
Ucapan ibu masih terngiang di kepala, bohong jika diriku tak memperhatikan kemiripan anakku, dengan pria narsis seperti Vendrik Leonard Edwin. Pria itu beberapa bulan sudah tinggal disini bersebelahan dengan rumah ku, yang dulu penghuninya seorang tuan tanah. Lalu berpindah kepemilikan dengan pria narsis seperti Vendrik.
Dia seringkali mampir ke toko, dengan alasan membeli bunga, awalnya aku biasa-biasa saja . Tapi aku mulai tak nyaman karena ia terlalu akrab dengan Ayaan.
Bahkan ibu juga ikut akrab dengan pria tersebut. Di Sore hari aku masih berada di toko bunga, menikmati secangkir kopi hangat menatap langit yang terlihat mendung, seperti hatiku yang kian hari hampa.
"Ruhi … ternyata kamu masih disini!" ucap ibu mengagetkan ku yang tengah melamun menatap langit yang terlihat mendung.
"Kapan ibu datang?" tanyaku sembari membuyarkan lamunan ku.
"Sejak tadi, ibu sudah memperhatikan kamu. Ruhi apa kamu tidak berkeinginan untuk menikah?" ujarnya menatapku.
"Buk, aku masih belum menemukan orang yang tepat menerima masa laluku, jadi aku tidak ingin terburu-buru menikah!" ucapku.
"Apa kamu tidak kasihan melihat Ayaan yang tidak memiliki ayah?" ucap beliau kembali, sambil menyeduh kopi.
__ADS_1
Mendengar hal itu membuatku terdiam, kala mengingat ucapan anak itu sambil menangis, bohong jika aku tak memperhatikan keinginan Ayaan, yang ingin memiliki seorang ayah, tapi aku tidak ingin hanya mencari pendamping hidup lalu ia tak dapat menerima masa laluku dan Ayaan.
"Ayaan dimana, Buk?" tanya ku mengalihkan topik pembicaraan.
"Dia sedang belajar," ucap beliau duduk sambil menyeruput kopi hangat yang ia buat tadi.
Lagi-lagi suasana sepi mengusik kami, ibu kembali terdiam menatap koran yang tak sempat ia baca tadi pagi, aku hanya duduk melanjutkan lamunku sambil menatap awan mendung. Hingga seorang pria jakung bertubuh kekar menuju toko yang sudah kututup.
"Permisi apa tokonya masih buka?" ucap pria itu masuk kedalam.
Seperti ungkapan pepatah lama, dia seperti jelangkung datang tak diundang pulang tak diantar, pria itu berdiri sambil memasukan tangannya ke dalam saku sembari menatap ku.
"Aruhi …!" panggil ibu dengan nada tinggi.
"Tidak apa-apa tante, mungkin nona Aruhi sedang bad mood!" ucap pria itu tersenyum.
__ADS_1
"Ckc, apa-apaan manusia ini!" batinku berdecak kesal menatapnya.
"Sebenarnya kedatangan saya kesini. Mau melamar Nona Aruhi!" ucap pria itu dengan ekspresi serius.
Membuat ibu terkejut saat mendengar keberanian pemuda yang lebih tua 2 tahun dariku. Memang ku akui selain narsis ia juga tak tahu malu.
"Apa kamu sudah gila!" bentakku kembali menatap pria itu.
"Apa aku terlihat gila. Aku serius melamar mu Nona Aruhi!" tegas pria itu pada kami.
"Kita duduk dulu, Nak," ucap ibu mempersilahkan pria itu duduk, karena sedari tadi ia hanya berdiri di depan kasir.
"Ibu, kenapa harus mempersilahkan manusia narsis ini duduk. Hey, selain narsis kamu juga tidak tahu malu iya, lebih baik kamu pergi dari sini!" usir ku padanya sambil mengeratkan gigi menatap pria itu.
Pria itu tak bergeming saat aku mengusirnya. Dia justru dengan pede masuk kedalaman sambil duduk di meja yang ibu persilahkan untuknya. Ibu mulai menanyakan alasan pria itu ingin meminangku, alasan dan tawaran yang tak bisa ditolak justru membuat ibu menerima tawaran tersebut.
__ADS_1
Aku justru menentang keputusan ibu yang lebih memihak pria narsis menyebalkan itu. Dengan penolakan tegas ibu tak bisa berkata apapun padaku. Pria itu pulang dengan cercaan pedas dariku, namun ia malah tersulut untuk menaklukkan kerasnya aku.
Bersambung...