
"Sayang, hari ini kita akan ke Jeddah. Kita akan mengadakan persiapan aqad ulang kita." Ujar Sultan pada Maymunah yang sedang menyiapkan sarapan.
"Ok, sayang. Apa kita bawa pakaian kita juga, ?"
" Iya dong sayang.. Masa kita mau telanjang di sana..atau kau mau kita di kamar terus ya?"
"Iih,..ngaco,"
Sultan tergelak melihat istrinya mencebik memanyunkan bibirnya.
"Hahaha ..iya makanya..masa kita gak bawa pakaian?"
Setelah menyiapkan pakaian di dalam koper, Maymunah segera bersiap dan membantu suaminya untuk bersiap.
Setelah hampir 5 jam mereka di perjalanan, akhirnya mereka sampai di Apartemen yang disewa oleh Sultan, yang terletak tak jauh dari Bandara King Abdul Aziz.
"Sayang, kamu gak apa-apa kan, kalau aku tinggal sendiri? Aku mau menemui seseorang" Tanya Sultan setelah mereka sampai di Apartemen.
"Kamu mau menemui siapa ? Jangan sampai kamu mau bertemu si Faisal atau Fahad lagi" Jawab Maymunah sewot.
"Gak, kok Sayang? aku udah janji sama kamu untuk gak menemui mereka lagi kan?"
"Iya, awas aja kalau sampai masih berteman sama mereka. Mereka itu racun, nanti kamu dicekoki ide gila lagi." Maymunah terus saja nyerocos memgomeli suaminya.
"Ya udah, aku pergi dulu ya. Nanti kamu tidur duluan aja, gak usah nunggu. ok? Nanti aku janji aku akan membawakan hadiah teristimewa untuk kamu"
"Hadiah apa tuh? " Tanya Maymunah.
"Rahasia hehe..itu surprise untuk kamu. Pokoknya hadiah yang paling istimewa "
"Ok, aku tunggu "
Setelah membelikan makanan dan segala macam untuk istrinya, Sultan segera pergi ke Bandara.
Malam ini ia akan menjemput oràng yang paling istimewa di hidupnya dan istrinya .
Setelah hampir dua jam Ia menunggu, akhirnya ia melihat dari kejauhan orang yang ia maksud.
Empat orang yang ia rindukan, empat orang yang paling berharga bagi istrinya.
Dari kejauhan terlihat seorang wanita setengah baya tapi masih terlihat cantik.
Ya, ke empat orang itu adalah Bu Irma dan ke tiga anaknya, Rahmat, Anaya dan Ade.
Terlihat Bu Irma berjalan sambil celingukan melihat ke segala arah, mengagumi setiap tempat yang ia lihat.
Sultan sengaja membuatkan visa turis untuk mereka agar mengunjungi Maymunah. Ia tau istrinya itu bukan orang matrealistis, yang menganggap uang adalah segalanya.
__ADS_1
Karena itu ia berinisiatif memanggil keluarganya untuk datang berkunjung ke Saudi.
Dan sekalian untuk menjadi wali pada saat Aqad ulang nanti.
Sultan segera melambaikan tangan pada Rahmat yang sudah ia lihat.
"Ema, ayo kita kesana!.." Seru Rahmat mengajak bu Irma.
"Naya, ari ini teh di mana?" Tanya bu Irma.
"Ini teh Saudi bu, ini kota Jeddah " Jawab Anaya.
"Terus, mana teteh kamu dan suaminya kenapa belum kelihatan?" Bu Irma celingukan mencari Maymunah.
"Asalamua alaikum" Sapa Sultan setelah sampai di hadapan mereka.
Rahmat langsung menyalami kaka iparnya, sedang bu Irma cuma bengong agak ketakutan.
"Rahmat, ari kamu teh salaman sama siapa? Ini siapa? " Tanya bu Irma yang tak mengenali Sultan yang memang terlihat berbeda.
Selama di Indonesia, Sultan memakai celana dna kaos seperti biasanya. Sedangkan di negerinya, dia memakai tsob atau jubah putih dan juga sorban garis garis merah putih, lengkap dengan iqal di atas kepalanya.
