
Vendrik kembali duduk di samping ranjang mengamati diriku yang mencari kertas dan pulpen. Dengan heran ia bertanya padaku.
"Aruhi. Syarat yang kamu maksud apa? Kenapa kamu mengambil kertas dan bolpoin?"
"Biar mudah kamu mengingat syarat ini," ucapku mulai menulis kertas kosong dengan tinta berwarna hitam.
Terlihat Vendrik masih mengamati apa yang kutulis di kertas ini. Beberapa menit kemudian aku kembali menyerahkan kertas yang ditulis pada Vendrik. Dia kembali membaca kertas itu dengan perlahan-lahan dengan heran.
"Apa maksudmu? Kenapa tertulis tidak ada hubungan suami istri!" ucapnya terkejut.
"Apa kamu tidak ingin melihat tubuhku yang seksi ini? Alangkah tidak beruntungnya dirimu Aruhi, di malam pertama kamu membuat peraturan konyol seperti …"
"Ven, cukup aku membuat peraturan seperti ini, agar kita bisa lebih dekat!" selaku padanya yang berbicara omongan kosong.
Sepertinya Vendrik sedikit kesal dengan peraturan yang ku buat, dia bahkan merbahkan tubuh sembari menarik selimut tanpa berbicara sepatah kata pun. Melihat Vendrik diam membuat ku sedikit kecewa, ia bahkan tak mengatakan setuju atau tidak. Dia justru meninggalkan ku tidur. Namun hatiku sedikit lega karena Vendrik tidak menyentuh ku malam ini.
__ADS_1
Beberapa minggu kemudian. Seperti biasa aku menjadi istri pada umumnya yang menyiapkan makanan untuk suamiku. Vendrik adalah suami yang baik, dia melakukan tugas sebagai suami sekaligus ayah untuk Ayaan, tanpa mempermasalah kelahiran Ayaan.
"Pagi sayang," sapanya padaku dengan romantis.
"Pagi, Ven kita tak terlalu dekat dengan sebutan sayang!" tegas ku padanya yang seriap hari membisikkan kata indah pada pagiku.
"Apa kamu lupa? Kita ini suami istri, jadi wajar dong sebagai pasturi mengucapkan itu, apa kamu tidak suka aku yang tampan ini mengucapkan kata sayang?" ucapnya kembali dengan wajah memelas.
"Ckc, aku fikir dia berubah, tapi masih saja narsis seperti biasa!" batinku kesal menatapnya.
Beberapa jam kemudian, mereka berdua lekas pergi dari rumah menuju TK dan kantor. Vendrik yang berada di dalam mobil memintaku mendekat. Tanpa basa basi aku pun mendekatinya. Sebuah kecupan manis yang tiba-tiba saja pria itu berikan padaku. Membuat Ayaan yang berada di depan tersenyum, dengan tangan Vendrik yang menutup mata Ayaan.
"Vendrik …!" teriakku kesal. Ia pun melajukan mobilnya. Mentapa diriku di kaca sepion mobil yang menjauh.
Kecupan pagi itu membuat pipiku merah merona seperti buah leci yang manis terasa, hatiku tiba-tiba saja bermekaran seperti puber kedua. Sampai akhirnya aku tidak pokus dengan pekerjaan yang sedang ku lakukan.
__ADS_1
"Ruhi, kenapa tangkai bunganya kamu potong pendek begitu?" tegur ibu yang melihat ku yang sedari tadi tak pokus.
"Tangkai apa Buk?" kembali tersadar melihat bunga yang ku hias berantakan.
"Ini kenapa bunganya bisa ke gini, Bu?" tanyaku terkejut.
"Loh, kok tanya balik? Bukanya ini pekerjaan mu?" ucapnya padaku dengan menyipit.
"Ruhi, apa terjadi sesuatu?" tanya ibu dengan heran padaku, karena sedari tadi diriku terlihat melamun.
"Apa, Vendrik memperlakukan mu kasra?"
Berbagi pertanyaan beliau lontarkan dengan penasaran seolah-olah aku harus menjawab semua rasa penasaran itu. Ia bahkan meminta ku duduk tanpa mempedulikan pesana yang menumpuk.
Dengan hela nafas yang panjang aku mulai menceritakan pada ibu. Diriku bahkan tak malu-malu menceritakan kisah manis yang ku rasakan pagi tadi, dengan senyum manis ibu malah mengatakan hal tak terduga yang membuat ku semakin berdegum kencang.
__ADS_1
Bersambung......