
"Mama kemana aja?" tanya Ayaan dengan cadel padaku.
"Mama cuma jalan-jalan aja, kamu nggak pulang ke villa?"
"Ayaan pulang sama mama aja."
"Eh itu anak siapa kamu bawa!" ucap ku terkejut menatap anak yang bersembunyi di balik dua bodyguard.
Ayaan lalu menceritakan anak perempuan yang tak sengaja ia tolong saat di ganggu anak-anak lainnya. Aku pun mengajak anak perempuan itu mampir ke villa lalu menanyakan nama dan alamat anak tersebut.
"Nak, kamu tinggal dimana?" tanyaku pada anak manis tersebut. Anak itu hanya diam tak menjawab, Ayaan dengan sigap mendekati anak perempuan yang hanya menundukan kepalanya.
"Namanya Hauroh," sergah Ayaan menjawab.
"Kok kamu bisa tau?" tanyaku heran pada Ayaan.
"Itu yang meleka panggil padanya," ucap Ayaan.
Kemudian aku meminta kepada asisten Neol mencari keluarga anak itu. Beberapa jam kemudian keluarga anak tersebut datang menjemputnya. Perpisahan singkat Ayaan dan anak itu mampu membuatnya merasa sedih.
"Ayaan kenapa sedih?" tanyaku padanya.
"Ayaan gak sedih kok, anak itu sangat cantik, Ayaan suka," ujarnya dengan polos. Membuat ku terkejut.
"Darimana kamu belajar?" ujarku menatapnya. Dengan polos ia menjawab.
"Papa."
"Astaga Vendrik!" gumamku.
__ADS_1
"Ayaan …, lain kali kamu gak boleh ngomong gitu. Kata cantik bisa di artikan pada seorang yang disuka, lagian Ayaan ketemu anak itu cuma sekali. Masa ia udah suka?" ujarku sambil menasihatinya. Dengan diam ia mendengarkan..
"Besok kita harus pulang, apa ada yang Ayaan inginkan?" tanyaku kembali.
"Ayaan mau ketemu anak itu," ucapnya tersenyum. Aku pun menganggukkan kepala.
"Ya sudah, besok kita ketemu gadis itu," ujar ku menatapnya.
Keesokan harinya Ayaan bergegas memanggilku yang tengah memasak, dengan penuh antusias dia begitu bersemangat untuk bertemu anak yang baru sehari ia kenal. Entah apa yang membuatnya seperti itu?
"Mama ayo …!" ujarnya menarik tanganku.
"Iya ntar dulu Ayaan, kita bahkan belum sarapan pagi," ujarku kembali padanya.
"Nanti kalau udah sarapan kita kesana, biar pak Arya yang anter, lagian perjalan kita ke rumahnya searah sama bandara."
Ekspresi bersemangat kini memudar terlihat rasa sedih bergaris halus di kening Ayaan. Melihat hal itu tentu saja hati ku tak nyaman. Bel rumah tiba-tiba saja berbunyi. Lekas beranjak membuka pintu itu, ternyata yang datang adalah Vendrik dengan sebuket mawar putih di tangannya.
"Gak …!" ucapku cemberut.
"Sayang sekali padahal aku sangat merindukan kalian, eh hari ini kalian pulang?"
"Iya, besok kan Ayaan sekolah, kami disini sudah dua hari tiga malam. T-a-n-p-amu!" jelas ku menatapnya.
"Jadi kamu masih marah ya sama aku!" ujar Vendrik dengan tampang kasihan.
"Sudahlah Ak…."
Belum sempat ku mengatakan hal lain, justru Ayaan dengan cepat memanggil.
__ADS_1
"Papa!" sergah Ayaan berlari memeluk Vendrik.
"Hey jagoan apa kabar. Apa kamu merindukan Papa yang tampan ini?" tanya Vendrik membalas pelukkan Ayaan. Melihat senyum bahagia Ayaan kembali membuat hati ku sedikit tenang.
"Papa punya sesuatu di rumah, aps kamu sudah membereskan bajumu?"
Senyum bahagia seketika sirna saat Vendrik berbicara tentang membereskan baju padanya. "Ah, kenapa dengan raut wajah anak ku yang tampan ini?"
"Ven bisa kita bicara sebentar?" ucapku.
"Baiklah, Neol kamu temenin tuan muda bermain," ujarnya memanggil asisten yang tengah duduk di luar.
"Aku adalah asisten yang terkenal galak, tapi untuk satu hal aku di minta menjaga anak bukan untuk membantu pekerjaan bos," batin Neol tersenyum paksa.
"Gaji pekerjaan paruh waktu naik tiga kali lipat," ujar Vendrik menenangkan hati Neol yang sudah tirus akibat begadang menjaga Ayaan. Ternyata Vendrik sangat memperhatikan Ayaan.
Aku menceritakan semua pada Vendrik, di wajahnya tidak ada keterkejutan ataupun rasa khawatir ia justru lebih dulu mengetahui apa yang terjadi pada Ayaan. "Hehe, biarkan saja. Lagian dia masih anak-anak wajar jika menyukai seseorangkan? Seperti aku menyukaimu?" sembari tertawa menggodaku.
"Ish apaan sih, inget pernikahan ini tidak ada cinta!" tegasku.
"Ya, ya mau itu tidak ada cinta atau apalah yang jelas aku menyukaimu, tanpa meminta dicintai kembali, toh juga nanti kamu mencintaiku," ucapnya dengan pede.
Tanpa balasan apapun aku keluar dari kamar dengan wajah memerah. Terlihat Ayaan menunggu di luar. Kami pun bersiap-siap pergi ke rumah gadis itu. Sesampainya disana kami melihat gadis itu tengah duduk mencuci pakain di depan rumah miliknya. Anak sekecil ini sudah mampu mencuci baju dengan tangan mungil miliknya.
"Loh bukannya nenek yang waktu itu?" ujarku menyapanya.
Rumah beralaskan tanah dengan dinding bambu. Membuatku penasaran pasalnya gadis itu dijemput menggunakan mobil yang terbilang cukup mewah, tapi mengapa gadis itu duduk bersama nenek tua penjual aksesori? Pertanyaan itu mengusikku, namun ku tepis karena kami tak berhak ikut campur. Ayaan yang melihat Hauroh bergegas berlari menghampirinya.
Terlihat senyum keindahan di bibir manis Ayaan tatkala ia melihat gadis kecil itu mengingatkan aku pada Nathan saat kami masih muda. Vendrik yang melihat ku tersenyum menggenggam tanganku mata kami saling bertautan. Jantungku tiba-tiba saja bergetar hebat seolah-olah merasakan perasaan sama dengan Vendrik.
__ADS_1
Bersambung.....