Terjerat Pernikahan Dengan Pria Narsis

Terjerat Pernikahan Dengan Pria Narsis
Bab 42: Saeson 2: Kejutan


__ADS_3

 Beberapa jam kemudian mereka berdua sampai dirumah. "Lain kali kalau ke bandara, tunggu pak Arya!" ucap Vendrik keluar dari mobil kemudi. 


"Loh kok bahas pak Arya sih, Pah! Pertanyaan ku tadi kenapa nggak dijawab!" cetus Ayaan, menyusul papanya. 


"Tadikan udah papa jawab, lagian papa itu nggak punya waktu cari mama baru buat kamu," ledek Vendrik pada putra semata wayangnya itu. 


Mendengar ucapan papanya tentu membuat pemuda itu merasa lega. Langkah kaki yang terus maju ia kembali mundurkan, satu meter dari tempat putranya berdiri. 


"Kamu bolos ya!" tanya Vendrik menerawang putranya. 


Ayaan dengan senyum sumringah melebarkan kakinya menjauh dari papanya. "Hey Ayaan, nggak bisa gitu dong, kamu nggak boleh bolos, nanti perusahaan papa gimana!" teriak Vendrik menatap punggung putranya. 


"Perusahaan Papa nggak akan kenapa-napa tanpa pewaris kok!" bales putranya yang sudah menjauh. 


"Dasar anak ini, sudah berapa kali dia seperti ini!" gerutu Vendrik menatap visual istrinya yang berada di atas nakas. 


Tok… Tok… Tok

__ADS_1


Suara ketukan pintu terbuka, hingga para pelayan bergegas membukanya, Vendrik duduk dengan tangan diatas dahi, ia merebahkan tubuhnya di atas sofa empuk, menatap langit-langit ruang tamu. 


"Tuan, apa Ayaan sudah pulang?" tanya pemuda itu menghampiri Vendrik. 


"Iya dia sudah diatas, tadi apa Ayaan berulah?" tanya Vendrik penasaran pada anak angkatnya. 


"Tidak Tuan!" jawab Kiano canggung. 


"Iya sudah, saya ke kamar dulu!" ujar Vendrik bangun dari sofa. 


Semenjak kematian Aruhi Vendrik merasa dunianya hancur, tapi putra semata wayangnya adalah cahaya yang membuat kegelapannya perlahan-lahan bersinar. Suara dering handphone membuat langkahnya terhenti kala ia menaiki anak tangga.


"Tuan, saya mempunyai kabar bagus, Nathan William ternyata masih hidup!" ucap sang asisten intens. 


"Apa! Sialan, ternyata dia masih hidup setelah menghancurkan keluarga ku?!" umpat Nathan, rasa lelah yang terpancar kini tersulut emosi. 


"Cari tau, dimana pria itu tinggal!" titah Vendrkk menggenggam ponselnya kasar. 

__ADS_1


*****


Pov Aruhi. 


  Pesisir pantai yang begitu indah, terasa hampa. Aku sudah menikah selama sepuluh tahun, tapi kenapa hatiku tak kunjung menerima pria yang kini menjadi suamiku? Setiap kali aku menginjak pasir putih tanpa alas, perlahan-lahan mengingatkan ku pada seseorang yang samar-samar wajahnya. 


"Nyonya! Ada kabar bahagia untuk mu!" panggil maid menghampiri ku. 


"Kabar apa Sherlyn?" tanyaku penasaran. 


"Lukisan yang anda buat, akan dipamerkan kembali di tempat galeri seni yang terkenal di seluruh asia!" ucap Sherlyn antusias padaku. 


"Apa! Benarkah?" ucapku terkejut bahagia. Pelukan bahagia ku layangkan pada maidku. Entah kenapa saat mendengar kata Asia hati ku terasa bergetar hebat, seolah-olah akan ada hal yang menantiku.


Sudah genap sepuluh tahun aku tinggal di roma, wajahku tetaplah orang Asia meskipun beberapa tahun pun aku tinggal. Aku bahkan tidak ingat siapa ibuku, yang hanya ku tahu namaku adalah Gisella Trovela. Wanita berkembangsaang prancis namun lahir di Asia. Suamiku bernama Nathan Willem, hubungan ku dengannya tidaklah seperti yang diberitakan di Roma.


Dengan wajah gembira aku mulai bersenandung, kala mengingat lukisan yang dibuat akan dikenal di seluruh Asia. Aku pun bergegas memberitahukan kabar bahagia ini kepada suamiku, namun ia lebih dulu memberikanku kejutan yang tak terduga. Sesaat memasuki kamar utama, aku di kejutan penampakan tak senonoh dari suamiku.

__ADS_1


"Nathan …! Apa yang kamu lakukan dengan wanita itu?!" teriak ku terkejut.


Bersambung....


__ADS_2