Terjerat Pernikahan Dengan Pria Narsis

Terjerat Pernikahan Dengan Pria Narsis
Bab 18: Selamat


__ADS_3

Setelah mandi aku keluar kamar, sesuai perintah ibu, aku berdandan seadanya karena diriku memang bukanlah wanita yang suka berdandan berlebihan. 


Saat memasuki ruang tamu, terlihat Vendrik duduk di sofa bersama dua orang tua dan gadis muda di sampingnya. Vendrik yang melihat ku berdiri bergegas bangun menghampiri. 


"Mah, Pah, lihat anak itu, dia mirip sekali dengan Kak Vendrik!" ujar gadis itu terbangun mendekati Ayaan yang tengah berdiri di samping ku. 


"Hoho, benar Anak ini mirip sekali dengan mu Ven, apa dia anakmu?" tanya pria paruh baya pada putranya. 


"Maaf, dia bukan ayah dari anak ku!" selaku dengan tegas. Suasana menjadi canggung saat diriku mengatakan hal tersebut. 


"Khem, bisa kita mulai?" ujar ibu mendehem.


Mataku mulai menyipit menganalisa maksud ibu. "Bu, maksudnya apa?" bisikku heran. 


Ibu melangkah maju, tanpa menjawab pertanyaan ku. Rasa gugup tak keruan membuat tanganku berkeringat dingin. 

__ADS_1


"Maksud kedatangan kami, saya ingin melamar Aruhi Khansa, sebagai menantu!" sahut wanita paruh baya.


Diriku mulai paham, tanpa banyak bertanya apapun, aku menganggukan kepala berisyarat pada ibu, bahwa aku setuju dengan lamaran ini. Dengan nafas panjang ibu menjawab sesuai dengan apa yang aku pikirkan karena beliau sangat peka terhadap ku. 


Setelah mendengar keputusan ku, mereka terlihat lega, sedangkan diriku masih heran menatap keluarga Vendrik yang terlihat santai tanpa mempertanyakan anak yang berdiri di samping ku. Bahkan mereka tak mempertanyakan siapa ayahnya seolah-olah mereka paham. 


"Ruhi, kenapa kamu bengong disitu?" ujarnya padaku. 


"Ouh, aku tau kamu terharu melihat aku bawa keluarga ku." Balesnya bisik-bisik padaku. Dengan wajah merah muda, ku injak kakinya dengan kuat, hingga ia memekik sakit. 


"Ada apa Ven?" ucap ibu pada Vendrik. 


"Astaga kamu keterlaluan sekali padaku, ntar kalau patah nikahnya di undur!" Bisiknya kembali. 


"Week …, bodo amat!" 

__ADS_1


Langkahku pun cepat menuju kursi, Vendrik tersenyum melihat tingkahku. Beberapa jam kemudian. Kedua keluarga kami sudah sepakat menentukan hari pernikahan, terlihat wajah bahagia yang tak pernah ditunjukkan pada siapapun ia tunjukan padaku. 


Keesokan paginya. Vendrik datang ke toko membawa permen coklat dan boneka dino yang harganya lumayan mahal. Seringkali ku menolak pemberiannya namun ia sangkal sebagai hadiah untuk Ayaan. 


Wajah Ayaan yang dulu terlihat suram kini memancarkan senyum manis di pipinya. Dia tak lagi merasa kesepian. Tibalah saat hari pernikahan kami di gelar, pernikahan ku dengan Vendrik cukup mewah, tak ada masalah apapun dalam acar tersebut. 


Aku melihat Nathan duduk di antara tamu yang hadir, ia menatapku sendu melihat pujaan hatinya duduk bersanding dengan pria lain. Diriku bisa merasakan sorot mata tajam yang siap menerkam kami, namun saat kembali ku tatap Nathan, mata tajam yang menyorot berubah sendu saat kembali ku tatap ia seolah-olah terpencar rasa sakit. 


Acar akad nikah sudah selesai, kini aku dan Vendrik sudah resmi menjadi pasangan suami istri di mata hukum. Ayaan kini mempunyai nama belakang milik Vendrik. Pria itu menyiapkan rumah mewah berlantaikan marmer. 


"Ayaan, apa kamu menyukainya?" tanya ia pada anak laki-laki ku. 


Dengan tanggap Ayaan menjawab dengan khas cadelnya. Terlihat keluarga lengkap yang selama ini Ayaan angen-angen kan. 


"Aruhi, apa yang kamu bicarakan waktu itu?" tanya ia padaku. 

__ADS_1


"Ouh, aku ingin memberitahukan syarat yang ingin aku ajukan padamu." Jawabku padanya yang tengah penasaran sejak tadi. 


Bersambung.....


__ADS_2