
"Ruhi, apa yang terjadi?" tanya Nathan padaku, sembari memeluk ku erat.
Aku tak dapat berbicara banyak hal, yang bisa ku lakukan hanya diam tanpa kata, hanya tangis yang mampu ku keluarkan. "Ya udah, kalau kamu nggak bisa cerita saat ini, tolong istirahat," ujarnya memegang kedua pipiku.
Hari itu aku tak pulang ke rumah Vendrik ataupun ke rumah ibu, dalam pelarian tanpa arah menuntunku ke dalam kesepian. Momen bersama Vendrik terus terngiang di ingatanku. Suara gemuruh terdengar sangat menakutkan, membuat ku tak bisa memejamkan mata.
Di sisi lain di kediaman Aruhi, terlihat Vendrik berdiri tegak di bawah guyuran hujan. Air mata yang membasahi pipinya bercampur pasti diantar air yang turun. Vendrik terlihat kecewa pada dirinya saat mengingat ucapan Farhan di kafe.
Flashback..
Setelah Farhan menghubunginya, Vendrik lekas menuju alamat restoran yang Farhan kirim. Terlihat Farhan duduk disamping jendela kafe. Vendrik yang melihatnya segera menghampirinya.
"Ada apa?" tanya Vendrik kesal.
"Lu duduk dulu," segera mempersilakan Vendrik kursi.
"Lu mau ngomong apa, langsung aja, gue nggak punya waktu!" ucap Vendrik mengernyitkan dahi.
"Pertama-tama gue minta maaf sama lu, dan waktu itu gue benar-benar kesal sama lu yang seenaknya menghina fisik gue!" ujar Farhan jujur.
__ADS_1
Brak…
Suara meja yang di hentakan kasar, membuat para pelanggan menengok. "Gue nggak akan pernah maafin lo, gara-gara lo gue jadi pria paling bajingan saat ini, seharusnya gue nolak saat lu, Dion dan Andi ingin ngerayain pesta di bar!" bentak Vendrik sedikit emosi.
"Iya gue tau, gue nggak pantas di maafin, tapi gue kesel karena sifat narsis lu, lu nggak sadar nyakitin gue, hanya karena lu bercanda!" bentak Farhan kembali.
"Cukup, kalau lu cuma ngomong nggak mutu, gue cabut, masih ada yang harus diselesaikan daripada gue berdebat sama lo!" ucap Vendrik menghela napas.
"Tunggu! lo masih inget pertanyaan sama yang dilontarkan ke gue?" sergah Farhan menahan Vendrik.
"Ya, terus?" tanya Vendrik penasaran.
"Benar gue boking PSK buat lu, tapi saat gue di kamar lain, tuh PSK tiba-tiba mengalami kecelakan saat dia menuju hotel!" Jawab Farhan.
"Farhan jawab? wanita yang bersama gue siapa?!" tanya Vendrik mengulang pertanyaan sama. Kini wajah Vendrik terlihat merah padam, amarah memuncak ia berusaha tahan, karena Vendrik masih memikirkan perusahaannya. Ia takut jika scandal perkelahiannya terekspos di depan media. Pria itu sudah cukup dipusingkan dengan skandalnya di masa lalu.
"G-gue nggak tau!" ujar Farhan takut tatkala melihat wajah Vendrik yang sudah tak terkendali. Karena ia baru pertama kali melihat Vendrik sebegitu emosinya.
"Ta-tapi gue ngasih cek ke wanita itu, dan dia cukup pintar menggunakan uang yang gue kasih!" ucap Farhan tersenyum. Hingga satu pukulan tepat mendarat di wajahnya.
__ADS_1
Para pelanggan yang menyaksikan adegan tersebut segera melerai mereka. "Dasar gila, berani-beraninya lu tersenyum menjijikan setelah hal kotor yang lu lakuin?!" pekik Vendrik emosi, membuat urat di lehernya keluar.
"Lo nggak akan rugi, lagian wanita itu sendiri yang datang ke kamar lu!" ucap Farhan.
"Sialan, tutup mulutmu, lepasin gue, bajingan ini harus gue hajar biar sadar?!" pekik Vendrik memberontak di tengah kerumunan yang melerai mereka. Hingga para penjaga datang.
Flashback selesai..
Vendrik masih berdiri di gerbang pintu rumah Aruhi. Dengan hujan yang mengguyur tak membuat Vendrik bergeming. Hingga buk Ambar keluar membawa dua payung.
"Nak Vendrik? Kenapa kamu disini sendirian?" tanya bu Ambar bingung.
Membuat Vendrik terkejut. "Jadi Aruhi belum ngasih tau ibunya!" batin Vendrik. Menatap bu Ambar.
"Kenapa kamu bisa hujan-hujanan, nanti badan kamu sakit. Aruhi diman?" tanya bu Ambar kembali melihat sekeliling.
Mendengar Aruhi tak langsung datang ke rumah ibunya, membuat Vendrik makin tercengang. "Loh, Arhui nggak di sini ya, Buk?"
"Nggak ada, yang didalam cuma ada Ayaan!" jawab bu Ambar.
__ADS_1
"Aku titip Ayaan ya, Bu!" ucap Vendrik berlari meninggalkan bu Ambar.
Bersambung....