Terjerat Pernikahan Dengan Pria Narsis

Terjerat Pernikahan Dengan Pria Narsis
Bab 50: Saeson 2: Bukan Kacung


__ADS_3

 Melihat gadis itu menangis tentu tak menggerakan hati pemuda tersebut. Ayaan memiliki sifat sedikit bersalju karena kehilangan mamanya, tapi ia juga seorang pemuda buruk dalam mengencani gadis. 


Entah dari mana pemuda tampan ini belajar cara menyakiti gadis? Yang jelas kebiasaan buruk itu akan menuai akhir buruk. Saat penolakan yang tak mengenakan, seseorang telah mendengar pembicaraan mereka berdua. 


"Udah dong jangan nangis! Aku tuh nggak suka sama kamu, masa iya aku paksain!" tegas pemuda itu menatapnya. 


"Terus kenapa kamu perhatian sama aku,  kalau kamu nggak suka?" tanya gadis bernama Anya. 


Ternyata pendekatannya dengan para gadis tentu membuat mereka semua salah paham. "Awalnya gue cuma main-main doang, lah lu malah baper!" ucap Ayaan dengan senyum ujung bibir. 


Klang… 


Suara benda seperti kaleng membuat mereka menengok. Pemuda itu lekas meninggalkan Anya, ia bahkan tak mengucap sepatah kata sedikitpun.


Ayaan mencari asal suara itu namun ia tak dapat menemukannya. Lalu pemuda itu kembali kerumah. 


Keesokan harinya di sebuah sekolah menengah, Ayaan turun dari roda empat yang begitu mewah seperti sport. Saat turun pun ia langsung disambut oleh kerumunan gadis-gadis, membuat mata pemuda lain iri melihat kekayaan dan ketampanannya. 


"Liat nggak kacung Ayaan!" hardik pemuda bernama Radit. 

__ADS_1


Radit tak bisa mengganggu Ayaan, ia akhirnya melampiaskannya pada Kiano, ekspresi pemuda itu kala mendengar hardikan orang lain membuat ia kebal. Justru ia adalah pemudai julukan tujuh kulkas, Kiano lebih bersalju dari pada Ayaan yang kini menjadi saudara sambungnya. 


Mendengar hal tersebut tentu tak membuat Ayaan diam, ia menghampiri para pengganggu, lalu menghajar Radit tepat di depan guru yang baru saja datang. 


"Ngomong apa lu tadi? Bicara yang benar!" ucap Ayaan melayangkan tiga pukulan pada Radit. 


"Ayaan, udah biarin aja!" ucap Kiano melerai mereka. 


"Nggak bisa dibiarin gitu aja mulut mereka! gue sebagai saudara lu nggak terima lu di gini, Ki!" ucap Ayaan emosi. 


"Ada apa ini ribut-ribut, ini masih pagi udah bikin ulah!" sergah seorang wanita yang terlihat guru mereka. 


Setelah perkelahian itu semua siswa yang menyaksikannya kembali bubar. "Ini sudah yang keberapa kali kalian bersikap seperti ini!" Tegur guru mereka. 


Dengan wajah tak peduli tentu membuat Ayaan sedikit santai, karena ia berpikir apa yang ia lakukan bukti pembelaan terhadap saudaranya. Sedangkan Radit terus saja berkelit. 


"Bu, saya tidak melakukan apapun, dia saja yang agresif memukul saya!" bela Radit. 


"Baiklah-baiklah, kalian berdua bersihkan kelas setelah selesai!" perintah guru itu tanpa mempedulikan pembelaan Radit. Karena ia paham bahwa yang bersalah tentu Radit. 

__ADS_1


"Tapi Bu, saya itu korban, masa iya disuruh bersihin kelas!" ucap Radit tak terima. 


Keputusan itu sudah dibulatkan, dan mereka berdua meninggalkan ruang guru. Kiano menunggu di luar atas perintah guru mereka. 


Sementara itu Vendrik mengajak Gisella ke sebuah bioskop, mereka berjalan bergandengan tangan seperti anak muda. Terlihat senyum malu-malu dari Vendrik, kala tangannya menggenggam erat milik Gisella. 


Setelah menonton bioskop mereka kembali ke mobil. "Aruhi aku ingin mengatakan hal ini padamu!" ujar Vendrik padaku serius.


"Hal apa?" jawabku penasaran. 


"Waktu itu, ketika ibumu tau kamu hilang dalam insiden penculikan beliau menyusul, dan mengalami kecelakaan!" ucap Vendrik sendu. Membuat ku terkejut.


"Apa kecelakaan?!" ujarku dengan mata terbelalak lebar. 


"Ya, setelah kecelakaan, beliau terus saja menangis!" ucap Vendrik kembali. 


Setelah menceritakan semua itu, tentu membuatku merasa bersalah, karena ibu yang terlalu khawatir harus merelakan dua kaki dan matanya untukku. Karena diriku lah beliau melalui hal sulit.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2