
Sudah setahun berlalu, kini keluarga Edwin kembali bersama. Di sebuah pemakaman terlihat empat orang menatap visual dengan karangan bunga di depannya.
"Aruhi, setelah semuanya berlalu, apa kamu mau menikah dengan ku kembali?" tanya Vendrik lirih padaku.
Terlihat empat mata berbinar menunggu keputusan ku. Lamaran yang tak biasa, membuat ku sedikit malu, karena pria di depanku melamar tepat di depan makam ibuku. Sedih bercampur haru yang kini ku rasa.
"Aku bersedia, menikah denganmu kembali!" ujarku, menatapnya dengan senyum.
Vendrik terlihat bahagia, begitupun sebaliknya dua buah hati kami, terlihat senyum indah seperti mentari pagi yang terukir indah di bibir mereka.
"Pah, Mah, Ayaan pergi les dulu," ucap Ayaan.
"Khem, les … apa les?" dahem Ariana meledak kakaknya.
Karena beberapa bulan terakhir Ayaan jarang berkumpul dengan kami. Hingga kecurigaan Ariana pada kakaknya, membuat gimmick Ayaan sebagai pria nakal pun, kini hanya tinggal nama.
"Emang bocil seperti kamu mikir apa sih? Mending kamu telpon Kiano, dia udah lama nyariin kamu tuh!" ledek Ayaan kembali, membuat pipi Ariana memerah seperti leci. Karena si adik sangatlah menyukai Kiano.
***
Perancis
Terlihat pria dengan tali kekang di lehernya, membuat pria bernama Nathan seperti budak. Nathan yang obsesi pada Aruhi, kini memiliki perasaan ganda pada wanita yang menjeratnya.
Selama satu tahun Nathan menjadi pengantin, sekaligus tahanan dari putri ketiga Christopher. Nathan cukup menikmati menjadi tahanan, apalagi benih cinta tumbuh antara mereka berdua.
__ADS_1
"Aryana, aku mencintaimu," ucap Nathan lirih.
Aryana tersenyum hangat, mendekatkan sepasang bibirnya pada kening pria itu, Nathan yang dulu terlihat brings dengan balas dendam. Kini tersadar apa yang ia lakukan dulu adalah kesalahan.
Dengan obsesi yang berlebihan, ia harus kehilangan semua yang ia miliki, termasuk persahabatannya dengan Aruhi. Kini pria pendendam itu menemukan belahan jiwanya, meskipun perjalanan sedikit aneh.
Dan kedua anak Aruhi memulai kisah mereka dengan manis, Ayaan yang kehilangan ibunya saat berumur lima tahun, kini bertemu kembali dengan usia yang cukup memahami kesedihan orang terkasihnya.
Apalagi, pemuda itu cukup beruntung memiliki saudara perempuan, yang sangat menyayanginya meskipun mereka tak tumbuh bersama. Terlebih Ariana yang melihat ibunya menderita, kala Nathan memenjarakan mereka di mansion besar.
Vendrik Leonardo Edwin, yang terkenal narsis sejak lama, kini takluk pada seorang wanita, yang membuat dia berdebar sepanjang waktu. Meskipun mereka berpisah cukup lama, tapi tak mengurangi kesetian cintanya pada istrinya. Berbagi wanita yang datang menawarkan cinta bahkan tubuh padanya. Namun Vendrik enggan melirik mereka.
Baginya cinta pertama yang murni adalah ketulusan sejati, berkat penantian panjangnya. Takdir kembali mempertemukan mereka, dengan perasaan asing bagi Aruhi.
****
"Ven … kita berdua akan pergi kemana!" tanyaku, meliriknya yang tengah fokus Menyetir.
"Aku akan menjawab pertanyaanmu, tapi aku ingin meminta sesuatu!"
"Apa itu?" tanyaku mengernyitkan dahi.
"Aku ingin kamu memanggil ku sayang setiap waktu!" pinta Vendrik serius.
"Apa kamu memasuki fase puber lag…!" belum sempat selesai, ucapanku terpotong, dengan sentuhan lembut bibir Vendrik.
__ADS_1
"Apa permintaanku sesulit itu?" tanya Vendrik, dengan mata berbinar. Membuat ku luluh kala menatapnya.
"Sa-sayang, pantai mana kita tuju!" ujarku menggodanya.
Vendrik yang mendengar itu, kembali mencium ku. "Sepertinya, kita berdua harus cek in hotel."
"Apa … kita ke pantai dulu baru kesana!" sergah ku dengan intens.
Pria itu hanya tertawa, membuat ku kembali mengeluarkan pipi merah merona. Kami pun sampai di sebuah pantai pribadi, mengingatkan ku kembali, saat liburan ke pulau lombok. Kami berdua berjalan tanpa alas menginjak pasir putih bersih. Membuat telapak kakiku tergelitik.
"Sayang … apa kamu tau, setiap ku kehilanganmu, aku sangat membenci pantai!" ujar Vendrik berbicara seperti itu.
"Lalu kenapa kita harus kesini, jika kamu membenci pantai."
"Karena aku sadar … pantai tak punya masalah untuk di benci, hanya saja … kenangan yang terukir, ketika menatapnya," ucapnya lirih.
Kata-katanya yang begitu ambigu, membuat ku tak pahama, tapi ketika ku coba memahaminya, Vendrik merasa kehadiranku adalah hal terindah, namun pada saat kehilangan, dia menjadi membenci sesuatu yang ia pernah lewati bersama ku, apa lagi jika itu tanpaku!
"Sayang … maaf sudah membuatmu menunggu, jika saja kita tak bertemu di hotel itu, mungkin saja kita tak akan bersama … tapi aku juga bersyukur karena pilihan ceroboh ku, aku bisa bertemu dengan mu. Dan itu adalah sesuatu yang sangat ku syukuri."
Venderik memelukku. "Aku sangat mencintaimu, mari kita hidup tua bersama."
"Aku juga mencintaimu Vendrik … aku sangat mencintaimu!" ujarku membalas pelukannya.
Tamat...
__ADS_1
"Terkadang perjuangan tak akan mengkhianati hasil, kamu cukup bersabar untuk menunggu, jika memang dia masih di takdirkan untukmu. "
~Author Misseng~