Terjerat Pernikahan Dengan Pria Narsis

Terjerat Pernikahan Dengan Pria Narsis
Bab 33: Panas Membara


__ADS_3

Di sepanjang perjalanan Vendrik terlihat begitu bahagia, mengingat ucapan Andi. Sebelum menikah dengan Aruhi dia lebih dulu menyelidik pekerjaan sang istri. "Malam ini aku akan memastikannya!" gumamnya di sepanjang jalan. 


Dengan kecepatan tinggi Vendrik meminta sopir pribadinya membawa laju kendaran tersebut. "Pak Arya, bisa cepetan nggak!" ujar Vendrik tak sabar. 


"Iya tuan, saya sudah mencapai batas kecepatan," ucap pak Arya.


Di persimpangan lampu merah, mobil itu berhenti sejenak. "Pak kenapa berhenti?"


"Ada lampu merah, Tuan!" ujarnya menatap bosnya dari depan kaca spion.


Terlihat wajah berseri-seri dari balik kaca itu, membuat pak Arya selaku sopir yang hidup bersama Vendrik sejak dia masih kecil tentu membuat ia sedikit bingung. 


"Bos seperti tidak biasa, dulu saat kumpul-kumpul sama sohibnya dia selalu terlihat kesal," batin pak Arya mengamati bosnya. 


Vendrik bersandar di samping jendela sebelah kiri, matanya tertuju pada langit malam yang begitu indah, bulan sabit memancarkan aura keindahan. Angin sepoi-sepoi membuat malam itu berkesan baik bagi Vendrik yang terkenal narsis. 


Sementara itu aku duduk menatap ponsel yang sejak tadi ku genggam. "Vendrik dimana? Sudah jam sepuluh malam dia belum juga pulang!" batinku.


Tiba-tiba terdengar suara aneh datang dari arah luar. Aku bergegas keluar memastikan suara apa yang begitu keras. Terlihat Sarah mengendap-endap keluar. Aku pun menyusul secara diam-diam.

__ADS_1


"Bos tenang aja, rencana ini akan berjalan lancar. Anak saya sudah berhasil membuat anak itu kritis." Dengan senyum licik. 


"Apa yang dibicarakan wanita ini?" batinku penasaran mencuri pembicaraan dari balik dinding. 


"Besok saya akan ke rumah sakit memastikan anak itu!" ujar Sarah kembali tersenyum. 


"Ap-apa, siapa yang ingin dia temu dirumah sakit!" gumamku penasaran. 


Setelah menelpon Sarah beranjak masuk kedalam rumah, segera ku pergi meninggalkan tempat itu dengan rasa penasaran. Hingga tangan dingin memeluk pinggangku. Dengan refleks tak terduga aku justru membantingnya. 


Bruk… 


Suara hantam tubuh yang terkapar di lantai. "Argh …!" jeritnya. 


"Ini aku Ruhi, suami mu!" desis Vendrik menahan sakit. 


"Ve …. Vendrik!" ucapku terkejut. Lalu menghampirinya. 


"Sepertinya tubuhku terkena patah tulang!" ujarnya. Mendengar hal tersebut tentu membuat ku panik. 

__ADS_1


"Maaf, habisnya kamu ngagetin aku," ujarku memapah tubuhnya. Lalu membawa ia ke kamar. 


Melihat wajah khawatir, ia justru tertawa membuat ku semakin bingung. "Kamu terlihat lucu, perasaan sakit akibat bantinganmu menbuat tubuhku sehat kembali!" ucapnya mantap ku. 


Tatapan hangat membuat jantungku berdetak semakin cepat, lekas ku melepas tangan ku dari pinggangnya. 


"Aw, apa kamu ingin melepas ku seperti ini, tubuhku sedang terluka loh, dan aku ingin mandi," ujarnya membuat ekspresi manja padaku. 


"Kamu mandi aja, apa hubungannya sama aku, lagian tubuhmu tak apa-apa kan?" gerutuku menjauh. 


Dengan senyum menggoda Vendrik mendekat membisikan hal-hal mesum di telingaku. Membuat diriku berteriak manja. "Dasar mesum, kamu mandi saja!" 


Teriak ku keluar dari kamar, dengan cepat tangannya meraihku. "Jangan pergi!" ucapnya manja. 


Entah kenapa dua kata itu membuat jantung semakin berdetak kencang, mata hangat yang menetap ku, membuat ku tenggelam dari kenestapaan. o


Beberapa menit setelah mandi, kami berdua duduk di pinggir ranjang. Malam ini terasa panas. Tubuhku berkeringat saat Vendrik perlahan-lahan menggeser tubuhnya mendekatiku. Telapak tangan besar menggenggam erat, bisikan kerinduan terlihat jelas pada mata pria itu. 


"Ruhi, apa kamu bisa bersama ku malam ini?" bisiknya. Membuat telinga ku memerah. 

__ADS_1


Tanpa sadar aku mendekati wajahnya mencoba untuk mengambil inisiatif menciumnya. Vendrik membalasnya dengan penuh gairah. Seolah-olah ia sudah menahan sejak lama.


Bersambung....


__ADS_2