
Setelah Sultan dan Ahmad pergi, Maymunah bermaksud pergi ke kamarnya, namun tiba-tiba dicegat oleh Lilis.
"Dasar wanita murahan, berapa kau dibayar Sultan? Pantas saja dia sekarang tak mau melirikku lagi. Aku yakin kamu itu mengguna-gunai Sultan, aku dengar orang Banten memang jago pelet," ujar Lilis penuh kedengkian.
Maymunah berbalik menghadap kè arah Lilis dan memandangnya dengan tajam.
"Maaf, kisah hidupku terlalu mahal untuk kujual, apalagi harus diobral pada orang sepertimu. Urus saja urusan anda, Saya yakin anda juga sama seperti saya, kita semua belum tau apa kita akan mati husnul khotimah, atau malah su'ul khotimah. permisi," jawab Maymunah tegas sambil melangkah menuju ke luar, tapi Lilis kembali bicara.
"Setidaknya aku tidak munafik sepertimu. Aku tidak pernah menutupi keburukanku dengan kedok sok alim seperti dirimu," tukas Lilis dengan senyum sinisnya.
Maymunah kembali lagi menghadap Lilis.
"Hanya orang yang paling bodoh yang bangga dengan keburukannya. Asal kamu tau, Allah SWT selalu mengampuni dosa manusia selagi manusia itu tidak membanggakan dosanya.
Dan satu lagi, tadi kamu bilang orang Banten jago pelet. Aku ingatkan, jangan bawa-bawa nama daerah, Karena Allah menciptakan semua manusia itu sama, ada yang jahat dan ada yang baik. Apa kau faham?"
Maymunah akhirnya pergi berlalu dari hadapan Lilis yang kebakaran jenggot karena tak berhasil menjatuhkan Maymunah.
Acara pertunangan Sultan dan Wasim diadakan di sebuah villa yang khusus disewakan untuk mengadakan acara keluarga.
Para tamu wanita terlihat sudah berdatangan, meski saat ini adalah pertunangan suaminya dengan wanita lain, hati Maymunah merasa sedikit terobati, karena Sultan tak menghadiri acara itu.
Sumayya terlihat sangat cantik dengan gaunnya, namun wajahnya terlihat seperti memendam duka yang teramat dalam.
Maymunah sendiri hanya memakai abaya hitam dengan hijab krem kesukaannya, meski ia tampil tanpa polesan make up, tapi pesona wajahnya tak terkalahkan oleh kecantikan gadis arab yang sedang berdandan glamor.
"Maymunah, Kamu dan para pembantu lainnya, ayo bawakan minuman dan kue nya ke dalam! bagikan pada para tamu! " Titah Ragad dengan angkuhnya.
Maymunah hanya tersenyum, Ia langsung menuruti perintah Ragad. Ia membawa nampan berisi Gahwah (kopi arab) dan membagikannya ke pada para tamu, hingga membuat para tamu yang hadir berbisik-bisik membicarakan kecantikan Maymunah.
"Fathmah, pembantumu cantik sekali" Ujar salah seorang teman Ummi Fathmah, yang di sambut senyum sinis oleh Ragad.
"Ya dia memang cantik, tapi tetap saja seorang pembantu " sahutnya dengan gaya angkuhnya.
Maymunah hanya tersenyum simpul.
"Apa kabar Maymunah ?" Sumayya menyapa saat Maymunah menawarkan Gahwah padanya.
"Alhamdulillah, saya baik. Selamat, ya,!" ucap Maymunah dengan memaksakan senyumnya.
"Terimakasih. Maymunah ini orangnya sangat baik, nanti kalau aku sudah menikah dengan Sultan, apa dia bisa ikut denganku, Ammati?" Tanya Sumayya pada calon mertuanya.
__ADS_1
"Tentu saja boleh, sayang. Maymunah nanti akan bekerja di tempatmu dan Sultan nanti" Jawab Ummi Fathmah.
Deg..
Serasa ada ribuan anak panah yang menancap di jantung Maymunah mendengar ia akan dibawa ke tempat Sultan dan istri barunya sebagai pembantu.
Karena sudah tak kuat menahan gemuruh dalam dadanya, Maymunah segera undur diri.
Dengan langkah terseok seòk, ia berjalan keluar hingga ia tak sadar menabrak seseorang.
Brugg..
" Maaf, madam. Saya gak sengaja," ungkap Maymunah penuh ketakutan.
"Hei Maymunah, kenapa kamu ceroboh sekali. Kamu sudah menumpahkan air minum madam ini. Dasar ceroboh!.." teriak Ragad memarahi Maymunah karena terlihat menabrak seorang perempuan arab.
Ragad bermaksud melayangkan pukulannya pada Maymunah, namun wanita tadi malah menangkap tangan Ragad.
"Apa yang akan kamu lakukan? kenapa kamu mau memukulnya?" tanya Wanita itu sambil memegangi tangan Ragad.
"Madam Ibtihal?" seru Maymunah ketika mengenali wanita yang tertabrak olehnya.
Ternyata itu adalah madam Ibtihal, mantan majikannya yang sangat baik dan ramah.
