Terjerat Pernikahan Dengan Pria Narsis

Terjerat Pernikahan Dengan Pria Narsis
Bab 21: Liburan Ke Lombok


__ADS_3

Loh, kok jawabannya nggak tau?" Vendrik yang mendekat merangkul pinggangku, membuat suasana hati buruk semakin tak keruan. 


"Ven, apa ini?" ucapku mencoba melepaskan rangkulannya padaku, namun tangan kekar semakin erat memelukku hingga momen lima tahun yang berusaha kulupakan kembali. Membuat ku berteriak mendorong jauh dirinya yang tengah memeluk ku. Vendrik terkejut ia lekas bangun dan menghampiri ku yang tiba-tiba saja berteriak. 


"A-rhui kamu kenapa?" tanya ia panik.


"Aku nggak apa-apa, hanya saja aku tiba-tiba saja teringat kenangan buruk!" ucapku duduk. 


"Kenangan buruk yang bagaimana?" tanya ia penasaran sekaligus khawatir padaku. Aku hanya diam tak ingin menjawab, melihat diriku yang diam Vendrik menghentikan rasa penasarannya ia justru menggendongku. 


"Ven, kenapa kamu tiba-tiba menggendongku!" 


"Aku rasa kamu butuh refreshing, ayo kita pergi ke pantai yuk!" ajaknya padaku yang masih berada di lengan kekar miliknya. 


"Ya, tapi turunin aku dulu, Ven, malu kalau Ayaan liat," ucapku dengan wajah merah muda. 


"Gak papa, itu baik buat perkembangan Ayaan," ujarnya dengan senyum simpul.


"Aw …, apa kamu tikus, suka banget menggigit!" ujarnya kembali memekik sakit, hingga tubuhku terjatuh. 


"Aduh-duh, kasar banget sih!" 


"Ya lagian kenapa tanganku digigit, kamu tau nggak kalau tanganku ampe lecet, bisa-bisa gelarku dicabut!" ucapnya kembali membuka buku. 

__ADS_1


"Gelar apaan sih, cuma tangan kegigit aja udah histeris!" ujarku kesal. 


"Apa! cuma tangan kamu bilang! Kamu tau gak tanganku ini seperti aset negara!" ucapnya menempelkan dahinya di dahiku. 


"Dih …,  mulai lagi!" batinku kesal memutar bola mata. 


"Kamu ini seperti tikus, kemarin kaki sekarang tanga k.." 


"Ssst, udah. Aku minta maaf, jadi kamu ngomongnya udah iya, kamu itu berisik ke ibu-ibu rempong yang lagi adu mulut sama anak remaja," selaku sembari menaruh satu jari di bibir manisnya. 


Seketika tatapan matanya berubah. "Jadi nggak kamu ngajak aku refreshing sama Ayaan?" tanyaku pada Vendrik.


Dengan senyum lebar Vendrik menganggukan kepalanya meminta para asisten mempersiapkan beberapa perlengkapan liburan. 


"Tapi besok kamu kerjakan?" tanyaku kembali. 


Beberapa menit kemudian persiapan liburan sudah selesai, lokasi yang kami tuju berada di pulau yang terkenal dengan seribu masjid. Dengan namanya yang melambangkan tempat ibadah aku semakin penasaran seperti apa pulau yang akan menjadi tempat wisata yang kami tuju. 


Dua jam 14 menit kami sampai di tempat tujuan dengan menggunakan pesawat Garuda 009. Kami berhenti di sebuah bandara bernama. Bandar Udara Internasional Lombok Zainuddin Abdul Madjid. Vendrik membuka kembali ponsel genggamnya melihat lokasi tempat kami menginap. 


Beberapa menit kemudian kami sampai di sebuah villa yang letaknya tak jauh dari pantai, pasir putih, bukit-bukit yang nampak kehijauan dari jauh. Seperti surga dunia bagi mereka pecinta traveling. 


"Sayang, apa kamu tau bulan apa sekarang?" tanya ia padaku yang sedang asyik memfoto ruangan vila yang akan kami tempati. 

__ADS_1


"Uhm, gak tau?" jawabku dengan ponsel yang masih ku gunakan untuk memfoto sudut ruangan yang kuanggap menarik. Karena seumur-umur diriku memang tak pernah melihat tempat indah, meskipun aku menjadi klining servis di hotel bintang lima. 


Dengan geram dia mengambil handphone itu dari tanganku, Ayaan yang berdiri di samping tak sempat ku hiraukan ia justru duduk di sofa mengambil ipad miliknya.


"Ruhi kamu dengar aku gak sih?" 


"Iya-ya bawel banget sih, aku dengar aku kan udah jawab kalau aku itu ngak tau bulan apa, lagian kamu ngapain tanya bulan?" tanyaku kembali.


"Ya udah, nanti malam kita keluar berdua!" ujarnya dengan sabar menahan kesal pada diriku.


"Terus Ayaan gaimana?" 


"Mama pegi ajah cama papa Vendrik," jawabannya. 


"Nanti kamu sama siapa di vila ini, ntar kalau ada maling gimana?" 


"Udah kamu tenang aja, aku udah sewa beberapa bodyguard buat jaga Ayaan. Lagian mana ada tempat mewah yang ku boking ada maling!" ujarnya menatapku melegakan khawatiran.


Aku pun lekas masuk ke kamar utama, sedangkan Vendrik keluar tanpa mengucapkan apapun. Di Dalam kamar, aku melihat kotak berwarna biru muda yang tergeletak di atas ranjang. Dengan penasaran aku pun menghampiri kotak tersebut. 


"Apa ini?" gumamku bingung.


Beberapa menit setelah menatap kotak itu, aku menemukan secret kertas kecil yang diselipkan di beberapa sudut kotak. Aku pun membuka kotak itu. 

__ADS_1


'Gunakan itu' tulis kertas kecil didalamnya. Sudah sangat jelas yang menulis ini adalah Vendrik yang saat ini menjadi suamiku. Pemberani kecil ini membuat ku senang, senyum bodoh sering kali keluar dari bibir mungilku. 


Bersambung....


__ADS_2