
Vendrik merawat Gisella dengan talenta, Ayaan dan Ariana melihat perjuangan Ayah mereka menemukan istrinya tentu tak mudah.
Beberapa hari kemudian aku sudah bisa pulang. Di sore hari tepatnya hari kamis. Sherly membereskan baju dan pelengkap ku. .
"Nyonya, apa Tuan Vendrik bisa di percaya?" tanya Maid kesayangan ku.
"Maksud kamu apa, Shsrly?" jawabku bingung.
"Maksud saya, Nyonya baru saja bertemu mereka, begitu pula nona muda, apa tidak masalah kita tinggal bersama mereka?"
"Um …, ucapanmu memang masuk akal, tapi Sherly saya tidak bisa menyewa tempat mewah, bahkan gajimu bulan ini saja saya tak cukup membayarnya. Dengan tawaran dari tuan Vendrik sudah cukup membantu kita saat ini," jelasku pada Sherly yang tengah khawatir.
"Apa Nyonya tak sedikit menaruh curiga!" ujar ia kembali padaku.
"Curiga yang seperti apa?" tanyaku mengernyitkan dahi.
__ADS_1
"Kita tidak tau di negara ini penuh orang jahat, tuan besar saja terlihat baik di luar tapi kasar dan bengis pada Nyonya, siapa tahu orang itu juga memiliki temperamen yang sama. Atau jangan-jangan mereka adalah orang yang dikirim tuan besar untuk memata-matai Nyonya!" ucap sang maid bergelut dengan pikirannya sendiri. .
"Itu tidak mungkin Sherly, dari pada kamu berfikir yang tidak-tidak, bersihkan semuanya karena aku sudah mulai bosan di bangsal ini!" ujarku membantah pikiran buruk Sherly.
Setelah pembicaraan itu, Vendrik tiba-tiba masuk kedalaman mempertanyakan apakah aku sudah selesai bersiap-siap atau tidak. Aku pun bangun dari duduk mengucapkan rasa terima kasih padanya karena telah membantu ku.
Di sepanjang perjalanan mata Vendrik tertuju pada wanita yang tengah duduk di kursi belakang, mata pria itu selalu tertuju pada wanita yang tengah melihat hiruk pikuk perkotaan, lewat jendela mobil.l
"Tuan besar apa yang dimaksud?" gumamnya bingung. Ternyata Vendrik mendengar percakapan mereka. Sang asisten beberapa kali memanggil tuanya yang sedang melamun dan bergumam.
"Oh …, segera tunda rapat satu jam, bilang saja tuan sedang sibuk!" ucap Vendrik melempar ponsel yang bergetar pada asistennya.
"Ini baru tuan ku, dia sudah lama tidak melakukannya, mungkin saja dia ingin bersama nyonya sedikit lebih lama!" batin Neol semringah.
Mereka berlima sampai di kediaman Edwin tempat mereka dulu tinggal bersama. Di depan gerbang terlihat seorang wanita tengah berdiri. Mobil mereka pun berhenti, Vendrik turun dari mobil menghampiri wanita itu.
__ADS_1
Dengan senyum manis nan gemulai ia pun melempar dirinya pada dada Vendrik. Aku yang melihat sikap wanita tersebut justru membuat hatiku resah.
"Ven, apa malam ini kita bisa diner?" kata wanita itu dengan suara centilnya.
"Maaf nona, saya tidak punya waktu, jadi bisakah mobilmu menyingkir!
karena terlalu menghalangi milik saya masuk!" ketus Vendrik dingin. Vendrik pun mendorong wanita itu dengan kasar.
"Ada apa dengan pria ini, waktu di bandara saja dia tak mendorong pelukan ku!" batinnya mantap Vendrik dengan liar, pria itu kembali masuk kedalaman mobil meminta Neol membunyikan klakson dengan keras.
"Apa dia ibunya Aya…?" pertanyaan ku langsung di sergah Vendrik.
"Tidak, wanita itu bukan ibu Ayaan di bukan siapa-siapaku!" sergah Vendrik menegaskan istrinya yang sedang hilang ingatan.
Aku yang mendengar pernyataannya itu tentu membuat ku sedikit lega, entah kenapa perasaan tak keruan kala turun dari mobil. Rumah yang begitu mewah, terasa familiar di mataku, seolah-olah aku merasa dejavu pernah tinggal di tempat ini.
__ADS_1
Bersambung....