"Ya Maymunah, jadi kamu Maymunah. Masya Allah..aku gak nyangka kita bertemu di sini.. Apa kabar kamu?" tanyanya sambil meraih pundak Maymunah.
Maymunah menyambut ibtihal dengan meraih tangannya dan menciumnya.
"Madam, maafkan saya. Tadi saya gak lihat " Ucap Maymunah.
"Gak apa apa, cuma basah sedikit, gak akan mengurangi derajatku di depan manusia. Iya kan?" Ibtihal bertanya pada Maymunah, tapi matanya tertuju pada Ragad.
"Tentu saja madam, justru orang yang tawadu' itulah yang tinggi derajatnya di mata Allah.
Beda dengan orang yang merasa dirinya paling tinggi derajatnya sehingga merendahkan orang lain. Justru orang seperti itu hanyalah orang yang hina dina dihadapan Allah.
Karena Allah berfirman : Inna akromakum 'Inda Allahi atqokum, (sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah itu adalah orang yang paling taqwa, bukan orang yang paling kaya. Iya kan, madam?" Timpal Maymunah. Ia sengaja mengatakan hal itu untuk menyindir Ragad yang selalu bersikap sombong dan añgkuh.
"Ya sudah Maymunah, ayo kita duduk di sana!" Ajak Ibtihal pada Maymunah.
"Maaf madam, saya harus kerja."Tolak Maymunah.
__ADS_1
"Sebentar, aku mau minta izin pada majikanmu"
Ibtihal segera meminta izin pada Ummi Fathmah. Karena merasa tak enak hati, Ummi Fathmah mengizinkan Maymunah berbicara dengan Ibtihal.
"Maymunah, kalau kamu gak betah kerja di mereka, kamu ikut aku saja. Nanti aku akan mengganti uang mereka."
"Untuk saat ini saya akan tetap mencoba bekerja di mereka saja. Ummi Fathmah baik kok."
"Ya sudah, setidaknya sekarang aku sudah tenang, karena aku menemukanmu. Oh ya, aku mau memfotomu, boleh?"
Karena merasa tak enak, Maymunah menurut saja, ketika Ibtihal memotret wajahnya yang sangat cantik alami itu.
"Aku ingin memperlihatkan Potomu pada adikku. Dia sudah datang dari luar negeri, aku ingin mewujudkan keinginanku dulu. Kamu masih ingat kan, Maymunah?" Mata Maymunah membola, ia menelan ludah tak tau harus menjawab apa.
"Tapi madam, saya"
Tring tring...
Belum sempat Maymunah mengatakan bahwa ia sudah bersuami, ponsel Ibtihal tiba-tiba berdering dan mengharuskan Ibtihal menjawab.
"Maymunah, aku harus pergi dulu. Suamiku ada di luar gedung. Yang penting aku sudah tau kamu kerja di mana. Aku tinggal dulu ya" Ibtihal langsung keluar dari gedung dengan terburu-buru.
"Ada-ada aja madam Ibtihal, apa benar dia mau menjodohkanku dengan adiknya..Aku kan sudah jadi istri Sultan sekarang. Hah..sudahlah, nanti kalau dia ngomong lagi, baru aku jawab" Maymunah bergumam sendiri.
Setelah Ibtihal pergi, Maymunah segera bergegas pergi ke dapur untuk menemui teman-temannya.
"Kemana saja kamu? enak aja. Orang kerja keluyuran, mau makan gaji buta kamu?" Lilis tiba tiba marah ketika melihat Maymunah masuk dapur.
"Eh Lilis, ngapain kamu marahin Maymunah, dia kan tadi kerja nganterin Gahwah di dalam" Sahut Susi menjawab Lilis.
"Iya tuh, ngapain sih marah-marah , kaya kamu yang majikan aja?" Timpal teman Susi.
Maymunah segera mendekati mereka sambil tersenyum.
"Sudah! biarin aja. Toh yang menilai kita kerja atau tidak, itu Allah dan diri sendiri. Halal haramnya uang yang kita terima itu hanya Allah dan diri kita yang tau. Saya gak perlu penilaian orang, apalagi orang itu bukan majikan saya" Ujarnya sambil memegang piring dan mencucinya.
"Betul banget kamu Mae. Orang yang tadi main hp itu si Lilis, kami tadi melihatnya kok " Lilis akhirnya matikutu karena dikroyok oleh teman-teman Maymunah.
"Eh sekarang waktunya memakai kan cincin pada calon pengantin, ayo kita lihat !" Kata Aminah yang baru masuk ke dapur.
"Ah gak seru di sini mah, yang pakein cincin bukan pengantin pria nya, tapi ibunya. Sepertinya ibunya yang bertunangan sama calon pengantin nya hahaha" Susi menimpali di iringi gelak tawa semua yang ada di dapur.
__ADS_1
Mereka tertawa bersama. Sementara Maymunah hanya tersenyum tipis, meski ia sedang bersedih karena semua masalah yang ia hadapi, Maymunah merasa sedikit terhibur ketika berada bersama teman-teman se-negaranya dan sesama TKW di sana.
Dengan penuh semangat, mereka melanjutkan pekerjaan merek sampai pesta selesai.