
Sepuluh tahun kemudian.
*********
Di sebuah sekolah menengah pertama, terlihat seorang pemuda menggandeng beberapa gadis di samping kanan dan kiri tangannya.
"Ayaan Zubair!" panggil pemuda yang tak jauh berbeda dari usianya.
"Ya Ki, ada apa?" tanya Ayaan melepaskan gandengnya.
"Ih, Ayaan …, katanya kamu mau ke kantin bareng kita!" manja gadis berambut boba pada pemuda tersebut.
"Bentar ya sayang, gue ke Kiano dulu?" ujarnya mencubit dagu gadis itu dengan senyum genit.
Pemuda itu beranjak menuju sohibnya. "Ada apa sih lu mangil?" tanya Ayaan kesal pada sohibnya.
"Ini sudah keberapa, lu mau ngoleksi cewek sampai kapan, Yan?" bisik Kiano pada sohibnya.
"Berisik lo, gue cuma main-main nggak lebih, Btw papa gue bilang apa sama lu?" tanya Ayaan mengalihkan topik pembicaraan.
"Ya nggak ada sih, pak Arya bilang lu jemput beliau nanti di bandara!" ujar Kiano mengambil buku yang berada di dalam tas.
__ADS_1
"Emang jam berapa?" tanya Ayaan kembali.
"Uhm …, jam satu siang!" jawab Kiano.
"Eh buset! ini sudah jam satu siang, gue cabut ke bandara dulu ya, lagian di kelas gue jamkos!" ucap Ayaan tergesa-gesa mengambil tas yang dibawa sohibnya.
Kiano hanya terdiam menatap jauh punggung sahabatnya tersebut. Sejenak ia terbangun mengingat pak Arya selaku sopirnya, baru saja mengirim pesan, bahwa pak Arya sedang pergi mengurus SIM yang letaknya tak jauh dari sekolah mereka.
"Loh, pak Arya kemana? Ini mobil ngapain parkir di luar gerbang?" tanya pemuda itu heran.
Dengan senyum jahil, ia kembali melancarkan aksinya. Seperti biasa Ayaan mengambil kunci serep yang sering dibawa dari rumah. Kendaraan roda empat yang berbentuk sedan pun ia bawa laju dengan kecepatan tinggi. Ia tahu betul bahwa mengendarai mobil dengan usia yang terbilang cukup muda, adalah pelanggaran yang tak bisa ditoleransi bagi pemuda SMP seperti Ayaan. Karena ia cukup kaya, polisi pun enggan menilangnya.
Pemuda itu sampai dengan selamat di bandara dengan wajah kepuasan di bibirnya. Ia mulai mencari papanya di berbagai lobi penerbangan. Hingga pemuda itu tak sengaja menabrak seorang gadis di depanya.
"Kamu buta ya! Sorry-sorry, ini tas saya sudah jatuh gini malah di tinggalin, dasar songong!" gerutu gadis itu.
"Apa lu bilang! gue udah minta maaf gini masih dikatain songong, belagu amat lu jadi cewek!" balas Ayaan kesal memundurkan langkahnya.
"Apa! belagu, enak aja, saya ini seorang siswa pintar di lombok, jadi saya bukan orang belagu!" tegas gadis tersebut, menatap tajam pemuda itu.
"Fuhhh …, gitu aja lu bangga, norak!" ejek pemuda itu dengan senyum ujung bibir.
__ADS_1
"Dah lah males gue debat sama cewek norak bin kampungan ke lu!" sinis Ayaan meninggalkan gadis itu.
"Eh tunggu, ini koper saya di bangunin ke, malah pergi!" gerutu gadis tersebut menatap punggung pemuda yang menabraknya.
"Aku tandai! awas aja kalau ketemu ku kerjain!" cetus gadis itu sembari membenarkan posisi koper miliknya.
Beberapa jam kemudian Ayaan bertemu dengan papanya. Vendrik keluar dari bandara dengan kacamata hitam yang melingkar di mata. Vendrik yang melihat anaknya berdiri menyandar di mobil langsung bergegas menuju Ayaan, lalu meleburkan pelukan pada anaknya.
Pesona Vendrik tak lekang dimakan waktu, ia justru semakin tampan seperti hot deddy. Seorang wanita menghampiri mereka berdua.
"Hay, Ven apa kabar?" sapa wanita itu.
"Pah siapa dia?" tanya Ayaan penasaran.
"Kamu pasti Ayaan?" sergah wanita itu mengulurkan tangannya.
Ayaan dengan wajah bad mood mengabaikan wanita itu, hingga wanita tersebut merasa canggung. Sepertinya Ayaan tau betul papanya sudah lama kesepian menanti ibunya yang sudah tiada.
Wanita yang hadir dalam hidup Vendrik adalah wanita yang selama ini menjadi sahabatnya sekaligus orang yang menemaninya. Meskipun ada sosok wanita di dalam hidupnya, namun tak dapat menggantikan posisi Aruhi di hatinya. Mereka pun bergegas masuk kedalam mobil lalu meninggalkan wanita itu.
"Pah, wanita itu siapa?" tanya Ayaan penasaran.
__ADS_1
"Bukan siapa-siapa!" jawab Vendrik santai.
Bersambung....