itu makin membuat Maymunah tersipu.
__ADS_1
Ia tak bisa mencegah ketika ada buliran bening jatuh kepipinya karena rasa haru yang membuncah di dalam dadànya.
Ia sungguh terharu dengan apa yang dikatakan Sultan padanya. Rasa haru itu membuat dia terhanyut dan pasrah, bahkan ketika Sultan menariknya ke dada bidangnya dan memeluknya dengan erat.
"Tolong jangan memandangku seburuk itu, Maymunah " Mohon nya sambil mengeratkan pelukannya.
Selama tiga hari ini Sultan bolak balik Jakarta -Serang, Sultan tak mau bermalam di rumah Maymunah karena merasa tak nyaman berada di rumah mertua. Bukan karena rumah Maymunah jelek, tapi karena memang seperti itulah orang Arab. Laki-laki arab memang tak mau menginap di rumah mertuanya.
Tapi di hari terakhir dia di Indoensia ini, untuk menghargai mertuanya, dia bermalam di rumah Maymunah.
Dia tak ingin keluarga Maymunah sedih dan khawatir ketika Maymunah dibawa pulang olehnya.
Kryuyuk kryuuyuk ...
Tiba tiba terdengar suara dari perut sultan, membuat Maymunah melepas pelukannya.
"Kamu lapar? Tanya Maymunah yang di jawab anggukan dan cengiran oleh Sultan.
"Hehe iya, aku lapar dan haus juga" Jawab nya sambil melepas pelukannya dna cengengesan.
"Ya sudah, aku ambilkan makanan dan air dulu" Maymunah bergegas keluar kamar tapi ditarik lagi oleh Sultan.
"Aku pengen minum air yang manisnya lebih manis dari gula "
Maymunah mengerutkan alisnya tak faham dengan kata kata Sultan.
"Air apa an tuh? Madu maksudnya?" Tanya Maymunah polos.
Sultan menggeleng.
"Air dari situ " Ujarnya manja sambil menunjuk ke bibir Maymunah.
Membuat Maymunah melotot.
" Maksudnya ?" Tanya Maymunah terperangah.
"Maksudnya ya pengen minum dari bibir kamu, mau ku tunjukan caranya?..begini" Ujarnya sambil mendekatkan bibirnya ke arah bibir Maymunah .
Sontak Maymunah memukulnya.
"Plak ..
"Modus aja" Ujar Maymunah sambil menepuk pundak suaminya dan mendorongnya.
"Aww..iih pelit amat sih..orang suami pengen nyium kok gak boleh " Jerit Sultan manja.
__ADS_1
" Udah ah..modus mulu..duduk sana! ..biar ku ambilin makan " Ketusnya sambil melangkah keluar.
"Hmm nasib dah..punya istri galak nya minta ampun "