Terjerat Pernikahan Dengan Pria Narsis

Terjerat Pernikahan Dengan Pria Narsis
Bab 28: Kecelakaan


__ADS_3

 Vendrik membawa laju mobilnya di tengah hujan badai. Dengan perasaan cemas di dada tentu saja membuat ia tak berfikir rasional. "Aruhi, kamu dimana!" gumam Vendrik menatap ponsel yang ia taruh di depan pengemudi. Berkali-kali matanya melirik ponsel itu, berharap Aruhi segera mengangkat telpon darinya. 


Hingga sebuah kecelakaan besar terjadi, sebuah truk yang melaju dengan kecepatan tinggi langsung menabrak mobil Vendrik dari arah berlawanan. 


Sementara itu aku yang tak dapat tidur merasakan firasat buruk tentang Vendrik, membuat tubuhku gemetar takut. 


"Aruh! Sebaiknya kamu ke rumah sakit!" ujar Nathan panik. 


"A-apa, apa yang terjadi Nat?!" ucap ku terkejut. 


"Suami mu kecelakaan!" 


Lagi-lagi membuat tubuhku lemas tak berdaya. Mendengar hal itu, segera ku lepas infus yang melekat di tangan. Nathan berkali-kali meminta maaf memberi kabar buruk tersebut. 


"Aruhi, seharusnya kamu tidak perlu panik, toh juga kalian akan bercerai!" gumam Nathan yang masih terdengar. 


"Apa maksudmu, Nat? Aku tidak akan bercerai!" teriak ku berlari tanpa alas menuju roda empat. 


"Sial! Harusnya ku biarkan saja pria itu mati!" cetus Nathan melempar vas bunga yang berada di atas nakas. 


Di rumah sakit pusat kota, Aku menangis sepanjang jalan, mengharap Vendrik baik-baik saja. 


"Suster, korban kecelakaan truk ada di ruangan mana?" tanyaku dengan khawatir. 


Suster yang ditanyai justru menuntun ke ruang jenazah, sontak membuat ku menangis histeris. "Vendrik! Kamu tidak boleh pergi meninggalkan aku!" teriakku sejadi-jadinya. 

__ADS_1


"Aku di sini."


Suara tak asing membuat tangis ku berhenti. "Aku minta maaf karena nggak percaya sama kamu, tapi apa pun itu, aku nggak peduli lagi, mau itu anakmu atau bukan yang jelas kamu harus hidup!" ujarku melanjutkannya. 


"Aku serius, aku masih hidup!" sahut suara itu kembali. 


"Tapi kenapa kamu berbaring disini?"


"Siapa bilang aku berbaring di situ, apa kamu tidak sadar aku sudah berdiri sejak tadi di depan pintu!" ujar Vendrik menghampiri ku. 


"Ven …!" aku langsung memeluknya erat. 


"Aw, lenganku sakit Ruhi!" ujarnya menjerit. 


"Aku sendiri yang menyuruhnya!" dengan puas. 


"Tuh kan kamu masih saja usil dan narsis, bagaimana bisa kamu selamat dengan sifat seperti itu?" dengan wajah ditekuk. 


"Karena Tuhan masih menyayangi ku," jawan Vendrik menciumku. Ciuman kedua yang ku rasakan tak seperti di film-film romansa, justru ciuman itu kurasakan dekat dengan para jenazah yang berada di depan, belakang, dan sampingku. 


Kami berdua pun keluar usai berciuman. "Ruhi apa yang kamu katakan di kamar jenazah itu benar?" dengan wajah mengharapkan jawabanku. 


"Iya, aku nggak peduli lagi, asalkan kamu berada di sisiku tanpa harus menikahi wanita itu, aku siap jadi ibu sambung anakmu Ven," tegas ku menatapnya. 


"Terimakasih Aruhi, tapi aku dengan yakin wanita yang bersama ku lima tahun yang lalu bukan dia," gumamnya membalas tatapanku. 

__ADS_1


"Ven, bagaimana bisa kamu selamat, sedangkan sopir truk itu meninggal?" tanyaku penasaran, karena tubuhnya hanya mendapatkan patah tulang ringan. 


Flashback… 


Vendrik menyadari sebuah truk melaju dengan kencang ke arahnya, ia dengan sigap melepas sabuk pengaman dengan posisi mobil yang melaju kencang. Vendrik terlihat berusaha keras untuk keluar dari mobil, sebelum truk menghantamnya. Yap dengan kekuasan Tuhan Vendrik berhasil selamat dengan mempertaruhkan keberuntungan hidupnya dengan cara lompat dari pintu mobil yang melaju. 


Flashback selesai… 


"Aku sangat bersyukur kamu selamat, aku takut banget!" ucapku kembali memeluknya. 


"Aku juga bersyukur bisa ketemu kamu lagi, Aruhi, kemarin kamu kemana aja? Aku udah cari ke rumah ibu, tapi kamu nggak ada di situ!" ujarnya khawatir. 


"Maaf Ven, aku pergi tanpa bilang-bilang ke kamu atau Ayaan," ujarku lirih menjatuhkan pandangan ke bawah. 


"Aku juga minta maaf, dengan kesalahan ku di masa lalu, kamu jadi terluka, tapi aku janji sama kamu, secepatnya aku akan membereskan semua kekacauan ini!" ujarnya kembali meyakinkan ku. 


"Bawa aku juga, Ven, apapun masalah mu tolong libatkan aku juga. Aku nggak mau kamu sendiri!" ucapku menawarinya. Dengan senyum simpul Vendrik mencium keningku, membuat pipiku merah merona. 


Di kediaman Nathan, terlihat pria itu kesal, kaca hias di kamar pecah akibat pukulan yang ia layangkan. 


"Bego, seharusnya aku nggak usah ngasih tau Aruhi, biarin aja pria sombong itu mati!" bentak Nathan, dengan tangan memar akibat pukulan. 


Suara senyap ponsel membuat Nathan berubah ekspresi. "Gimana? Kamu berhasilkan misahin mereka?" tanya Nathan dengan intens. 


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2