"Aih, Ema jadi gak ngenalin ini siapa ? Ini kan Kak Sultan, suami nya teh Mae" Jawab Rahmat menerangkan pada ibunya.
"Aih jadi na teh, ini si kasep..tapi kenapa make nya kaya begini?" Tanya bu Irma polos.
Sementara Sultan cuma tersenyum simpul karna tak faham dengan bahasa mereka.
"Rahmat, what did she say?" Tanya Sultan pada Rahmat.
"Hehe ema gak tau ini kak Sultan" Jawab Rahmat.
Sultan tertawa.
"Ema, ini Sultan, suami Mae" Ia mencoba berbahasa indonesia..dengan melihat google translate.
"Ooh Mae nya mana ?" Tanya bu Irma lagi, karena Sultan tak faham ia bertanya lagi pada Rahmat.
"Where is my sister?" Kata Rahmat menterjemahkan.
"Ah..Maymunah di apartemen, ayo kesana " Sultan mencoba berbahasa indonesia lagi.
"Ema, Ade lapar" Rengek Ade merasa lapar karena sudah agak lama menerima makanan di pesawat.
"Ade ..kenapa?" Tanya Sultan.
__ADS_1
"Ade lapar" Jawab ade sambil memegang perutnya sehingga Sultan faham.
" Oh ok, kita ke restaurant dulu ya"
Setelah Sultan memesankan makanan, ia segera mengajak mereka ke dalam mobil, karena takut Maymunah terlalu lama menunggu sendirian di Apartemen.
Sepanjang jalan menuju Apartemen, bu Irma tak henti-hentinya mengoceh menanyakan semua hal yang baru di lihat nya di kota Jeddah.
"Sultan, kalau ka'bah ada di sebelah mana?"
Tanya bu Irma.
"Kalau ka'bah bukan di sini ma, tapi di makkah , iya kan Sultan?" Rahmat menjelaskan.
"Jauh gak dari sini, Ema pengen banget Umroh" ujar Bu Irma.
Mendengar kata umroh, Sultan jadi teringat janjinya untuk membawa Maymunah pergi Umroh.
"Hmm Rahmat, katakan pada ema, nanti kalau sudah selesai Aqad nikah ulang kami, aku akan membawa kalian Umroh ke masjidil Haram dan juga pergi ziarah ke makam Rosululloh di Madinah" Kata Sultan pada Rahmat. Rahmat pun menterjemahkan pada ibunya.
Mendengar akan dibawa umroh, bu Irma menangis terharu.
"Ya Allah ..alhamdulilah Semoga benar tercapai ya mimpi ema.. kalau haji kan kita daftar nya sulit harus nunggu bertahun tahun..ya umroh juga gak apa apa"
"Sma ngomong apa?" Sultan bertanya lagi.
Rahmat pun tak bosan menterjemahkan.
"Hmm katakan saja pada emak..nanti kalau mau Haji harus netap di sini sampai Maymunah lahiran, nanti kan pas bulan haji, nanti aku daftarkan haji ke KJRI kalian "
"Terimakasih Sultan"
Setelah beberapa menit mengemudi, akhirnya mereka sampai di Apartemen yang di sewa sultan.
"Alhamdulilah kita sampai " Ujar Sultan.
"Mana rumah kamu teh?" Tanya bu Irma.
"Ada di atas ma. Ini bukan rumah Sultan, ini apartemen sewaan selama di jeddah saja ma" Jawab Sultan dengan bahasa indonesia yang ia baca di ponsel nya
Sultan segera mengajak mertua dan iparnya naik ke atas.
"Nah, ini apartemen Sultan, Mae ada di dalam, nanti pas masuk, Ema dan yang lain jangan bersuara ya.
Karena saya sengaja membuat kejutan untuk Maymunah.
Saya belum mengatakan pada Maymunah kalau ema datang ke Saudi " Ujar Sultan memberi pengarahan pada mertuanya.
__ADS_1
Meski dengan google translate, ia tetap berusaha agar mertuanya itu faham kata-katanya.
"Sepertinya aku perlu belajar bahasa Indonesia biar bisa berbicara banyak dengan mereka " Gumam Sultan dalam hatinya seraya membuka pintu apartemen itu dengan sangat hati hati.