Terjerat Pernikahan Dengan Pria Narsis

Terjerat Pernikahan Dengan Pria Narsis
Bab 12: Maaf Nathan


__ADS_3

"Ibu tinggal sebentar, Ruhi ambilkan minum untuk Nathan!" ujar ibu pergi meninggalkan kami berdua. 


Usai mengambil minum, kami berdua duduk di sofa, mataku diam-diam melirik ke arah Nathan yang hanya menundukan pandangannya. Dia yang terdiam mula bersuara.


"Aruhi, apa aku kurang layak untukmu? tanya Nathan dengan lirih padaku. 


Mendengar hal itu, tentu saja membuat hati ku sakit, aku dulu sangatlah mencintainya namun karena diriku merasa tak pantas, aku pun pergi meninggalkannya. 


"Tidak Nathan, hanya saja aku tak pantas bersamamu!" ujar ku kembali menatapnya. 


"Pantes karena apa? Dengan alasan yang tak pasti kamu meninggalkan ku!" ucap Nathan.


Dari tutur kata yang dia lontarkan tentu saja aku tak bisa berkata banyak yang hanya dapat ku keluarkan, kata maaf setulus hati, yang mungkin saja terlihat baik-baik saja namun hancur di dalam. 

__ADS_1


Lagi-lagi suasana hening mulai mengusik, kami hanya duduk terdiam tanpa berkata apapun. Yeah, karena memang tak ada yang bisa dibicarakan. Nathan menghela nafas sejenak, memiringkan tubuhnya menatap ku, tak lama kemudian tangan yang besar memegang jemariku. 


"Aruhi, seharusnya sejak awal aku mengungkapkan ini. Tapi aku takut persahabatan antara kita berakhir hanya karena pernyataan sepihak dariku," ungkap Nathan dengan sendu. 


Aku sempat bingung mendengar pernyataan ambigu yang diucapkan Nathan, namun setelah ku cermati baik-baik maksudnya, ternyata dia juga menyukai ku, lantas untuk apa dia selalu menjauhiku ketika dulu ku mendekatinya? 


Tiba-tiba suara ketukan pintu mengagetkan kami berdua, aku bergegas bangun menuju pintu keluar dan membukanya, membuat ku terkejut.


"Apa kamu lupa nona manis, malam ini kita punya jadwal kencan," ucapnya dengan pede. 


"Aruhi, siapa?" sela Nathan.


Vendrik menyipitkan matanya menatap Nathan, seolah-olah Nathan adalah musuhnya. "Siapa pria kurus ini. Wajahnya lumayan juga, untung saja dia tak setampan diriku, yang memiliki poster tubuh bak atlet basket," batin Vendrik, sembari memuji dirinya sendiri. 

__ADS_1


Aku yang melihat Vendrik masih berdiri menarik pergelangan tangannya. "Ya Tuhan, apa kamu tuli, aku kan udah bilang jangan datang ke rumahku sembarangan, apa kamu tidak ingin patuh!" ujar ku kesal. 


"Ha, apa kamu memerintahku? Aku kesini butuh bantuanmu, tapi sepertinya kamu sedang berkencan dengan pria lain," ucap Vendrik kecewa. 


"Argh …, apa-apaan wajah itu!" batin ku berteriak menatap wajah kasihannya. 


Mau tidak mau, aku bergegas masuk kedalaman menemui Nathan yang ku tinggalkan sendiri di ruang tamu, sedangkan Vendrik ku suruh menunggu di dalam mobil miliknya. Terlihat Nathan sedikit kecewa saat menatapku, rasa tidak percaya diriku mulai keluar, dengan tatapan Nathan yang kecewa tentu mengusik pikiranku. Sebelum Nathan pergi, ia sempat mengucapkan maaf yang membuat ku terbebani. 


Di luar rumah aku terdiam menatap Nathan yang menaiki motor scoopy, perlahan-lahan ia menstater motor itu, sejenak ia menengok kebelakang dengan garis senyum di ujung bibirnya. Aku tau aku egois, tapi aku juga takut jika Nathan tau aku hamil di luar nikah, apa yang akan di pikirkan tentangku? Dia mungkin saja berpikir aku murhan dan aku tidak ingin dianggap seperti itu. 


Lamunan ku berhenti ketika tangisan Ayaan yang tiba-tiba mengagetkanku, lekas ku berlari menuju kamar Ayaan yang bersebelahan dengan kamar utama. Disusul dengan Vendrik yang tiba-tiba saja ikut berlari ketika melihat ku. 


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2