
"Leo aku tuh masih sayang sama kamu, makanya aku pulang," ujar wanita itu merahi tangan Vendrik.
Mendengar pertanyaan wanita itu justru membuat ku makin bingung. "Jadi ini pertengkaran antara kekasih," batinku saat menatap wanita yang memelas memegang tangan Vendrik.
"Ya aku tau kamu masih cinta, aku juga tau karena aku tampan kamu ngak bisa lupain aku, tapi maaf iya …, hubungan kita itu udah berakhir lima tahun lalu, jadi kamu ngak usah ngejar aku lagi!" tegas pria itu dengan ekspres narsis.
Ucapan pria itu justru membuat ku ingin membungkam mulutnya, karena ia terlalu pede mengatakan hal konyol.
"Yeah …, aku akui kamu memang tampan tapi setidaknya normal lah, jika kamu menolak!" bisiku padanya yang tengah berdiri di sampingku.
Pria narsis itu tiba-tiba tersenyum tanpa terduga saat dia mendengar pernyataan tampan dariku. "Akhirnya …, kamu mengakui ku tampan!" bisik ia kembali padaku.
Dengan kesal aku menginjak kakinya dengan kuat, hingga ia menjerit kesakitan. "Argh!!" teriak Vendrik.
"Sa …, sayang kamu kenapa?" tanya wanita itu panik, ia masih berdiri di hadapan kami.
Suara telpon berdering dari dalam tas wanita itu, dia langsung bergegas mengangkatnya, usai mengangkat telepon wanita tersebut terburu-buru pergi, namun dia tak lupa mengucapkan salam perpisahan untuk Vendrik.
__ADS_1
"Leo, aku akan datang menemuimu sampai kamu menerima ku kembali!" teriak wanita itu sambil pergi dengan terburu-buru.
"Astaga kasar sekali, kamu hampir membuat kaki panjangku di amputasi!" celetuk pria narsis itu.
"Week …. Bodo amat, kaki jelek seperti itu bisa kamu ganti baru!" ucapku sembari menjulur lidah.
"Kamu pikir aku robot? Yang mudah ganti kaki, dasar wanita bunga, harga kakiku ini tak sebanding dengan toko kecilmu, ini kaki sudah masuk nominal kaki tercantik di paris!" gerutu pria itu menatap ku.
"Wkwk …, tapi kaki jelek itu ngak berlaku disini!" ejekku kembali padanya, dan berlalu meninggalkan pria narsis itu.
"Seperti biasa, aku ingin membeli bunga dan memberikan ini pada Ayaan," merogoh sakunya lalu mengeluarkan permen dino.
"Permen? Ngapain bawa permen, kamu mau gigi anakku rusak?" tuduhku.
"Iyakan ngak sesering ini'kan aku ngasih permen pada Ayaan, lagian ngak akan rusak juga kok giginya," ucap pria itu memegang kembali permen yang ia keluarkan tadi dengan ekspresi sedikit kecewa.
Melihat pria itu kecewa, justru membuat ku sedikit tergerak tanpa sadar aku akhirnya di hipnotis olehnya, dan mengambil permen itu dari tangannya.
__ADS_1
"Iya udah nanti aku kasih pada Ayaan, udahkan? Kamu ngak punya pekerjaan iya?" tanya ku menyipit menetap pria itu.
"Ini aku mau berangkat!" ucap pria itu melihat jam yang melingkar di tanganya.
"Terima kasih!" ucap pria itu teriak sembari keluar dari toko. Tanpa sadar diriku pun tersenyum tak keruan melihat pria menyebalkan itu.
"Dasar orang aneh!" gumamku yang masih terdengar.
"Siapa yang aneh?" sela ibu yang tiba-tiba saja muncul di belakang ku.
"Astaga dragon! kapan ibu di sini?" tanyaku terkejut menatap ibu yang berdiri di depan ku saat aku membalikan badan.
"Aku disini sudah setengah jam, menatap anakku yang cengengesan tak keruan melihat pintu keluar," ucapnya mencubit hidungku.
"Aw …, ibu, kenapa mencubit hidungku, Ruhikan bukan anak kecil lagi," ucapku sambil mengelus hidung yang sakit.
Bersambung....
__ADS_1