Terjerat Pernikahan Dengan Pria Narsis

Terjerat Pernikahan Dengan Pria Narsis
Bab 31: Rasa Penasaran


__ADS_3

 "Ruhi! Ruhi!" panggil ibu padaku yang tengah berbaring. Ternyata kabar buruk membuat ku pingsan hingga ibu panik.


"Apa yang terjadi, Nak?" tanya ibu penasaran sekaligus khawatir. 


"Ayaan Buk, aku harus ke rumah sakit, ponselku!" ujarku panik. Semua ucapan yang dilontarkan justru membuat ibu bingung.


"Ruhi, sebenarnya apa yang terjadi, kenapa kamu terlihat khawatir? Dan ada apa dengan Ayaan?" tanya ibu padaku. 


Beberapa menit kemudian aku menemukan ponselku, segera ku menelepon Vendrik. "Halo, Ven bagaimana dengan Ayaan?" ujarku mengabaikan pertanyaan ibu. 


"Aruhi, sebaiknya kamu ke rumah sakit. Saat ini Ayaan mengalami pendarahan di bagian otak!" suara Vendrik terdengar lirih, membuat ku panik. Tanpa basa basi apa pun lekas ku beranjak dari kasur. Ibu yang beberapa kali bertanya tak sempat ku hiraukan. 


"Tunggu Ruhi, Ayaan kenapa di rumah sakit?!" cegat ibu.


"Sebaiknya kita ke rumah sakit, Buk, di perjalanan akan Aruhi ceritakan!" ucapku mencoba tetap tenang. 


Kami berdua bergegas menuju rumah sakit, beberapa menit kemudian kami berdua akhirnya sampai, di sana aku berlari mencari bangsal anak ku. Beberapa kali aku bertanya pada suster yang tengah berlalu lalang di antara beberapa pasien di sepanjang jalan. 


Kepanikan ku mereda saat pak Arya mencariku. "Nyonya, kamar tuan muda di sebelah barat!" ujar pak Arya menuntun menuju bangsal anakku. 


Di luar bangsal aku melihat Vendrik duduk dengan rasa bersalah. "Ven, bagaimana keadaan Ayaan!" panggil ku sambil menghampirinya. 


"Ayaan masih di ruang operasi!" ucapnya lirih menjatuhkan pandangan padaku. Melihat Vendrik seperti itu, tentu saja aku tak bisa menyalahkannya. Terlihat rasa penyesalan kuat yang tak bisa diucapkan namun masih bisa ku mengerti.

__ADS_1


"Kalian yang sabar, semoga Ayaan cepat membaik!" ucap ibu mencoba menenangkan hati kami. 


Tak lama kemudian dokter dan dua perawat di sampingnya keluar dari ruang UGD. Dengan ekspresi buruk dokter itu perlahan-lahan menyampaikan hasil dari operasi. 


"Maaf Tuan dan Nyonya, pasien mengalami pendarahan cukup berat, sehingga membutuhkan donor darah," ucap dokter menjelaskan hal tersebut. 


"Ambil saja darah saya!" ucap Vendrik tanpa keraguan. 


"Masalahnya darah pasien sangat langka, apa kamu memiliki golongan darah yang sama dengan putramu?" tanya dokter itu. 


Vendrik terdiam, ia tau bahwa Ayaan bukan putranya tentu saja akan sulit mendonorkan darah padanya. "Apa golongan darahnya?" tanya Vendrik. 


"AB negatif," ucap dokter. 


Ibu yang menyadari kemiripan yang kebetulan tak akan terjadi bersama mulai curiga. Beliau bahkan blak-blakkan meminta Vendrik dan Ayaan melakukan tes DNA, mendengar hal tersebut tentu Vendrik bingung. 


"Ven, bisa ibu berbicara padamu nanti setelah pendonoran?" tanya ibu pada Vendrik. 


"Ya," jawab Vendrik, menyusul dokter itu. 


"Bu, apa yang ingin ibu bicarakan pada Vendrik?" tanyaku pada ibu. 


"Ibu hanya ingin memastikan sesuatu!" jawab ibu sembari duduk di kursi. 

__ADS_1


"Memastikan apa Bu?" tanyaku penasaran. 


"memastikan kalau Vendrik adalah ayah cucuku!" ungkap ibu mantap ku. 


"Nggak mungkin! Vendrik sudah memiliki anak, lalu bagaimana bisa Ayaan adalah anaknya!" ujarku duduk membalas tatapan ibu. 


"Ruhi, apa kamu masih belum sadar! Mereka itu sangat mirip, bahkan jika kau sandingkan keduanya siapa saja pasti akan mengatakan hal serupa!" balas ibu kesal padaku. 


"Ya aku akui mereka sangat mirip tapi sifat mereka bertolak belakang!" ucapku yakin. 


"Astaga Nak, hentikan keras kepala mu atau menyangkalnya, sifat seperti apa yang kamu maksud? Apa kamu ingin mengatakan pria yang hidup bersama mu seorang narsistik?" tanya ibu. 


Aku terdiam seribu bahasa. "Nak apa kamu tidak ingin sekali saja mencari tau ayah Ayaan? Ibu tak memaksamu hanya saja cobalah keluar dari masa lalu!" ucap ibu menasehati ku. 


"Tapi Bu untuk apa aku mencari pria yang bahkan aku tak tau wajahnya, lagipula aku sudah memiliki keluarga, jika pun aku bertemu dengan pria itu apa yang harus aku katakan?" 


"Kamu bisa menamparnya!" ledek ibu. 


"Ibu, ini bukan waktu yang tepat untuk bercanda, aku hanya Ayaan dan Ven bahagia. Kalau memang suatu saat aku bertemu pria itu, aku ingin menanyakan banyak padanya!" ujarku berusaha tersenyum. 


"Ibu hargai keputusanmu, tapi ibu sangat penasaran pada Vendrik, firasat ibu jelas mengatakan kalau Ayaan dan Vendrik adalah ayah dan anak!" batin bu Ambar.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2