Terjerat Pernikahan Dengan Pria Narsis

Terjerat Pernikahan Dengan Pria Narsis
Bab 39: Penculikan


__ADS_3

  "Tidak mungkin Ayahku berbuat hal keji pada ibumu!" bantah Vendrik menatap tajam Nathan. 


"Kalau begitu tanyakan saja pada Ayahmu. Jika kau bisa selamat dari tempat ini!" ujar Nathan senyum sinis. 


Vendrik terdiam seribu bahasa, ia masih tak menyangka ayahnya berbuat hal kotor pada seorang wanita. Disisi lain aku memberontak menarik pintu keluar dengan berharap, pintu tersebut akan terbuka. 


"Argh …, sial …, sial!" umpatan kasar terus keluar dari mulutku, dengan kaki yang terus menendang pintu, hingga terdengar suara ledakan tempat Vendrik di sekap. 


"A-apa itu?!" ucapku terkejut. 


Suara kaki dengan cepat menuju ruangan tempatku dikurung. "Aruhi! kita berdua harus segera pergi!" ujar Nathan berlari menuju ku. 


"Apa yang terjadi! dimana Vendrik?" ucapku terkejut mencari suamiku yang tak kembali dari ruangan yang berbeda. 


"Kita berdua akan pergi! Jadi ikutlah bersamaku!" titah Nathan mendominasi diriku. 


"Tidak, aku hanya akan keluar jika suamiku juga keluar!" bantahku padanya. 


Mendengar kata suami yang keluar dari mulutku, tentu Nathan menatap ku dengan emosi hingga ia menendang pintu itu dengan keras. 


"Mau tidak mau, kamu harus ikut bersama ku?!" perintah Nathan yang sudah naik pitam membuat ku terkejut. Ia pun menyuntikan obat bius padaku, sehingga tubuhku berhamburan di pelukannya.  


*******

__ADS_1


Aku terbangun di tempat ruangan yang berbeda, langit-langit ruangan itu terlihat bergaya klasik, hingga mataku terbelalak lebar menyadari diriku sudah berada di tempat asing, suara debur ombak membuat ku cepat menyadari, bahwa aku sedang berada di pinggir pantai. 


Hingga suara pintu mengagetkan ku. "Apa kamu sudah bangun, Ruhi!" tanya Nathan sembari memegang seporsi makanan di tangannya. 


"Lepaskan aku! apa mau mu sampai harus bertindak kriminal seperti ini Nat!" ucapku memberontak.


"Aku hanya menginginkan mu saja, aku tau kamu mencintai ku 'kan?" tanya Nathan dengan intens menunggu jawabanku. 


"Persetan! aku tidak mencintaimu lagi, karena dirimu aku hampir kehilangan dua orang paling berharga dalam hidupku!" pekikku menatap tajam pria itu.


Plak… 


Tamparan keras mendarat di pipiku, sempat ingin memberontak, tapi tak sadar tangan ku ternyata sudah diikat menggunakan tali tambang di antara sisi ranjang. Dengan kuat ku tarik tanganku hingga meninggalkan bekas memar di antara pergelangan tanganku. 


Nathan dengan emosi mencengkram kedua pipiku. "Dengar baik-baik, besok kamu akan menjadi pengantin ku! Jika kamu berulah, aku pastikan akan terus menyiksa kamu?!" 


Ancaman Nathan membuat bulu kudukku merinding. Nathan yang dulu memiliki sifat hangat dan bijaksana, berubah menjadi monster tak kenal ampun padaku. 


"Apa yang membuatmu seperti ini, Nat, apa karena aku!" tanya ku lirik menatap pria dingin tak berperasaan di depan ku.


Nathan melepaskan cengkeram di wajahku. "Cepat masuk!" titah Nathan. 


Dua orang yang berpakaian seperti maid masuk kedalam, pertanyaan ku justru ia abaikan. "Persiapkan dia dengan baik, buat dia menjadi pengantin yang paling cantik!" titah kembali Nathan. 

__ADS_1


"Nathan aku tidak akan menikahimu, aku membencimu?!" pekik ku lantang, hingga Nathan menghentikan sejenak langkah kakinya, lalu kembali berjalan. 


Aku bahkan tidak tau tanggal berapa, dan hari apa sekarang yang hanya ku tau, ingatan ketika Nathan membawaku pergi dari suamiku. Sesaat itu juga aku mulai menyadari perasaan ku pada Vendrik. Dengan air mata yang terjatuh, aku sangat menyesalinya. 


"Vendrik dimana kamu!" batinku menahan sesak di dada. 


"Tolong, apa kamu punya Hp?" tanyaku memohon pada dua orang wanita yang berpakaian maid itu. 


Mereka justru terdiam tanpa sepatah kata apapun. Hingga seorang wanita paruh baya masuk kedalaman kamar mandi. "Apa kalian sudah membersihkan nona muda ini?" tanya wanita itu, dengan bahasa asing tak ku pahami. Mereka berdua serempak menjawab. 


Sejenak ku memperhatikan logat bahasa mereka, benar saja mereka bertiga berbahasa prancis. Aku pun mencoba berbicara menggunakan bahasa inggris. 


"Sorry, saya berada di mana?" tanyaku menggunakan bahasa inggris. 


"Roma," jawab wanita paruh baya tersebut dengan cepat. 


"Um …, sudah berapa hari saya disini?" tanyaku kembali. 


"Empat hari!"


"Apa! empat hari!" ucapku terkejut. 


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2