
Keesokan harinya Vendrik terbangun menatap langit-langit kamar yang berbeda. Pria itu terkejut saat melihat darah berceceran sedikit di sprei putih. Ia bergegas mencari wanita yang bersamanya tadi malam. Namun pria itu tak dapat menemukannya.
Flashback selesai….
Usai menceritakan kisahnya, Vendrik kembali menggenggam tanganku. "Jadi kamu belum menemukan wanita itu?" ungkap ku padanya.
Mereka berdua berpikir kemalangan yang terus terjadi di masalalu adalah sebuah takdir dan penyesalan yang tak ada hentinya. Setelah melontarkan pertanyaan itu Vendrik terdiam, dia berusaha meyakinkan ku bahwa pernikahan ini tidak akan ada orang ketiga.
Mendengar ketulusannya membuat ku sedikit luluh, tatkala mengingat Ayaan yang menginginkan seorang ayah, tentu saja tawaran ini sangat lah menggiurkan.
"Aku akan menerima tawara mu, dengan satu syarat!" ujarku padanya.
"Syarat apa?" tanyanya penasaran padaku.
"Aku akan memberikan syarat itu padamu segera setelah pernikahan kita dimulai," ujarku kembali padanya.
"Baiklah aku akan menerima syarat apapun, asal itu tidak mengarah ke perceraian!" ucap Vendrik dengan penuh percaya diri.
__ADS_1
Mendengar aku setuju, terlihat senyum lebar–nan manis melingkar di bibirnya, seolah-olah pria tersebut sudah menunggu sejak lama keputusan ku. Sejenak matanya melirik jam tangan yang melekat dipergelanganya, kemudian pria itu bangun dari duduknya.
"Maaf Aruhi, ada hal lain yang akan aku kerja'kan!" ujarnya meraih kopi tersebut lalu menyeruputnya.
"Jadwal pernikahan akan kita tetapkan, setelah urusanku selesai." ujarnya kembali.
Aku hanya menganggukan kepalaku tanpa bertanya apapun padanya, diriku masih menatap punggung yang semakin jauh dari balik jendela kaca. Usai Vendrik pergi, seorang pria bertubuh jakung dan kurus, datang menghampiri toko ku. Segera ku keluar menemui pria yang ku kenali itu.
"Nathan, dari mana kamu tau toko ku?" tanya ku penasaran sembari langkah kaki perlahan-lahan.
Rasa tak enak hati lagi-lagi mengusik ku, membuat ku bertanya-tanya kembali tentang kehadiran Nathan yang tiba-tiba saja datang dari hidup ku.
"Apa Nathan melihat Vendrik?" batinku menatap Nathan.
Nathan lagi-lagi mengulurkan tangannya, memegang jemari ku, dia kembali mengungkapkan perasaan yang terpendam padaku. Sejenak ia menghela napas kecil lalu berbicara dengan lembut.
Yeah, Nathan dari dulu sangat gigih dalam berkeinginan, jika belum sempat ia menyampaikan sesuatu pria itu justru semakin penasaran. Pertanyaan sama ia lontarkan padaku, dengan senyum pahit diriku menjawab. "Nathan aku minta maaf, untuk saat ini aku tidak bisa menceritakan apapun padamu."
__ADS_1
"Aku hanya ingin tau selama lima tahun ini kamu kemana, jika memang kamu belum bisa cerita, tapi setidaknya jangan menghindariku," ucap Nathan menatapku sendu.
Mendengar ucapannya membuat diriku semakin diam, perasaan yang pernah timbul, kini sudah ku kubur dalam-dalam karena diriku terlalu egois. Nathan adalah pria baik yang pernah hadir dalam hidupku, dia selalu membantuku saat bapak sakit. Tapi untuk saat ini aku belum berani berkata jujur padanya.
"Ruhi, sampai kapanpun aku akan menunggumu, karena aku menyukaimu, dan aku minta maaf karena lambat mengungkapkannya." sayup-sayup ia mengungkapkan isi hatinya padaku yang kini sudah menerima lamaran pria lain, perasaanku kini bercampur aduk, tapi ku putuskan saat ini, agar rasa sesak di dada sekali menerjang bagaikan ombak menghantam karang dengan keras.
"Nathan, lupakan aku, seperti aku melupakanmu, aku tidak bisa menerima perasaanmu kembali karena saat ini aku sudah menentukan pilihanku!" ujarku kembali menatapnya, mataku kini berkaca-kaca, kristal bening itu hampir terjatuh.
"Pilihan apa yang kamu maksud Aruhi?" ucapnya terkejut.
Dengan dentuman keras menerjang dadaku, sesak, pengap ku rasa, jelas sakit tak berdarah namun bisa melukai insanku, perlahan-lahan kuhela nafas ringan, sambil menatap kembali mata yang menatap ku dengan harapan.
"Aku akan segera menikah."
Mendengar ucapanku tentu saja membuat Nathan tak bisa menahan emosi dan rasa kecewa, terlihat jelas di matanya rasa sesal dan sakit, yang hanya bisa kulakukan menundukan kepala tanpa berbicara apapun, ku tahan air mata yang sempat terjatuh membasahi pipiku yang terkena polesan bedak.
Bersambung....
__ADS_1