Terjerat Pernikahan Dengan Pria Narsis

Terjerat Pernikahan Dengan Pria Narsis
Bab 36: Kecerobohan


__ADS_3

 Perkataan kasar yang keluar dari mulut Vendrik membuat ku terkejut, dengan cepat aku menghampirinya. "Ven, mari kita pergi," ujarku.


Seketika wajah sangar dan galak berubah manis di depanku, seperti hubby yang imut membuat diriku sedikit geli, namun sikap manjanya mampu membuat ku tersenyum. Kami berdua beranjak pergi meninggalkan Sarah yang tengah terkejut, karena sikap Vendrik.


"Ven, apa kamu sudah memindahkan Ayaan?" tanyaku menatapnya. 


"Iya kamu tenang aja, aku udah mindahin anak itu!" ucap Vendrik membuka celana hitam miliknya. 


"Astaga, apa yang kamu lakukan? Kita ini berada di dalam mobil, siapa saja akan melihat kita!" ujarku menyilang kedua tangan lalu menaruhnya di dadaku. 


"Fffhh …, kamu sedang mikir apa sih?" tanya Vendrik menertawakan ku. 


Dengan rasa malu aku pun bergegas memalingkan wajahku. Yeah, sejak pagi pikiran kotor kerap mengusik otakku, karena malam yang ku habiskan bersama Vendrik. Sesaat mata ku mulai meliriknya yang tengah menganti celana yang terkena air. "Kenapa dia tidak menggantinya di kamar saja!" batinku. 


Beberapa menit usai mengganti celana. Vendrik melajukan kecepatan mobilnya. Karena pemantau yang kami lakukan mulai terlihat. Dimana Sarah keluar dari rumah menaiki mobil sedan berwarna hitam. Kami pun mengikutinya bersama bodyguard yang disewa Vendrik.


Tak lama kemudian Sarah sampai ditempat tujuan, ia berhenti di rumah sakit tempat anakku dirawat. "Sepertinya tikus itu sudah memakan umpan!" hardik Vendrik semringah. 

__ADS_1


 Usai membawa jebakan yang sudah kami persiapkan Sarah kembali keluar dari rumah sakit itu, lalu membawanya ke suatu tempat entah berantah, kami berdua kembali mengikutinya. Di sebuah rumah kosong yang letaknya tak jauh dari kota. Terlihat wajah familiar berdiri menyamping menghadap Sarah. 


Perlahan-lahan mataku terus terfokus pada pria itu, benar saja senyum licik yang tergambar di ujung bibir membuat ku terkejut. "Nathan!" ujarku kaget kala melihatnya. 


"Jadi selama ini dia yang menyebabkan kegaduhan pada keluarga kita!" cetus Vendrik. Aku pun sangat-sangat tak menyangka dengan perbuatan Nathan pada keluarga ku. Dengan emosi yang tak tertahankan aku menghampirinya. 


Vendrik mencoba menghentikan ku,  karena situasi saat ini sangatlah berbahaya jika aku menghampirinya. Namun dengan kemarahan memuncak ucapan Vendrik tak lagi ku dengar. Aku justru berlari berteriak memanggil namanya. Vendrik yang melihat ku, ikut menyusul. 


"Nathan …!" teriakku lantang. 


"Lepasin aku!" ujarku mencoba melepas genggaman Vendrik. 


"Apa yang kamu lakukan, kalau kamu kesana mereka akan menahanmu!" geram Vendrik mencoba menghentikan tindakan ku. 


"Aku butuh penjelasan! Kenapa dia melakukan tindakan kriminal pada kita, Ven!" ucapku berkaca-kaca. 


Saat Vendrik lengah diriku justru kembali berlari menuju Nathan yang tengah membawa seorang sandar palsu. Vendrik mengejarku meminta agar diriku tenang. Justru perkataannya membuatku membabi buta datang ke arah Nathan. Sampai Vendrik kehilangan jejakku.

__ADS_1


"Sial! kenapa Aruhi begitu cepat berlari!" celetuk Vendrik mengayunkan tangan kosong pada pohon di sampingnya. 


Brukk.. 


Leherku terasa kaku, seperti terkena hantaman keras. "Ugh, dimana ini?" gumamku bingung. 


Perlahan-lahan diriku mengamati sekeliling, mencoba mencerna situasi yang ku alami. Hingga terdengar suara decak pria dari arah pintu depan. Aku kembali merebahkan tubuhku, berpura-pura pingsan. 


"Bawa pria ini masuk, jangan sampai mereka kabur!" titah pria itu membawa paksa seseorang. 


Lalu pintu itu kembali tertutup. "Aruhi, apa ini kamu!" bisiknya. 


"Ven …, maaf!" ujarku meleburkan pelukan, meskipun tangan ku terikat. 


"Tidak apa-apa Ruhi, asal kamu selamat itu sudah cukup," ucapnya sendu menatapku. 


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2