Terjerat Pernikahan Dengan Pria Narsis

Terjerat Pernikahan Dengan Pria Narsis
Bab 44: Saeson 2: Pelarian


__ADS_3

Aku membawa gadis kecilku ke kamarnya, di sana kami berdua duduk di tepi ranjang. Ariana menatapku dengan kasihan. "Ma, apa papa menyakitimu?" tanya Ari dengan polos padaku. 


Air mata yang tak bisa kubendung ku tumpahkan kembali, pada gadis yang baru berusia sepuluh tahun itu. Ari cukup cerdas memahami perasaan orang lain apalagi ia kerap kali melihat wajah tak bahagiaku.


"Ari, apa kamu mau ikut ke Asia bersama Mama?" tanyaku sambil menyeka air mataku.


"Ari akan ikut, kemana pun Mama membawa Ari, tapi kenapa kita ke Asia, Mah?" tanya Ari bingung padaku. 


"Mama mendapatkan tawaran pekerjaan di Asia, tapi Ari. Kita bertiga akan pergi tanpa papa!" ujarku menjelaskan pada Ari. Dengan cepat ia menganggukkan kepalanya. 


Keesokan paginya, saat Nathan pergi ke kantor pusat, aku kabur dari mansion yang menjeratku bersama pelayan setiaku dan anak gadisku. Di tengah pelarian yang begitu dramatis, kami bertiga hampir tertangkap oleh penjaga di depan gerbang. Beruntungnya Sherly memberi suntikan obat bius pada para penjaga saat mereka lengah. 


Di dalam pelarian ku, aku mempersiapkan banyak hal agar Nathan tak dapat menemukan ku. Beberapa jam kemudian kami akhirnya tiba di bandara roma. Kami langsung menaiki pesawat menuju Asia dengan penerbangan pulau Sage. 


*****


Bandara Internasional Pulau Sage. Terlihat Vendrik menunggu di lobi penerbangan. Suara senyap ponsel dari sakunya.

__ADS_1


"Papa dimana sekarang!" teriak pemuda dengan suara ngebas. 


"Bandara, emang ada apa, Nak?" tanya pria dengan setelan jas lengkap di tubuhnya. 


"Maaf menyela. Tuan Delona Verix membatalkan janji temu karena istrinya sedang sakit," ucap asisten Neol membukukan badan pada tuannya. Dengan satu jari Vendrik mengibaskannya hingga asisten Neol undur diri. 


"Apa papa mendengarkan ku? Besok adalah hari peringatan ibu!" ujar Ayaan mengingatkan papanya. 


"Ya, papa tau! Papa tutup telepon dulu ya, ingat jangan lupa belajar," ucap Vendrik memperingati putra kesayangannya. 


"Sepertinya iya tuan, apa disini ada kantor polisi?" tanya kembali gadis itu menggunakan bahasa prancis. Mendengar hal tersebut Vendrik terkejut, bagaimana bisa gadis ini mengerti bahasa indonesia, sedangkan gadis itu berbicara menggunakan bahasa prancis? 


Vendrik duduk ala lesehan di luar bandara bersama gadis itu. "Dimana ayahmu? Kenapa kamu disini?" ucap Vendrik melayangkan beberapa pertanyaan. 


"Aria …!" teriak seorang wanita memanggil gadis yang tengah duduk bersama pria asing. 


"Saya permisi dulu tuan, mama saya sudah memanggil," bungkuk gadis kecil dengan santun. 

__ADS_1


Vendrik membalas senyuman itu dengan hangat. "Anak yang cerdas!" gumam Vendrk menatap langkah kaki gadis kecil itu, sejenak ia melihat bayangan Aruhi. Pria tersebut kembali beranjak memasuki roda empat yang terparkir.


Keesokan harinya di sebuah pemakaman, terlihat dua orang sedang menyalakan dupa penghormatan di dalam ruangan itu, air mata terus mengalir bagai sungai di antara pipi dan kelopak matanya. Beberapa menit kemudian dua orang itu pun keluar dari ruangan ini.


Suara senyap ponsel memindahkan posisi dirinya. "Papa angkat telepon dulu, kamu duluan aja!"


"Iya, Pah," jawab Ayaan. Dengan senyum ujung bibir pemuda tersebut beranjak pergi.


"Kakak tampan, aku sedang memperhatikanmu!" ucap gadis itu mengeluarkan permen, lalu memberikannya pada pemuda yang tengah berduka. 


"Memperhatikan apa?" tanya pemuda itu bingung. 


"Kata mamaku, anak yang menangis bukan berarti dia lemah, melainkan dia sangat merindukan seseorang!" 


Mendengar nasihat gadis kecil itu, membuat Ayaan teringat pada ibunya saat ia masih hidup. "Apa mamamu sering mengalami hal serupa?" tanya Ayaan kembali. 


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2