Terjerat Pernikahan Dengan Pria Narsis

Terjerat Pernikahan Dengan Pria Narsis
Bab 13: Kesempatan


__ADS_3

"Ayaan …, kamu kenapa?" tanya ku terkejut sambil masuk kedalaman kamarnya. 


Ku lihat anak itu duduk sembil meringkuk di atas kasur, tanpa pikir panjang ku leburkan pelukan pada anak Ayaan, usai menenangkannya kembali ku lontarkan pertanyaan sama pada anakku. Dia hanya diam sambil menangis. 


"Ayaan tangen papa!" ujar Ayaan cadel memeluk ku erat, bak seperti petir yang menggelegar, ungkapan hati anak itu lagi-lagi membuat pikiran ku kosong. 


Hanya empat kata yang dapat ku keluarkan sembari menahan tangis yang hampir jatuh membasahi pundaknya. Di luar pintu kamar terlihat Vendrik bersandar mendengarkan kami.


"Nak …!" ucap buk Ambar mengagetkan Vendrik yang sedang menguping.


"Astaga naga, ta …, tante!" ucapnya terkejut. 


Pria itu mengintip lagi melihat apakah ia ketahuan menguping atau tidak, setelah memastikannya dia kembali menarik tangan ibuku. 

__ADS_1


"Bu …, bukan saya tidak mencuri. Eh, tidak itu, saya tidak menguping!" ucap Vendrik gugup. 


Buk Ambar yang mendengar kegugupan Vendrik justru menahan tawa melihatnya, ia kembali mendehem. "Khem, sejak kapan, Nak Vendrik disini?" tanya bu Ambar.


"Eh, Nathan kenapa?" tanya bu Ambar kembali, mencari pria yang tadi bertemu.


"Ouh, jadi namanya Nathan!" batin Vendrik.


"Sejak tadi, Tante!" serunya. 


Vendrik membuka telinga hingga ia sempat merasa curiga, kejadian yang ia alami sama persis seperti Aruhi. Namun dia tepis dengan kata 'tak mungkin' wanita yang bersamanya lima tahun lalu adalah orang yang sama. 


Pukul 09:23 malam, Vendrik masih menunggu di luar dengan ditemani kopi instan yang tergeletak di meja. Pria narsis itu perlahan-lahan menyeruput kopi tersebut. Tak lama kemudian aku keluar dari kamar Ayaan, dan masih melihatnya duduk ditemani ibu di sampingnya. 

__ADS_1


Pria itu bangun tatkala melihat aku keluar lekas ia menghampiri ku. "Aruhi, ada yang mau aku omongin sama kamu."


"Mau ngomong apa?" ketus ku. 


Ibu yang masih duduk pun bangun, beliau menghampiri ku sambil menepuk pundak, sebagai isyarat untuk menyelesaikan percakapan ku dengan pria ini. Aku kembali menuju sofa disusul dengan Vendrik. Tanpa basa-basi ia mulai berbicara, malam itu ia terlihat lah berbeda. Dia tak lagi memuji dirinya.


"Aruhi, aku kesini serius meminangmu. Yeah …, aku tau ini terdengar aneh tapi jujur aku tulus ingin mempersunting dirimu, tapi kalau kamu menolak lagi, aku akan menyerah dan tidak akan bertemu denganmu," ucap Vendrik serius. 


"Aku akan menunggu jawabanmu besok," ucapnya kembali, sambil beranjak bangun dari duduknya, pria itu bahkan tak lagi mendengar ucapan ku, ia justru pergi usai mengatakan hal tersebut. Membuat ku makin bingung harus menjawab apa!


Malam itu aku tak bisa tidur karena ucapnya jujur membuat ku dilema. Terdengar suara petir menggelegar di luar, sepertinya langit tahu isi hatiku, perlahan-lahan rintik-rintik kecil turun membasahi tanah yang gersang, disusul dengan gemuruh lalu disertai hujan deras. Membuat ku makin tak bisa tidur, kembali ku bangun dan beranjak turun dari kasur, mengambil handphone di atas nakas.


Aku kembali duduk di pinggir ranjang, membuka handphone, lalu melihat kembali momen ketika Ayaan kecil, disana bisaku rasakan tak mudah menjadi ibu sekaligus ayah untuk anak ku. Tiba-tiba air mataku terjatuh membasahi pipiku.

__ADS_1


Lalu ku rentangkan sekujur tubuh kembali sembari scrol HP menatap senyum manis anak ku, hingga diriku tertidur pulas. Tak terasa malam sulit bisa ku lalui, hingga fajar datang menyambut.


Bersambung....


__ADS_2