
"Dari pada lu bertengkar, mending kita pergi ke bar, buat ngerayain datangnya si narsis!" seru Dion pada mereka.
Dengan wajah licik, Farhan mulai merencanakan sesuatu. "Gue kerjain lu!" batin Farhan, menatap Vendrik licik.
"Apa-apan mata lu?" tanya Andi yang sedari tadi memperhatikan Farhan.
"Lets go, brey!" ungkap Farhan bersemangat, tanpa menghiraukan pertanyaan Andi.
Mereka pun lekas beranjak dari kafe menuju bar. Dion memesan kamar VIP. Disana mereka berempat duduk ditemani beberapa pelayan cantik di bar tersebut. Ketiga teman Vendrik bertanya hal vulgar padanya, Vendrik terlihat bodo amat karena pertanyaan itu. Dia justru menghindarinya, Farhan yang melihat tingkah Vendrik justru menyulut api kembali.
"Jangan-jangan lo gak pernah tidur ya sama Rohana?" tanya Farhan menyipit, sepertinya pria gemuk itu mengharapkan sesuatu dari jawaban Vendrik.
Tentu saja Vendrik lagi-lagi tak mengindahkan kata-kata Farhan, ia justru mengambil sebotol Wiski lalu menuangkannya ke dalam gelas. Melihat reaksi Vendrik yang tak peduli, justru membuat Farhan geram.
"Ven, lu kan tampan, masa iya lu ngak pernah ngelakuin 'itu' sama Rohana, sayang bangetkan body gitar ke gitu lu anggurin!" ucap Farhan dengan bibir tersungging miring.
BRAKk….
__ADS_1
Suara gelas yang di hentakan kasar di atas meja. "Haha, lu akhirnya ngakuin gue tampan!" celetuk Vendrik yang setengah sadar.
"Farhan, ngapain lu bahas Rohana lagi sih? lu sengaja ya bikin Vendrik kesal?" tanya Andi menatap Farhan yang tengah bersandar manis di dada wanita-wanita cantik itu.
"Gua cuma tanya doang, emang salah ya gue tanya itu?" ujar Farhan yang tengah berpura-pura.
"Ya jelas salah lah, lu kan tau Vendrik itu baru putus sama tuh cewek, lah lu malah mengungkit hal itu!" sela Dion.
Farhan terdiam sambil mengumpat dalam hati menatap kedua sahabatnya yang membela Vendrik. "Dasar brengsek, gue–kan cuma tanya doang, emang di luar negeri dia gak main-main sama cewek apa, pasti nih orang paling jago di ranjang," batin Farhan menatap kesal Vendrik yang sudah mabuk.
Kadar alkohol yang Vendrik minum memang tak terlalu tinggi, tapi bisa membuat pria itu mabuk karena ia tak terbiasa minum. Farhan yang melihat Vendrik mabuk, memanfaatkan kesempatan ini untuk memberi pelajaran pada Vendrik karena membuat dia terlalu kesal.
"Dasar babi mesum, malah duluan cabut!" sahut Andi menatap Dion yang tengah mengandeng gadis di sampingnya.
"Santai cok, lu anterin Vendrik ke mobilnya habis itu lu bisa gandeng cewek cantik di sebelah lu!" ujar Dion kembali meledek Andi.
Karena dua sahabatnya setipe laki-laki yang tak suka bermain dengan wanita, mereka menganggap wanita adalah ratu yang mereka layani tanpa harus menyakitinya, berbeda dengan Farhan dan Dion dua pria ini adalah player yang sangat-sangat dihindari para kaum hawa. Meskipun Farhan tak memiliki postur tubuh bagus, tapi wajahnya sangat lumayan, apa lagi dompetnya selalu terisi kartu debit emas, yang mana wanita mana pun akan tertarik padanya.
__ADS_1
Sedangkan Dion memiliki penampilan bak atlet sepak bola, kulit hitam manis yang membuat wanita kesengsem padanya. Sementara Andi adalah pria yang disebut alim, dia sangat-sangat menghindari yang namanya menyakiti wanita.
"Ogah, gue gak kaya lu, ati-ati ntar lu kena HIV!" ledek Andi balik.
"Astaga do'a lu pedes juga!" ujar Dion kembali, sembari meninggalkan ruangan itu. Farhan menatap dua kawanya.
"Apa lo liat-liat, lu mau pergi juga!" ketus Andi.
"Gak gue disini kok!" jawab Farhan menggaruk tengkuk kepalanya.
Suara senyap telpon dari saku Andi, membuatnya lekas mengangkat telepon itu, suara bising yang terdengar di luar, membuat Andi keluar dari ruangan.
"Farhan, gue titip Vendrik ya."
"Okey sip," dengan senyum licik.
Dua wanita yang bersama Farhan ikut keluar karena perintah pria itu, Farhan lalu melancarkan aksinya menaruh obat perangsang di dalam minuman Vendrik, dia memaksanya minum kembali, Vendrik yang setengah sadar meminumnya. Farhan lalu memesan hotel menggunakan namanya, kemudian Farhan membawa Vendrik keluar dari ruangan itu.
__ADS_1
Bersambung......