Terjerat Pernikahan Dengan Pria Narsis

Terjerat Pernikahan Dengan Pria Narsis
Bab 20: Ada Apa Dengan Fania?


__ADS_3

   Setelah menceritakan semuanya, suara hendphond berdering membuat pembicaraan kami terhenti lekas ku berdiri mengambilnya. 


"Halo?" sapanya. 


"Iya halo?" sapa ku kembali.


"Apa ini Aruhi?" tanya dia padaku. 


"Iya saya sendiri, ini dengan siapa ya?" tanya ku dengan penasaran. 


"Aku Fania, teman kamu," ujarnya.


"Ouh, Fania kepala menejer Queen itu. Aku kira siapa," ucapku. 


Setelah sekian lama, Fania menelepon ku, dia menceritakan semua tentang dirinya yang tak lagi bekerja di hotel. Fania sendiri sudah pindah ke kota yang sama dengan ku tapi berbeda tempat. Dia bekerja sebagai asisten di suatu perusahaan ternama. Aku tidak tau perusahaan apa itu, yang jelas aku bahagia karena Fania masih mengingat ku. Selesai menelepon kami berdua membuat janji temu pada hari minggu.


Aku fikir pertemuan ini adalah hal baik namun aku salah, Fania yang ku kenal lima tahun lalu sangatlah berbeda saat ini. Dia yang selalu berpakaian sopan kini menampilkan tubuh seksi dan bohay. Yang ku sesali bukanlah pertemuan kita, tapi diriku yang mengundang mu bertamu di rumah ku. 


Hari minggu Vendrik dan Ayaan berada di rumah, memang sudah menjadi runitas Vendrik mengutamakan aku dan Ayaan. Dia orang yang peka meskipun memiliki sifat narsis.

__ADS_1


"Ven, aku boleh gak ngundang teman ku ke sini?" Meminta izin pada Vendrik yang tengah duduk bersama Ayaan. 


"Ya tentu boleh dong sayang ini'kan rumah mu juga!" ujarnya mendekat, membuat jantung ku tiba-tiba saja berdetak cepat. 


Vendrik yang melihat ku malu-malu tersenyum manis. Dengan salting diriku pun bergegas bangun mengambil hendphon yang berada di nakas. Lalu mengirim alamat rumah ku pada Fania. Tak lama kemudian Fania sudah berada di depan rumah.


"Hay. Selamat datang Fania," ujarku.


Fania yang berdiri di pintu rumah ku suruh masuk kedalam. "Ruhi ini rumahmu?" tanya dia padaku. 


Tanpa ucapan aku hanya menganggukkan kepala. Dengan gaya seperti nyonya aku pun meminta para pelayan melayani Fania dengan baik. Kami pun kembali berbincang banyak. Sampai dia menceritakan hal serupa yang pernah ku tanyakan padanya. 


"Iya, tidak masalah, aku juga salah pada waktu itu."


"Apa kamu sudah menemukan ayahnya?" tanya Fania kembali menatapku. 


Mulutku masih terdiam tanpa mengeluarkan sepatah kata apapun, pembicaraan yang nyaman kini berubah canggung. Pertanyaan yang di lontarkan Fania padaku sangat tidak membuat ku nyaman. Sedangkan Fania masih menunggu jawaban dari yang ia lontarkan padaku. 


"Sebaikanya kita makan kue putu, buatan para pelayan disini sangat enak." Mengalihkan topik pembicaraan. 

__ADS_1


Terlihat sorot mata kesal saat diriku berusaha mengalihkan pembicaraan. Suasana menjadi canggung, kini mata Fania tertuju pada foto yang berada di atas nakas. 


"Fa …, ania kamu kenapa?" tanyaku terkejut saat ia meremas kasar sofa yang kami duduki. 


"Gak ada, aku pulang dulu," ujarnya bangun dari duduknya. 


"Se …, secepat ini, kita berduakan baru saja duduk, lagian makan siangnya akan segera datang," ujarku merahi tangannya. 


"Maaf ya Ruhi, sepertinya aku ada urusan di rumah," ucapnya tersenyum tipis. Seolah-olah ia tak nyaman berada di rumahku. Membuat ku semakin heran padanya. 


"Tamu kamu udah pulang?" tanya Vendrik. Menuruni anak tangga. 


"Iya, dia sudah pulang," ucapku lirih. Hati kecil ku masih mengganjal, karena tiba-tiba saja raut wajah Fania berubah drastis, saat ia menatap foto yang terpajang di atas nakas. 


"Terus wajah kamu kenapa? Tadi pagi semangat banget pas minta izinnya, pas udah ketemu kenapa jadi cemberut gitu?" ucap Vendrik mendekatiku. 


"Ah, gak tau." Sambil memonyongkan bibir. 


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2