Terjerat Pernikahan Dengan Pria Narsis

Terjerat Pernikahan Dengan Pria Narsis
Bab 30: Musuh Dalam Selimut


__ADS_3

 Apa yang kutemukan di tas Kiano segera ku diskusikan pada Vendrik. Kami bersepakat menyelidiki apa tujuan ibu dan anak itu masuk kedalaman kediaman kami.


Di Tk tempat Ayaan bersekolah, Vendrik memutuskan memasukan Kiano  ditempat Ayaan bersekolah. Lalu menyelipkan beberapa alat pelacak pada Kiano. Semua sesuai dengan rencana. 


"Ven, aku akan ke toko ibu?" ujarku menelpon Vendrik.


"Iya, kamu hati-hati, kamu nggak usah khawatir, biar aku aja yang mantau mereka di perusahaan," ucap Vendrik menenangkan kegelisahan ku. 


"Makasih ya Ven," ucapku menutup telepon. 


Sesampainya di toko aku melihat Nathan dan ibu. "Hay, Nat?" sapaku. 


"Hay juga, Ruhi!" sapanya kembali. 


"Pagi-pagi begini, apa yang kamu inginkan?" tanyaku heran. 


"Nggak ada, aku cuma mampir aja sih. Oh, ya gimana suami kamu?" ucapnya penasaran. 


"Ha, Nak Vendrik kenapa Ruhi?" sergah ibu menghampiriku. 

__ADS_1


"Vendrik habis kecelakaan Buk!" ujarku mengambil segelas kopi. 


"Apa! Sejak kapan, kenapa ibu nggak tau?" tanya Ibu khawatir. 


"Aku belum sempat ngasih tau ibu," ucapku lirih. 


"Terus gimana keluarga Vendrik? Apa mereka tau?" tanya ibu mengernyitkan dahi. 


"Aruhi juga nggak ngabarin mereka," ucapku perlahan-lahan. 


Dengan hela nafas ibu memberi semangat untukku. Nathan yang tengah duduk hanya menyaksikan kekhawatiran ibu ku pada menantunya. "O,ya Ruhi kamu temenin Nathan bentar ya, ibu ke pasar dulu, sekalian jaga toko, sementara kamu jemput Ayaan pulang sekolah!" ujar ibu keluar dari toko. 


"Nat, makasih ya, waktu itu kamu udah nolongin aku," ucapku mantapnya. 


"Ya gak papa, kita kan masih berteman, wajar aku membantumu," ucapnya tersenyum.


"Ya udah aku pamit dulu!" ujar Nathan bergegas bangun dari duduknya. Kuperhatikan kembali penampilan Nathan dia seperti orang yang berbeda. Dulu saat Nathan datang ke rumahku bertamu dia menggunakan motor scoopy. 


"Mobilnya terlihat mewah," ujarku menatap punggung Nathan yang hampir tenggelam masuk ke dalam roda empat, yang terparkir di depan toko ku. 

__ADS_1


Suara sirine darurat yang dipasang di ponsel ku mengagetkan ku.  Lekas ku berlari menuju ponsel yang masih berada di dalam tas. Pelacak yang terpasang di tas Kiano aktif. Aku langsung menelpon Vendrik. 


"Ven, pelacaknya aktif!" ucapku intens. 


"Ya aku tau, kita akan tau kemana perginya bocah tengil itu!" ujar Vendrik tertawa kecil. 


"Tapi Ayaan kan bersama Kiano, bagaimana kalau Kiano melakukan tindakan kriminal pada Ayaan!" ucap ku terkejut kala mengingat sebilah pisau yang berada di tasnya. 


"Kamu nggak usah panik, Pak Arya dan Asisten Neol sudah ada di sekitar Ayaan," ujarnya menengakan ku yang panik. 


Semua rencana yang tersusun rapi selalu tak berjalan baik, meskipun tingkat kewaspadaan tinggi, akan tetap kecolongan juga. Begitulah yang cocok untuk saat ini. 


Semua anak bergegas keluar dari gerbang, bu Melatih salah satu wali yang sangat memperhatikan Ayaan. Ia tak sengaja melihat Ayaan terkapar di lantai dengan darah di sekujur tubuhnya. Membuat bu Melatih berteriak histeris memanggil beberapa penjaga. 


Firasat buruk mulai datang padaku, suara ponsel mengagetkan lamunanku. "Iya halo, saya sendiri?" ujarku. 


Mendengar kabar buruk tentang Ayaan membuat ku terkejut setengah mati, tangisan ku pecah saat tahu Ayaan mengalami kecelakaan. Padahal baru sejenak ku hela nafas karena Vendrik menenangkanku. Kini membuat kegelisahan mengusik ragaku. Pikiranku kosong semua yang ku lihat terasa kabur akibat terlalu terkejut. Sayup-sayup nada keras memanggilku, ketika mataku hampir terpejam. 


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2